Waspada Bahaya Jengkol: Ketika Rasa Lezat Menyimpan Risiko Kesehatan

AKURAT JAKARTA - Jengkol, si primadona kuliner khas Nusantara dengan aroma tajam yang khas, kerap menjadi perdebatan antara kenikmatan rasa dan ancaman bahaya di baliknya.
Meskipun bagi sebagian orang jengkol adalah santapan nikmat yang menggugah selera, bagi dunia medis, makanan ini memiliki sisi gelap yang tak bisa diabaikan.
Senyawa utama yang menjadi sorotan dalam jengkol adalah asam jengkolat, zat yang dapat mengkristal di dalam ginjal dan menyebabkan gangguan serius pada saluran kemih.
Fenomena yang dikenal sebagai jengkolisme ini dapat memicu nyeri hebat di perut dan pinggang, kesulitan buang air kecil, hingga kencing berdarah.
Kondisi tersebut bukan hanya menyiksa secara fisik, tapi juga bisa menyebabkan kerusakan fungsi ginjal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
Sebagai senyawa yang sulit larut dalam air, asam jengkolat cenderung menumpuk di tubuh, terutama jika konsumsi jengkol tidak diimbangi dengan asupan cairan yang memadai.
Baca Juga: Kaya Isoflavon, Susu Kedelai Punya Manfaat Dahsyat untuk Kesehatan Pria dan Wanita
Bagi penderita penyakit ginjal, konsumsi jengkol bahkan bisa memperburuk kondisi dan mempercepat kerusakan organ tersebut.
Tak hanya itu, bau menyengat yang ditimbulkan dari urin dan napas pasca makan jengkol juga menjadi efek samping sosial yang kerap membuat tidak nyaman.
Jengkol yang tidak dimasak dengan baik memiliki potensi lebih besar untuk menimbulkan efek racun, sehingga tahapan perebusan dan pengolahan menjadi hal yang sangat penting.
Baca Juga: Manfaat Ikan Gabus, Si Superfood Lokal yang Baik Untuk Kesehatan
Selain itu, konsumsi jengkol juga sebaiknya dihindari oleh ibu hamil karena dikhawatirkan dapat memicu dampak negatif bagi kesehatan tubuh maupun perkembangan janin.
Karena itu, bijaklah dalam mengonsumsi jengkol dan pastikan kondisi tubuh dalam keadaan prima sebelum menyantapnya.
Makan jengkol boleh saja, asal tahu batasnya.
Bagi pencinta jengkol, kenikmatan ini tetap bisa diraih asalkan disertai kesadaran akan potensi risiko yang mengintai.
Baca Juga: Flavonoid: Kunci Alami untuk Kesehatan dan Awet Muda
Langkah sederhana seperti banyak minum air putih dan membatasi porsi bisa membantu mengurangi dampak negatifnya.
Sebagai penikmat kuliner, kita berhak menikmati kelezatan lokal, tapi tetap wajib menjaga kesehatan tubuh agar tak menyesal di kemudian hari.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Getafe di La Liga, 25 Oktober 2026: Mampukah Los Leones Akhiri Tren Negatif?
- 2Prediksi Skor Cagliari vs Bologna di Serie A, 24 Oktober 2026: Siapakah yang Akan Kembali ke Jalur Kemenangan?
- 3Prediksi Skor Atalanta vs Frosinone di Serie A, 25 Oktober 2026: Misi La Dea Menghentikan Kejutan Tim Promosi
- 4Prediksi Skor Genoa vs Venezia di Serie A, 25 Oktober 2026: Mampukah Lagunari Lanjutkan Kejutan?
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Newcastle United di Premier League, 25 Oktober 2026: Mampukah The Eagles Manfaatkan Kerapuhan Pertahanan The Magpies?
- 6Prediksi Skor Alaves vs Malaga di La Liga, 24 Oktober 2026: Misi Bangkit Tuan Rumah di Tengah Ancaman Zona Bawah
- 7Prediksi Skor Torino vs AC Monza di Serie A, 24 Oktober 2026: Mampukah Il Toro Lanjutkan Tren Positif?
- 8Prediksi Skor Real Sociedad vs Levante di La Liga, 26 Oktober 2026: Mampukah La Real Lanjutkan Tren Kemenangan?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!









