Deteksi Dini Kanker Payudara, Kenali Gejala dan Langkah SADARI Hingga Mammogram

AKURAT JAKARTA -- Setiap bulan Oktober, dunia memperingati Bulan Kesadaran Kanker Payudara (Breast Cancer Awareness Month). Momen ini menjadi seruan bagi seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan risiko, mengenali gejala, dan rutin melakukan deteksi dini terhadap kanker payudara.
Tindakan ini sangat krusial mengingat kanker payudara masih mendominasi kasus kanker terbanyak pada wanita di seluruh dunia. Namun, dengan deteksi dini, peluang kesembuhan dapat mencapai titik tertinggi.
Pentingnya deteksi dini ditekankan oleh Spesialis Bedah Konsultan Onkologi Eka Hospital BSD, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp. B (K) Onk, M.Epid, MARS.
Baca Juga: Waspada Keracunan Makanan pada Anak, Ini Gejala dan Pencegahan Dini
Dia menyebutkan, seperti sebagian besar jenis kanker lainnya, langkah deteksi dini dapat memperbesar peluang keberhasilan pengobatan secara signifikan.
Dr. Sonar menjelaskan, ada beberapa metode deteksi dini yang dapat dilakukan. Paling awal, setiap wanita disarankan untuk rutin melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) setiap bulan setelah masa menstruasi selesai.
"Melalui SADARI, wanita dapat mengetahui tekstur normal payudara sehingga setiap perubahan, sekecil apa pun, bisa langsung disadari," kata dr Sonar saat Media Meet Up, Senin (6/10).
Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Kanker Tulang, Gejala, Diagnosis dan Langkah Penanganan
Selain itu, pemeriksaan klinis juga tak kalah penting. Setidaknya setahun sekali, wanita perlu melakukan SADANIS (Periksa Payudara Klinis) yang dibantu oleh tenaga kesehatan, baik dokter maupun bidan.
"Bagi wanita yang memiliki faktor risiko atau telah mencapai usia tertentu—umumnya di atas 40 tahun—pemeriksaan pencitraan seperti Mammogram dan USG Payudara sangat disarankan," katanya.
Metode ini berfungsi untuk mendeteksi benjolan yang mungkin belum dapat dirasakan melalui perabaan.
Waspadai Perubahan Fisik Payudara
Dr. Sonar Soni Panigoro mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu timbulnya rasa sakit. Segera konsultasikan ke dokter jika ditemukan ciri-ciri fisik pada payudara.
Ciri-ciri tersebut termasuk adanya benjolan yang terasa keras, berbeda dari jaringan payudara di sekitarnya, dan tidak menghilang setelah masa menstruasi berakhir.
"Perubahan bentuk atau ukuran salah satu payudara, penebalan kulit, pengerutan, atau tampilan kulit payudara seperti kulit jeruk juga harus diwaspadai," katanya.
Selain itu, perubahan pada puting, seperti tertarik ke dalam (retraksi), atau keluar cairan yang tidak normal—terutama jika berdarah—merupakan tanda-tanda yang memerlukan pemeriksaan medis segera. Tanda kemerahan atau pembengkakan yang menetap juga menjadi sinyal bahaya.
Meskipun semua wanita berisiko, Dr. Sonar menambahkan bahwa faktor seperti jenis kelamin wanita, peningkatan usia, dan riwayat keluarga inti yang menderita kanker payudara dapat meningkatkan peluang seseorang terkena penyakit tersebut.
Faktor risiko lain termasuk mutasi genetik (seperti BRCA1 dan BRCA2), riwayat reproduksi tertentu, hingga gaya hidup seperti obesitas, kurang aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol berlebihan.
Pendekatan Pengobatan Multidisiplin
Jika diagnosis kanker payudara telah ditetapkan, penanganan modern kini mengedepankan pendekatan multidisiplin.
Penanganan ini dapat berupa kombinasi dari beberapa metode pengobatan, meliputi pembedahan (lumpektomi atau mastektomi), radioterapi, kemoterapi, hingga terapi hormon dan terapi target yang lebih spesifik.
Dalam penanganan ini, pasien ditangani bersama oleh tim dokter dari berbagai spesialisasi, seperti Bedah Onkologi, Onkologi Medis, Radiologi, Patologi Anatomi, dan Rehabilitasi Medik.
"Pendekatan multidisiplin ini penting untuk merancang rencana perawatan yang paling efektif dan terpersonalisasi bagi setiap pasien," tutup Dr. Sonar.
Dia menekankan bahwa kesadaran adalah langkah pertama dan tindakan adalah langkah berikutnya. Oleh karena itu, jangan biarkan ketakutan menunda deteksi, segera jadwalkan pemeriksaan kesehatan payudara Anda jika menemukan benjolan atau memiliki faktor risiko. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Bochum vs Mainz 05 di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Menghentikan Dominasi Tim Bundesliga?
- 3Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Hamburger SV vs Eintracht Frankfurt di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Duel Dua Tim dengan Pertahanan Rapuh
- 5Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 6Prediksi Skor Sonnenhof Grossaspach vs Augsburg di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Die Fuggerstadter
- 7Prediksi Skor Borussia Dortmund vs Werder Bremen di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah BVB Mempertahankan Dominasi?
- 8Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




