Jejak Gado-Gado: Warisan Rasa dari Cilincing yang Mendunia

AKURAT JAKARTA - Kuliner Betawi dikenal sebagai perpaduan rasa yang lahir dari pertemuan banyak budaya yang datang dan menetap di tanah Jakarta sejak masa lalu.
Keunikan makanan Betawi terbentuk dari akulturasi Melayu, Jawa, Sunda, Arab, Eropa, hingga Portugis yang memberi warna kuat pada ragam hidangan.
Salah satu kuliner yang paling terkenal dari Betawi adalah gado-gado yang hingga kini menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia.
Baca Juga: 5 Nasi Bebek Madura Paling Enak di Jakarta yang Wajib Dicoba
Banyak orang belum mengetahui bahwa gado-gado diyakini pertama kali berasal dari wilayah Cilincing yang berada di Jakarta Utara.
Pada masa awal, masyarakat Betawi hidup sebagai penduduk agraris dan pesisir yang mengandalkan hasil laut serta hasil kebun sebagai makanan.
Kedatangan bangsa asing ke Nusantara membawa banyak pengaruh baru termasuk kebiasaan mengolah bahan pangan menjadi hidangan bercita rasa unik.
Baca Juga: Kenapa Disebut Nasi Tempong? Jejak Nama Kuliner khas Banyuwangi yang Pedas Nampol
Gado-gado merupakan sajian sederhana berupa campuran sayuran rebus yang disiram bumbu kacang dengan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas.
Bumbu kacang pada gado-gado dipercaya mendapat pengaruh dari Meksiko yang diperkenalkan oleh pedagang Portugis dan Spanyol.
Sejarah mencatat bahwa gado-gado pertama kali dibuat oleh masyarakat Kampung Tugu yang merupakan keturunan Portugis di kawasan Cilincing.
Baca Juga: Pedas Menggoda, Ini 5 Rekomendasi Nasi Tempong Khas Banyuwangi yang Populer di Jakarta
Mereka dibawa ke Batavia oleh Belanda pada abad ke-17 dan kemudian menetap serta membangun komunitas sendiri bernama Kampung Tugu.
Istilah gado-gado sendiri dalam bahasa Portugis memiliki arti campur-campur yang sesuai dengan isi makanan ini yang beragam.
Pada masa lalu, sebutan gado-gado juga sering dipakai untuk menyebut campuran sisa makanan yang biasa diberikan sebagai pakan ternak.
Gado-gado khas Kampung Tugu memiliki ciri bumbu kacang yang lebih encer dan langsung disiram di atas sayuran tanpa diulek bersama.
Isian sayur pada gado-gado Kampung Tugu juga berbeda karena menggunakan daun singkong, daun pepaya, dan daun ubi yang khas.
Dalam perkembangannya, gado-gado terus menyebar ke berbagai daerah Jakarta dengan tambahan bahan seperti tahu, tempe, dan telur.
Versi gado-gado Betawi modern kini memakai kacang panjang, taoge, kol, kangkung, timun, serta kentang yang mudah ditemukan.
Hingga sekarang, gado-gado tetap menjadi bukti nyata bahwa percampuran budaya dapat melahirkan kuliner lezat yang bertahan lintas zaman.
Dari Cilincing menuju seluruh Indonesia, gado-gado menjelma sebagai warisan kuliner yang bukan hanya nikmat tetapi juga sarat nilai sejarah. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





