Jakarta

Negara Mana Paling Ditakuti Israel? Ternyata Bukan Arab atau Amerika, Tapi Negara Ini...

M Rahman Akurat | 9 November 2023, 12:28 WIB
Negara Mana Paling Ditakuti Israel? Ternyata Bukan Arab atau Amerika, Tapi Negara Ini...

AKURAT JAKARTA - Banyak orang bertanya-tanya, kenapa Hamas Palestina sekarang begitu tangguh. Tiba-tiba memiliki rudal canggih yang mampu menjebol pertahanan Israel.

Tak sampai di situ. Hamas juga memiliki terowongan bawah tanah sepanjang 500 kilo meter, yang jadi tempat persembunyian dan bunker persenjataan.

Dari mana Hamas dapat rudal-rudal canggih itu? Dari mana duit untuk membiayai pembuatan terowongan bawah tanah seluas dan sepanjang itu.

Teka-teki terkait siapakah pihak yang menyokong serangan Hamas ke Israel masih terus berupaya untuk dipecahkan.

Baca Juga: Konser Musik Dangdut Gratis! Ada Alfin Habib, Viants Arvy dan Risa KDI, Cek Jadwalnya di Sini

Namun beberapa pihak mengarahkan jarinya kepada Iran. Inilah negara yang paling ditakuti Israel. Bukan Arab Saudi atau Amerika. Israel paling takut dengan negara Iran.

Hamas sendiri telah membangun labirin di bawah tanah selama hampir satu dekade. Beberapa terowongan memiliki kedalaman 70 meter di bawah tanah untuk menyimpan senjata dan cadangan makanan.

Menurut laporan Rand Corporation, Hamas memperkerjakan 900 orang untuk membangun sistem terowongannya itu.

Hamas juga dilaporkan telah mengirim tim engineer ke Iran untuk belajar soal persediaan listrik, ventilasi, dan pengairan di dalam terowongan.

Benarkan Hamas disokong persenjataan dan dana dari Iran? Belum ada pihak yang dapat membuktikan dugaan tersebut. Yang pasti, Iran sangat senang dengan keberhasilan Hamas memborbardir Israel.

Baca Juga: Mau Nonton Konser Gratis RAN dan Bertemu Maudy Ayunda di Pos Bloc Jakarta? Cek Jadwalnya di Sini

Mengutip laporan situs berita resmi ISNA, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei mengucapkan selamat kepada para pejuang Palestina, beberapa jam setelah Hamas membombardir Israel.

"Kami akan mendukung para pejuang Palestina sampai pembebasan Palestina dan Yerusalem," kata penasihat Khamenei, Yahya Rahim Safavi.

Televisi pemerintah Iran juga menunjukkan para anggota parlemen berdiri dari tempat duduk mereka dan meneriakkan: "Matilah Israel".

"Dalam operasi ini, unsur kejutan dan metode gabungan lainnya digunakan, yang menunjukkan kepercayaan diri rakyat Palestina dalam menghadapi penjajah," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, pada Sabtu (7/10/2023) lalu.

"Langkah tegas yang diambil oleh Palestina merupakan pertahanan yang sepenuhnya sah terhadap pendudukan yang menindas selama tujuh dekade dan kejahatan keji yang dilakukan oleh rezim Zionis yang tidak sah," sambungnya.

Baca Juga: Dukung Produk Lokal! Bazar UMKM Untuk Indonesia Digelar Hari Ini, Ada Adellia Michelle

Presiden Iran, Ebrahim Raisi, mengatakan bahwa Israel telah "melampaui garis merah" di Gaza. Ia menyebut situasi yang ditimbulkan Israel kemungkinan memaksa semua orang untuk mengambil tindakan.

"Kejahatan rezim Zionis telah melewati garis merah, yang mungkin memaksa semua orang untuk mengambil tindakan," kata Raisi.

Serangan militer Israel yang kian gencar di Gaza, telah menimbulkan kekhawatiran bahwa akan ada lebih banyak front yang terbuka.

Iran bersekutu dengan Hamas dan juga Hizbullah dari Lebanon, terlibat dalam baku tembak dengan Israel dalam beberapa waktu terakhir.

Dilansir The Guardian, beberapa front di Israel kini makin kosong, setelah berulang kali terjadi serangan roket dan rudal serta bentrokan perbatasan dalam beberapa hari terakhir dengan Hizbullah dan Hamas Palestina.

Baca Juga: Warga Jakarta Merapat!  Hari Ini Ada Konser Gratis The Changcuters dan Aldi Taher di Batavia PIK

Suasana di seluruh Israel sedang kacau. Kepercayaan rakyat terhadap tentara dan negara kian memudar.

Sejak didirikan pada tahun 1979, Republik Islam Iran telah mendukung kelompok Palestina dalam perjuangan mereka melawan pasukan Israel.

Pengaruh Teheran dalam konflik Palestina-Israel semakin meningkat secara signifikan, terutama dengan munculnya Hizbullah di Lebanon dan Jihad Islam Palestina (PIJ) di Jalur Gaza.

Revolusi tahun 1979 juga menandai berakhirnya hubungan dekat Iran dan Israel, mengubah mereka menjadi musuh bebuyutan, dengan ancaman perang habis-habisan.

Tak heran selama 75 tahun terakhir, hubungan antara Iran dengan Israel mengalami fluktuasi yang sangat dramatis. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.