Jakarta

Berburu Takjil di Pasar Benhil, Sudah Ada Sejak Tahun 1985

Afriadi B | 26 Maret 2023, 21:47 WIB
Berburu Takjil di Pasar Benhil, Sudah Ada Sejak Tahun 1985

AKURAT.CO - Salah satu tempat ngabuburit asyik di Jakarta Pusat adalah Pasar Bendungan Hilir (Benhil). Sempat dua tahun tutup karena pendemi Covid-19, kini kawasan pedagang takjil itu kembali ramai diserbu pemburu makanan untuk berbuka puasa.

Pasar Takjil Benhil mulai ada sejak tahun 1985. Ketika itu, warga sekitar Benhil menyebutnya bazar. Jumlah pedagangnya pun belum banyak, tidak lebih dari 15 penjual gorengan dan minuman. Mereka memajang dagangannya di atas meja. Seiring perjalanan waktu, Pasar Takjil Benhil semakin ramai.

Meski lokasinya kini berbeda, namun penjual takjilnya tetap beragam. Sejak pukul 16.00 WIB, Pasar Takjil Benhil ini sudah ramai dikunjungi para pemburu makanan untuk berbuka puasa.

Warga yang datanag tidak saja berasal dari sekitar Benhil. Banyak juga warga yang secara khusus datang ke kawasan tersebut, memang mencari makanan ringan untuk berbuka puasa.

Aneka gorengan seperti risol, martabak telur, hingga tahu goreng, masih menjadi favorit warga. Banyak juga yang mencari masakan khas Minang, seperti lemang dan tape ketan hitam dan banyak lagi khas daerah lainnya.

Dalam tenda Pasar Takjil Benhil, tidak saja menjual minuman dan makan ringan. Tapi juga menyediakan makanan berat yang khas dan menarik selera.

Selain itu, ada juga makanan berat seperti ayam bakar hingga kue tradisional seperti putu ayu dan combro.

Tak ketinggalan, ada juga sosis bakar, otak-otak bakar, kolak, es buah hingga es semangka India, juga dijual di sini. Semuanya bisa didapat dengan harga yang terjangkau.

"Gorengan semuanya Rp 2.500 per potong. Untuk minuman ini (es buah) Rp 5.000. Ada juga yang Rp 10.000," kata Hindun (45), seorang pejuak takjil.

Bagi yang ingin menu sederhana dan tidak terlalu kenyang, ada es pisang ijo, es teler dan kolak.

"Tahun ini, mulai banyak pembeli lagi. Warga tidak saja membeli makanan ringan, tapi juga makan berat, seperti rendang, kikil dan makanan khas Minang lainnya," kata Jamila (55), pedagang masakan khas Minang. (*)
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.