Merasa Masih Muda dan Sehat? Awas, Stroke Bisa Datang Tanpa Mengenal Usia

AKURAT JAKARTA - Banyak orang menganggap stroke sebagai penyakit yang hanya mengancam kelompok lanjut usia.
Anggapan tersebut membuat sebagian anak muda merasa tidak perlu terlalu khawatir terhadap kondisi kesehatannya.
Padahal, stroke bisa terjadi pada usia produktif, terutama ketika seseorang memiliki faktor risiko yang tidak terkontrol.
Fenomena ini berkaitan dengan optimism bias, yaitu kecenderungan psikologis seseorang untuk merasa bahwa dirinya lebih kecil kemungkinannya mengalami kejadian buruk dibandingkan orang lain.
Dalam konteks kesehatan, pola pikir tersebut dapat membuat seseorang menganggap penyakit serius seperti stroke masih jauh dari kehidupannya.
Akibatnya, keluhan kesehatan sering diabaikan, pemeriksaan rutin dianggap tidak mendesak, dan kebiasaan yang berisiko tetap dilakukan.
Seseorang mungkin merasa tubuhnya baik-baik saja meskipun memiliki tekanan darah tinggi, kadar kolesterol berlebih, atau gula darah yang tidak terkontrol.
Padahal, stroke merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika aliran darah menuju otak terganggu akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.
Kondisi tersebut membuat sel-sel otak kekurangan oksigen sehingga dapat mengalami kerusakan hingga kematian.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stroke nasional mencapai 8,3 kasus per 1.000 penduduk.
Baca Juga: Wisatawan ke Singapura Wajib Tahu, Patung Merlion Ditutup Sementara 24–26 November
Angka ini menunjukkan bahwa stroke masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius, termasuk dalam upaya pencegahan sejak usia muda.
Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan mengabaikan faktor risiko.
Hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, dan penyakit jantung merupakan sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami stroke.
Risiko tersebut juga berkaitan dengan gaya hidup sehari-hari.
Kebiasaan merokok, jarang berolahraga, mengonsumsi makanan tinggi garam, serta tidak menjaga pola makan dapat memperburuk kondisi kesehatan pembuluh darah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Bochum vs Mainz 05 di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Menghentikan Dominasi Tim Bundesliga?
- 3Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Hamburger SV vs Eintracht Frankfurt di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Duel Dua Tim dengan Pertahanan Rapuh
- 5Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 6Prediksi Skor Sonnenhof Grossaspach vs Augsburg di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Die Fuggerstadter
- 7Prediksi Skor Borussia Dortmund vs Werder Bremen di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah BVB Mempertahankan Dominasi?
- 8Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







