Dongeng Anak: Kisah Pungguk Merindukan Bulan

AKURAT JAKARTA - Pada suatu malam yang tenang, ketika bintang-bintang bertaburan di langit dan hutan terlelap dalam sunyi, sebuah kisah indah pun dimulai.
Kisah ini bercerita tentang mimpi, harapan, dan perasaan tulus yang tumbuh di hati makhluk kecil.
Melalui perjalanan seekor burung hantu sederhana, kita akan belajar bahwa cinta dan keberanian dapat hadir dalam wujud yang paling lembut.
Baca Juga: Dari Desa Miskin Menjadi Desa Terkaya, Pesona Wisata Ponggok yang Membuat Orang Takjub
Inilah kisah Pungguk yang merindukan Bulan, sebuah dongeng penuh makna yang menghangatkan hati.
Kisah "Pungguk Merindukan Bulan" ini diambil dari channel Youtube DAI-Dongeng Anak Indonesia, bagian dari Grup Akurat Jakarta.
Pungguk Merindukan Bulan
Baca Juga: Graha Wisata TMII, Penginapan Murah di Jantung Wisata Jakarta
Di tepi hutan rimba yang sunyi, hiduplah seekor burung hantu bernama Pungguk.
Ia kecil, bulunya abu-abu keperakan, dan matanya besar berkilau seperti permata malam.
Setiap malam, ketika semua makhluk terlelap, Pungguk keluar dari sarangnya dan menatap langit luas.
Baca Juga: Bruno Mars Bakal Gelar The Romantic Tour di Lebih 30 Kota, Berikut Jadwal Lengkapnya
Di sana, Bulan bersinar lembut, seakan tersenyum padanya.
Lama-lama, hati Pungguk mulai bergetar.
Ia jatuh cinta pada keindahan Bulan.
“Oh Bulan, betapa indahnya dirimu. Andai aku bisa terbang ke sana…” bisiknya pelan.
Teman-temannya sering mengejek.
“Haha, Pungguk bermimpi gila! Mana bisa burung kecil seperti dia sampai ke Bulan?” kata si Kelelawar sambil bergelantungan di pohon.
Baca Juga: Gedung Arsip Nasional, Wisata Sejarah Gratis di Jantung Jakarta
Tapi Pungguk tak peduli. Ia terus menatap Bulan setiap malam, mengirimkan nyanyiannya yang lembut.
Suaranya bergema, menembus kabut malam.
Di kolam dekat hutan, seekor Katak bernama Koto mendengarnya setiap malam.
Baca Juga: Pasir Kole, Pesona Alam Sunyi di Sukabumi Selatan yang Mulai Dilirik Wisatawan
“Wah, suaramu indah, Pungguk! Tapi kenapa kau selalu bernyanyi untuk Bulan?”
“Karena aku mencintainya, Koto. Ia begitu jauh dan bercahaya. Aku ingin mendekatinya, tapi tak tahu bagaimana,” jawab Pungguk pelan.
“Kenapa kau tidak minta bantuan Elang? Dia bisa terbang tinggi sekali!” saran Koto.
Baca Juga: Umbul Sidomukti, Pesona Wisata Alam di Lereng Gunung Ungaran
“Mungkin dia tahu cara mendekati Bulan.”
Keesokan malamnya, Pungguk menemui Elang Tua, penguasa langit.
“Elang bijak, ajarilah aku terbang tinggi agar bisa menemui Bulan.”
Baca Juga: Bukit Waruwangi, Wisata Alam Tenang dengan Panorama Perbukitan Hijau di Banten
Elang menatapnya lembut. “Pungguk kecil, sayapmu diciptakan untuk malam yang sunyi, bukan untuk menembus langit tinggi. Tapi jika kau ingin, terbanglah setinggi yang kau bisa.”
Malam itu, Pungguk mengumpulkan keberanian.
Ia mengepakkan sayap sekuat tenaga, menembus awan tipis, semakin tinggi dan tinggi.
Baca Juga: Desa Wisata Kampung Leuwisapi, Ruang Alami yang Menyegarkan di Selatan Bogor
Tapi udara makin dingin, napasnya makin berat.
“Bulan… aku… hampir sampai…” bisiknya lemah.
Ia pun jatuh perlahan, terbawa angin kembali ke hutan.
Baca Juga: 3 Destinasi Wisata Viral di Bogor yang Menawarkan Alam Sejuk dan Konsep Unik
Pungguk terkapar di rerumputan. Tapi wajahnya menampilkan ekspresi damai dan bahagia, seolah puas telah mencoba menggapai mimpinya.
Katak Koto, Tupai, dan Kelelawar segera menolong Pungguk.
Mereka menyiapkan daun kering untuk tempat beristirahat.
Baca Juga: Rekor Baru Awal Pekan, Harga Emas Antam Meroket Tajam Hari Ini
“Aku gagal, Koto…” ujar Pungguk lemah. “Aku tidak bisa mencapai Bulan.”
Tapi tiba-tiba, cahaya lembut turun dari langit.
Bulan bersinar lebih terang, seolah menjawab panggilan hatinya.
Baca Juga: Update Harga Emas Pegadaian: Galeri24 dan UBS Kompak Tak Berubah Hari Ini
Suara lembut terdengar, “Pungguk kecil, aku mendengarmu setiap malam.”
“Kau tidak perlu datang padaku, Pungguk. Cintamu sudah sampai dengan nyanyianmu. Kau membuat malam di bumi menjadi indah.”
Sejak malam itu, Pungguk tidak lagi bersedih.
Ia terus bernyanyi, bukan karena ingin memiliki Bulan, tapi karena ia tahu cintanya bisa memberi cahaya bagi malam yang gelap.
Suaranya menjadi legenda. Hingga kini, bila malam tiba dan terdengar suara lembut burung hantu di kejauhan, orang-orang berkata: “Itulah Pungguk, yang masih merindukan Bulan.”
Cerita "Pungguk Merindukan Bulan" mengajarkan kepada kita bahwa tidak semua impian harus digapai dengan memiliki, karena ada kebahagiaan yang lahir dari keikhlasan dan usaha yang tulus.
Baca Juga: South Quarter Dome Jakarta, Ruang Estetik Gratis dengan Vibes Singapura
Seperti Pungguk, kita pun dapat memberi keindahan dan kebaikan dengan cara kita sendiri.
Dan setiap kali malam sunyi ditemani nyanyian burung hantu, semoga kita selalu ingat bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya.
Versi animasi Pungguk Merindukan Bulan ini bisa kamu tonton lewat LINK ini. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









