Asal Usul Boyolali, Saat Nyi Ageng Kaliwungu Merajuk Karena Ditinggal Ki Ageng Pandanarang

AKURAT JAKARTA - Boyolali merupakan salah satu Kabupaten yang menjadi sentra susu di Jawa Tengah.
Bahkan, kabupaten dengan jumlah penduduk 1,1 juta jiwa itu merupakan penghasil susu segar terbesar di Jawa Tengah.
Wajarlah apabila Boyolali dijuluki sebagai Kota Susu.
Baca Juga: Ketika Macan Kemayoran Tumbang Melawan Jawara Tanah Abang
Asal-usul Boyolali tidak bisa terlepas dari kisah perjalanan Ki Ageng Pandanarang dan istrinya, Nyi Ageng Kaliwungu, menuju Gunung Jabalkat berdasarkan perintah Sunan Kalijaga.
Dikutip dari Cerita Rakyat Kabupaten Boyolali, Ki Ageng Pandanarang adalah Bupati Semarang yang meski sudah kaya raya, tapi masih gemar memikirkan masalah duniawi.
Sampai-sampai, Ki Ageng Pandanarang melupakan tugas utamanya dari Wali Songo, yaitu menyebarkan agama islam.
Baca Juga: THR Sudah, Kapan Gaji Ke-13 akan Segera Dicairkan? Simak Jadwalnya Berikut Ini
Forum Wali Songo lalu mengutus Sunan Kalijaga untuk menyadarkan Ki Ageng Pandanarang.
Untuk menyadarkan Ki Ageng Pandanarang, Sunan Kalijaga lalu pergi menyamar sebagai penjual rumput.
Sunan Kalijaga lalu yang menjual rumputnya kepada Ki Ageng Pandanarang.
Setelah rumput Sunan Kalijaga itu dibeli Ki Ageng Pandanarang
dengan harga murah, Bupati Semarang itu keheranan karena di dalam ikatan rumput itu terselip sebilah keris berpamor indah dan terbuat dari emas.
Baca Juga: Jalan Sudirman-Thamrin Jakarta Kembali Ramai Kendaraan Bermotor
Suatu ketika, Ki Ageng Pandanarang mengadakan pesta syukuran karena telah selesai memugar istananya.
Seluruah Bupati di pantai utara Pulau Jawa diundang.
Sunan Kalijaga ikut hadir dalam pesta syukuran ke istana Ki Ageng Pandanaran, kali ini menyamar sebagai rakyat jelata.
Baca Juga: Gelar Mudik Gratis, Kemenhub: Efektif Kurangi Angka Kecelakaan
Ki Ageng Pandanarang mengira Sunan Kalijaga hanya rakyat biasa yang ingin numpang makan.
Sunan Kalijaga keluar dari pendapa istana, lalu kembali lagi ke pesta syukuran, kali ini dengan mengenakan pakaian serba mewah.
Ki Ageng Pandanaran lalu menyambut tamu yang mengenakan pakaian mewah itu segera menyambutnya dengan ramah.
Baca Juga: Hari Ini, MK Jadwalkan Penyerahan Kesimpulan Sidang Sengketa Pilpres 2024 dari Semua Pihak
Saat para tamu diajak Ki Ageng Pandanarang mengelilingi istana, Sunan Kalijaga berkomentar bahwa istana Ki Ageng Pandanarang memang indah dan megah.
Namun, sayang keindahan dan kemegahan istana itu membuat orang lupa daratan.
Ki Ageng Pandanarang tidak merasa tersindir oleh ucapan dari Sunan Kalijaga.
Baca Juga: Libur Lebaran Usai, Hari Ini Ganjil Genap di Jakarta Kembali Berlaku
Upaya Sunan Kalijaga menyadarkan Ki Ageng Pandarang belum juga membuahkan hasil.
Di kesempatan lain, Sunan Kalijaga menyamar lagi, kali menjadi seorang pengemis.
Dengan mengenakan pakaian compang-camping, Sunan Kalijaga datang ke Kadipaten Semarang dan mendapati Ki Ageng Pandanarang sedang asyik menghitung uang di pendapa istana.
Baca Juga: Pemudik Waspada, Bahaya Mengonsumsi Minuman Berenergi Saat Kelelahan
Ki Ageng Pandanarang memberikan uang kepada pengemis itu.
