Bukan Sekadar Masalah Cita-cita, Rendahnya Minat Anak Muda Jadi Petani Perlu Diwaspadai

AKURAT JAKARTA - Ketika ditanya tentang cita-cita, anak-anak biasanya menyebut profesi seperti dokter, polisi, tentara, atau pekerjaan lain yang dianggap menjanjikan.
Namun, ada satu profesi yang justru jarang muncul dalam jawaban mereka, yaitu petani.
Kondisi ini menjadi perhatian karena Indonesia memiliki kekayaan alam yang membutuhkan generasi penerus untuk mengelolanya.
Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan pilihan pekerjaan.
Ada persepsi sosial yang membuat profesi petani dan nelayan kurang menarik di mata generasi muda.
Pekerjaan di sektor pertanian masih sering dikaitkan dengan aktivitas fisik yang berat, lingkungan berlumpur, panas matahari, hingga penghasilan yang dianggap tidak pasti.
Dalam psikologi sosial, pandangan tersebut berkaitan dengan occupational stigma, yakni stereotip negatif yang melekat pada pekerjaan tertentu.
Ketika sebuah profesi dianggap kurang bergengsi atau tidak memberikan prospek kehidupan yang baik, seseorang cenderung menghindarinya, bahkan sebelum benar-benar mengenal peluang yang tersedia.
Persoalan inilah yang disoroti Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti ketika berdialog dengan para siswa di berbagai daerah.
Ia mengaku belum pernah menemukan siswa SD maupun SMP yang menyebut ingin menjadi petani atau nelayan saat ditanya mengenai cita-cita mereka.
Baca Juga: Tak Melulu Tokyo dan Kyoto, Jepang Ajak Wisatawan Menjelajahi Desa Lewat Walking Tour
Sebaliknya, sebagian besar siswa justru memilih profesi dokter, polisi, tentara, hingga anggota dewan.
Meski demikian, Mu'ti pernah menemukan jawaban berbeda dari seorang siswa kelas V SD di Wonosobo yang bercita-cita menjadi juragan sapi.
Menurut Mu'ti, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena sektor pertanian dan perikanan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.
Hampir semua profesi membutuhkan hasil produksi petani, termasuk dokter yang tetap membutuhkan makanan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Ia menilai rendahnya minat terhadap profesi petani dapat menjadi persoalan bagi keberlanjutan pengelolaan kekayaan alam Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Bochum vs Mainz 05 di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Menghentikan Dominasi Tim Bundesliga?
- 3Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Hamburger SV vs Eintracht Frankfurt di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Duel Dua Tim dengan Pertahanan Rapuh
- 5Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 6Prediksi Skor Sonnenhof Grossaspach vs Augsburg di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Die Fuggerstadter
- 7Prediksi Skor Borussia Dortmund vs Werder Bremen di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah BVB Mempertahankan Dominasi?
- 8Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







