Jakarta

Dari Mana Garam Himalaya Berasal? Ini Fakta Sebenarnya

Zainal Abidin | 26 Januari 2026, 18:00 WIB
Dari Mana Garam Himalaya Berasal? Ini Fakta Sebenarnya

AKURAT JAKARTA - Garam Himalaya kerap hadir di dapur modern dan restoran kekinian sebagai simbol bahan alami yang dianggap lebih sehat dan bernilai estetika tinggi.

Banyak pelaku kuliner memilih garam berwarna merah muda ini karena tampilannya menarik dan memberi kesan premium pada sajian makanan.

Di balik popularitasnya, garam Himalaya sebenarnya berasal dari tambang garam Khewra di Pakistan yang terletak di kaki Pegunungan Himalaya.

Baca Juga: 5 Makanan yang Membuat Ginjal Bekerja Keras dan Berbahaya bagi Kesehatan 

Garam ini terbentuk dari endapan laut purba yang mengering ratusan jutaan tahun lalu lalu mengkristal secara alami tanpa proses pemurnian modern.

Warna merah muda yang khas berasal dari kandungan mineral jejak seperti zat besi, magnesium, dan kalsium yang tercampur secara alami.

Dalam praktik kuliner, garam Himalaya sering digunakan sebagai finishing salt karena teksturnya kasar dan rasa asinnya terasa lebih ringan.

Baca Juga: Mudah Muncul Memar, Waspadai Gejala Trombositopenia yang Sering Tak Disadari

Chef memanfaatkannya untuk menonjolkan rasa alami bahan makanan tanpa menutupi karakter utama dari daging, sayur, atau makanan laut.

Selain itu, tampilan visualnya mampu meningkatkan daya tarik hidangan sehingga terlihat lebih eksklusif saat disajikan ke meja pelanggan.

Meski demikian, anggapan bahwa garam Himalaya jauh lebih sehat dibanding garam dapur biasa masih sering disalahpahami oleh masyarakat.

Baca Juga: 7 Destinasi Wisata Indoor di Jakarta yang Aman Dikunjungi Saat Musim Hujan

Secara ilmiah, kandungan mineral pada garam Himalaya sangat kecil sehingga tidak memberikan manfaat gizi signifikan bagi tubuh manusia.

Dalam konteks kesehatan, garam ini tetap mengandung natrium yang jika dikonsumsi berlebihan dapat memicu tekanan darah tinggi.

Hal penting lainnya adalah garam Himalaya tidak mengandung yodium yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga fungsi kelenjar tiroid.

Baca Juga: Gubernur DKI Kejar Izin Konser BTS di JIS 26-27 Desember Mendatang 

Karena itu, penggunaan garam Himalaya dalam masakan sehari-hari sebaiknya tidak sepenuhnya menggantikan garam beryodium.

Di dunia kuliner, nilai utama garam Himalaya lebih terletak pada pengalaman rasa dan tampilan, bukan pada klaim medis.

Restoran fine dining sering memadukan garam ini dengan teknik penyajian modern untuk menciptakan sensasi makan yang berbeda.

Baca Juga: Jangan Lupa! Akhir Bulan Ini Ada Konser Opick Di Bawah LangitMu di Alun-Alun Barat Kota Serang, Dimeriahkan Wali Band, D’Masiv, dan Vierratale

Di rumah, garam Himalaya cocok digunakan secara terbatas untuk memanggang, steak, atau taburan akhir pada hidangan tertentu.

Konsumen perlu bersikap kritis terhadap tren bahan makanan dan memahami bahwa tidak semua label alami berarti lebih sehat.

Memahami fungsi dan batas penggunaan garam akan membantu masyarakat menikmati kuliner lezat tanpa mengorbankan kesehatan.

Baca Juga: 10 Tips Menggunakan AC agar Tidak Boros Listrik, Tetap Sejuk dan Ramah Tagihan 

Dengan pengetahuan yang tepat, garam Himalaya dapat menjadi pelengkap rasa yang menarik tanpa harus dibebani ekspektasi berlebihan.

Pada akhirnya, keseimbangan rasa, gizi, dan informasi yang benar menjadi kunci dalam menikmati setiap sajian kuliner modern. (*).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.