Namun, pengemis menolaknya.
" Hamba tidak meminta uang," kata pengemis itu.
Baca Juga: 551 Kendaraan Terkena Tilang Elektronik di Sejumlah Wilayah di Jabodetabek.
"Hamba hanya meminta suara suara bedug di masjid Semarang. Tuan jangan hanya memikirkan kekayaan saja, karena hidup ini hanya sementara."
"Harta benda itu tidak akan dibawa mati. Di surga kita tidak akan kekurangan barang yang serba indah, apa pun yang kita kehendaki pasti ada."
"Ibaratnya, sekali mencangkul mendapatkan emas satu bongkah."
Baca Juga: Resep Kue Lebaran Dadar Gulung, Rasanya Bikin Nagih Gampang Dibuat di Rumah
Mendengar ada rakyat jelata yang mengajukan permintaan dengan cara tidak sopan, Ki Ageng Panadanarang sangat marah.
"Saya tidak akan menuruti pennintaanmu. Perkataanmu itu hanya omong kosong belaka," katanya.
"Kalau Tuan ingin sebongkah emas maka dalam waktu sekejap hamba dapat memberikan nya," sanggah pengemis itu seraya mencangkul tiga kali lalu melemparkannya ke hadapan Ki Ageng
Pandanarang.
Ki Ageng Pandanarang marah, tetapi begitu melihat tanah itu berubah menjadi emas, ia diam terpaku.
Baca Juga: Pendatang Baru ke Jakarta Usai Lebaran 2024 Mengalami Penurunan, Ini Penyebabnya
"Pengemis ini bukan pengemis biasa, ia mempunyai kelebihan," gumam Ki Ageng Pandanarang.
Ki Ageng Pandanarang kini menyadari kalau selama ini sedang mendapat berbagai ujian.
"Maafkanlah saya Kiai, karena saya telah menghina dan meremehkan Kiai," kata Ki Ageng Pandanarang lembut.
Baca Juga: Golok Betawi dan Kisah Tragis Cinta Si Jampang: Ditolak Mayangsari dan Mati Dibedil Kompeni
"Mulai hari ini saya ingin berguru kepada Kai. Saya akan menuruti perintah Kiai," tambah Ki Ageng Pandanarang.
"Kalau Ki Ageng benar-benar ingin berguru, saya tidak keberatan asalkan Ki Ageng mau menuruti semua permintaan saya," jawab si pengemis itu kepada Ki Ageng Pandanarang.
"Saya akan memenuhi semua permintaan Kyai. Sebutkanlah satu persatu," kata Ki Ageng Pandanarang tanpa ragu.
Baca Juga: Simak 3 Suplemen yang Efektif Membantu Turunkan Berat Badan, Apa Saja?
"Ada tiga permintaanku. Pertama, mulai hari ini Ki Ageng harus beribadah, beriman, membuat Langgar (musala) yang dilengkapi dengan bedug, merawat para santri, serta menyebarkan agama islam di Kadipaten Semarang," jelas si pengemis.
"Yang kedua, Ki Ageng harus berzakat secukupnya. Permintaanku yang ketiga, Ki Ageng harus meninggalkan Kadipaten Semarang dan tinggal di Jabalkat di daerah Tembayat," tegas si pengemis.
"Semua permintaan Kiai akan saya laksanakan," jawab Ki Ageng Pandanarang.
Baca Juga: Bencana Longsor di Tana Toraja Telan 18 Korban Jiwa, Berikut Daftar Para Korban
"0, ya. Saya sampai lupa menanyakan nama Kyai," tanya Ki Ageng Pandanarang.
"Namaku Syeih Malaya," kata si pengemis.
Dalam sekejap saja pengemis itu lenyap dari pandangan mata Ki Ageng Pandanarang.
Baca Juga: Jangan Lewatkan Pemandangan Eksotis 4 Candi Besar saat Melewati Magelang, Dijamin Arus Balik Lebaran Idulfitri Kamu Berakhir Membahagiakan
Tinggallah kini Ki Ageng Pandanarang duduk termenung di pendapa istana.
Ki Ageng Pandanarang segera pergi meninggalkan istana. Istrinya, Nyi Ageng Kaliwungu, memutuskan ikut dengan sang suami dan membawa putra bungsunya yang masih kecil, Pangeran Jiwa.
