Jakarta

Memahami Keloid, Bekas Luka Menonjol yang Bisa Dicegah dan Diobati

Ainun Kusumaningrum | 30 September 2025, 13:54 WIB
Memahami Keloid, Bekas Luka Menonjol yang Bisa Dicegah dan Diobati

AKURAT JAKARTA – Keloid merupakan jenis bekas luka menonjol yang kerap kali berukuran lebih besar dari luka awal itu sendiri.

Meskipun umumnya tidak membahayakan, keloid sering kali memicu rasa tidak percaya diri ketika muncul di area tubuh yang terbuka.

Spesialis Bedah Plastik Eka Hospital Depok, dr. Narottama Tunjung Hariwangsa, Sp. BP-RE, Subsp. LBL(K), menjelaskan bahwa keloid adalah kondisi yang jarang dapat hilang dengan sendirinya, namun penanganan medis tersedia untuk mengatasinya.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Kanker Tulang, Gejala, Diagnosis dan Langkah Penanganan

"Keloid terbentuk ketika tubuh memproduksi kolagen secara berlebihan dari yang dibutuhkan untuk memulihkan luka," kata Narottama Tunjung saat Media Meet Up Eka Hospital Depok, Selasa (30/9).

Normalnya, kolagen berfungsi menutup permukaan kulit yang terbuka, tetapi jumlah yang terlalu banyak justru memicu munculnya jaringan menonjol tersebut.

"Meskipun penyebab pastinya tidak diketahui, riwayat keluarga dan infeksi luka turut berkontribusi dalam pembentukan keloid," ujarnya.

Baca Juga: Mengenal Hiperhidrosis, Kondisi Keringat Berlebihan dan Cara Penanganannya

Tanda dan Lokasi Kemunculan

Keloid dapat dikenali karena selalu tumbuh di bekas luka dan memiliki ciri-ciri menonjol, berbentuk bulat atau lonjong, serta memiliki warna yang lebih gelap dari kulit asli seperti kemerahan, ungu, atau cokelat.

Permukaannya bisa tampak licin dan keras. Beberapa penderita juga merasakan gatal, sakit, atau sensasi terbakar saat keloid bertumbuh.

Keloid dapat muncul dari bekas luka apa pun, termasuk jerawat, luka bakar, gigitan serangga, bekas tindikan, hingga luka bekas operasi.

Meskipun bisa muncul di mana saja, keloid lebih sering dijumpai di area seperti perut, punggung, dada, telinga, rahang, dan bahu.

Dokter Narottama menyebut, paparan sinar matahari dapat membuat bekas luka menggelap, dan pertumbuhan keloid yang membesar bisa menimbulkan rasa sakit terus-menerus. Keloid juga dapat menimbulkan komplikasi berupa infeksi dan nanah jika terjadi luka berulang.

Penanganan dan Pencegahan

Penanganan keloid tidak selalu melibatkan pembedahan. Dokter dapat mengenali keloid secara langsung, namun biopsi mungkin dilakukan untuk memastikan sifat pertumbuhan jaringan.

Opsi pengobatan keloid meliputi penggunaan salep atau injeksi obat, laser, krioterapi (memanfaatkan energi dingin), radioterapi, atau menggunakan pakaian ketat untuk menekan keloid.

Operasi menjadi pilihan terapi jika keluhan tidak mereda dengan pengobatan non-operasi, terutama pada keloid berukuran besar.

Meskipun seseorang memiliki bakat untuk mengalami keloid lagi di kemudian hari, Dokter Narottama menegaskan keloid dapat diobati dengan teknik pembedahan yang mutakhir dan tepat.

Bagi mereka yang memiliki kecenderungan mengalami keloid, pencegahan adalah langkah terbaik. Hal yang sebaiknya dilakukan antara lain:

Mencegah luka dengan memakai alat pelindung, serta menghindari tindik atau tato.

Melakukan perawatan luka sesuai anjuran dokter, termasuk menggunakan perban silikon gel untuk menekan luka dan menghindari gesekan.

1. Menjaga kebersihan area luka.
2. Tidak memegang atau menggaruk luka dengan tangan kotor.
3. Menggunakan tabir surya untuk mencegah keloid semakin menghitam.

Dokter Narottama menekankan bahwa pengobatan keloid tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena salah penanganan berpotensi menimbulkan keloid baru.

Masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah plastik untuk mendapatkan metode pengobatan yang paling tepat. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.