Dongeng Anak: Malin Kundang Si Anak Durhaka

AKURAT JAKARTA - Di sebuah negeri yang dekat dengan laut biru dan debur ombak yang menenangkan, tersimpan sebuah kisah lama yang sering diceritakan dari mulut ke mulut.
Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, tetapi juga pelajaran berharga tentang kasih sayang, pengorbanan, dan akibat dari sikap durhaka.
Dengarkanlah baik-baik cerita tentang seorang anak bernama Malin Kundang, karena dari kisah inilah anak-anak diajarkan untuk selalu menghormati dan menyayangi orang tua mereka.
Baca Juga: Atalia Praratya Gugat Cerai Ridwan Kamil
Kisah Malin Kundang diambil langsung dari Youtube DAI-Dongeng Anak Indonesia, bagian dari Grup Akurat Jakarta.
Dahulu kala, di sebuah desa kecil dekat pantai, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Malin Kundang bersama ibunya.
Mereka hidup sederhana, tapi saling menyayangi.
Setiap hari, ibu Malin memasak dan bekerja keras agar Malin bisa hidup dengan baik.
Malin adalah anak yang rajin dan suka membantu ibunya.
Suatu hari, Malin melihat kapal besar bersandar di pelabuhan.
Ia ingin pergi merantau agar bisa sukses dan membuat ibunya bangga.
"Bu, izinkan aku pergi merantau. Aku ingin bekerja dan mengubah nasib kita," kata Malin.
Sang ibu berat hati, tapi akhirnya mengizinkan Malin pergi.
Baca Juga: Yuka Akui Hal Ini Usai Dituding Selingkuh dengan Jule
Malin berlayar jauh dan bekerja keras di negeri orang, dan berangsur-angsur sukses.
Malin menjadi pedagang kaya dan menikahi seorang gadis cantik dari keluarga bangsawan.
Setelah bertahun-tahun, Malin berlayar tiba di kampung halamannya dengan kapal besar. Orang kampungnya kagum.
Baca Juga: Bukan Telur Biasa, Ini Alasan Telur Omega Baik untuk Tubuh
Ibunya mendengar kabar itu dan sangat gembira, lalu berlari ke pelabuhan untuk bertemu anaknya.
Saat kapal Malin bersandar, sang ibu memanggil, "Malin, anakku!"
Tapi Malin merasa malu melihat ibunya yang berpakaian sederhana.
Baca Juga: Jangan Asal Panaskan, Ini Makanan yang Berisiko Jika Dipanaskan Ulang
Malin pura-pura tidak kenal dan berkata, "Aku tidak mengenalmu! Aku anak orang kaya, bukan anak pengemis!"
Malin Kundang bersama istri dan rombongannya kembali berlayar.
Dia mengabaikan ibunya yang bersedih.
Baca Juga: Bau Durian Membandel? Coba Cara Alami yang Mudah Dilakukan untuk Menghilangkannya Berikut Ini
Hati sang ibu hancur. Sambil bersimpuh, ia berkata, "Kalau benar kau anakku dan tak mengakui ibumu, biarlah Tuhan menghukummu jadi batu."
Tiba-tiba langit menjadi gelap.
Petir menyambar, ombak besar menghantam kapal Malin. Orang-orang panik berhamburan.
Baca Juga: Harga Emas Antam Stabil di Awal Pekan, Segini Per Gramnya
Tubuh Malin terdampar dan perlahan berubah jadi batu.
“Maafkan aku Mak,” pintanya sambil menangis.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Baca Juga: Dongeng Anak: Tika dan Hutan Pelangi
Sejak itu, batu berbentuk manusia di tepi pantai disebut Batu Malin Kundang.
Anak-anak pun belajar agar tidak durhaka kepada orangtua.
Kisah Malin Kundang pun menjadi cerita yang tak pernah dilupakan oleh masyarakat setempat.
Batu yang menyerupai tubuh manusia itu seolah menjadi saksi bisu dari penyesalan yang datang terlambat.
Dari generasi ke generasi, orang tua menceritakan kisah ini kepada anak-anak mereka agar selalu ingat pentingnya berbakti kepada ibu dan ayah.
Sebab, kasih orang tua tak ternilai harganya, dan sekali disakiti, penyesalan tak selalu bisa mengubah segalanya.
Baca Juga: Bau Mulut Datang Diam-Diam, Ini Daftar 10 Makanan yang Perlu Kamu Hindari
Versi animasi Malin Kundang Si Anak Durhaka ini bisa kamu tonton lewat LINK ini.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