Dengan mengenakan pakaian serba putih, Ki Ageng Pandanarang dan istrinya meninggalkan Kadipaten Semarang menuju ke Jabalkat tanpa pengawal satu pun.
Baca Juga: Catat Kategori ASN yang Wajib WFO Mulai Besok, Selasa 16 April 2024
Di tengah hutan mereka dihadang dua orang perampok. Singkat cerita, ke dua perampok itu mampu dikalahkan Ki Ageng Pandanaran.
Ke dua perampok itu, Syeih Domba dan Syeih Kewel, mengakui kesalahannya dan minta maaf kepada Ki Ageng Pandanarang.
Mereka lalu memutuskan mengabdi kepada Ki Ageng Pandanarang.
Baca Juga: Asal Usul Condet di Jakarta Timur: Diambil dari Nama Pangeran, Semasa Gubernur Ali Sadikin Pernah Berstatus Cagar Budaya Masyarakat Betawi
Ki Ageng Pandanarang dan Nyi Ageng Kaliwungu kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur, sementara Syeih Domba dan Syeih Kewel berjalan di belakang.
Perjalanan mereka sampai melewati Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang dari jauh nampak bagaikan dua gunung kembar.
Ki Ageng Pandanarang terus berjalan menyusuri sepatang Sungai
Sengon.
Baca Juga: Berikut Ini adalah Cara Mendaftar Sebagai Pembeli Elpiji 3 Kg
Hingga, saat matahari tepat diatas kepala, perjalanan Ki Ageng Pandanarang telah sampai di Sungai Tempuran, yaitu pertemuan antara Sungai Sengon dan Sungai Klathakan.
Ki Ageng Pandanarang lalu mengambil air untuk wudlu untuk menjalankan salat duhur di atas batu datar di tengah Sungai Tempuran.
Nyi Ageng Kaliwungu yang sempat tertinggal jauh di belakang akhirnya berhasil menyusul suaminya ketika Ki Ageng Pandarang selesai menjalankan salat duhur.
Baca Juga: Jangan Pulang ke Jakarta Dulu! Manfaatkan Diskon Tarif Tol Tanggal 17-19 April 2024
"Boya wis lali teka Kyai ninggal aku. Sudah lupakah gerangan Ki sehingga meninggalkan aku," kata Nyi Ageng Kaliwungu merajuk.
Tempat ltu kemudian dikenal dengan nama Boyolali.
Dari Boyolali, Ki Ageng Pandanarang dan rombongan menuju ke arah selatan melewati hutan, sawah-sawah, dan perkampungan. Mereka terus berjalan sehingga sampai di Gunung Jabalkat atau Tembayat.
Baca Juga: Asal-usul Julukan Macan Kemayoran untuk Persija Jakarta, Berakar dari Kisah Jawara Betawi di Masa Penjajahan Kompeni
Ia menetap di Tembayat sehingga ia terkenal dengan nama Sunan Tembayat.
Tembayat saat ini masuk wilayah Klaten, Jawa Tengah.*
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Nottingham Forest vs Coventry City di Premier League, 19 September 2026: Mampukah The Sky Blues Hentikan Tren Buruk?
- 2Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Premier League, 19 September 2026: Duel Ketat Dua Tim Papan Tengah di Hill Dickinson
- 3Prediksi Skor Newcastle United vs Hull City di Premier League, 19 September 2026: Misi The Magpies Bangkit dari Kekalahan Telak
- 4Prediksi Skor Stuttgart vs Borussia Dortmund di Bundesliga, 19 September 2026: Bisakah Die Roten Hentikan Laju BVB?
- 5Prediksi Skor Celta Vigo vs Racing Santander di La Liga, 19 September 2026: Mampukah Los Celestes Raih Kemenangan Perdana?
- 6Prediksi Skor Venezia vs Lazio di Serie A, 20 September 2026: Mampukah Biancocelesti Lanjutkan Tren Positif?
- 7Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Deportivo Alaves di La Liga, 19 September 2026: Mampukah Los Leones Balas Kekalahan Musim Lalu?
- 8Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Ligue 1, 20 September 2026: Duel Ketat Dua Tim Belum Terkalahkan
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!



