Jakarta

Rasa Tak Pantas di Balik Kesuksesan: Kenali Fenomena Imposter Syndrome yang Banyak Dialami Orang

Anggerhana Denni Rahmawati | 22 Juni 2026, 13:45 WIB
Rasa Tak Pantas di Balik Kesuksesan: Kenali Fenomena Imposter Syndrome yang Banyak Dialami Orang
Ilustrasi imposter syndrome.

AKURAT JAKARTA - Kamu mungkin pernah berada di situasi ketika orang lain memuji pencapaianmu, tetapi di dalam hati kamu justru merasa tidak sepenuhnya layak mendapatkannya.

Perasaan aneh ini bukan sekadar kurang percaya diri biasa, melainkan bisa berkaitan dengan fenomena psikologis yang dikenal sebagai imposter syndrome.

Kondisi itu membuat seseorang merasa seperti “penipu” atas kesuksesan yang sebenarnya sudah mereka raih dengan usaha nyata.

Banyak orang yang mengalami hal ini justru terlihat sangat berprestasi dari luar.

Namun di balik itu, mereka sering diliputi keraguan diri yang kuat.

Mereka cenderung berpikir bahwa keberhasilan yang didapat bukan karena kemampuan pribadi, melainkan karena faktor luar seperti keberuntungan, bantuan orang lain, atau bahkan kesalahan penilaian dari orang sekitar.

Akibatnya, muncul rasa takut suatu saat orang lain akan “menyadari” bahwa dirinya tidak sehebat yang terlihat.

Fenomena ini pertama kali dikenalkan pada tahun 1978 oleh psikolog Pauline Clance dan Suzanne Imes.

Dalam pengamatannya, pola pikir ini banyak ditemukan pada individu berprestasi, terutama pada perempuan saat itu.

Namun seiring berkembangnya penelitian, imposter syndrome ternyata bisa dialami siapa saja tanpa memandang gender, usia, maupun latar belakang pekerjaan.

Ciri-ciri yang sering muncul antara lain sulit menerima pujian, terus-menerus merasa kurang mampu, serta menetapkan standar yang terlalu tinggi pada diri sendiri.

Kamu mungkin juga jadi lebih perfeksionis dan takut melakukan kesalahan kecil karena merasa hal itu akan membuktikan ketidakmampuanmu.

Bahkan, sebagian orang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain secara berlebihan hingga merasa selalu tertinggal.

Meski terdengar negatif, orang dengan imposter syndrome biasanya justru sangat pekerja keras dan bertanggung jawab.

Mereka ingin memberikan hasil terbaik, tetapi sering kali tidak mampu melihat nilai dari usaha mereka sendiri.

Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, 6 Benda Ini Bisa Jadi Penyelamat Saat Mati Lampu Bergilir

=====

Penting untuk dipahami bahwa ini bukan gangguan mental resmi, melainkan pola pikir yang bisa memengaruhi cara seseorang menilai dirinya.

Secara psikologis, kondisi ini dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap stres dan kecemasan.

Namun kabar baiknya, pola pikir ini bisa diubah. Kamu bisa mulai dengan mengenali pencapaianmu sendiri, sekecil apa pun itu, dan belajar menerima bahwa tidak semua hal harus sempurna.

Mengubah cara kamu berbicara pada diri sendiri juga sangat berpengaruh dalam membangun rasa percaya diri.

Selain itu, berhenti membandingkan diri dengan orang lain adalah langkah penting.

Setiap orang punya perjalanan yang berbeda, dan itu bukan kompetisi. Menyimpan catatan pencapaian, berbagi cerita dengan orang terpercaya, serta melatih rasa syukur juga bisa membantu kamu lebih menghargai diri sendiri.

Pada akhirnya, memahami bahwa rasa ragu itu wajar adalah langkah awal untuk berdamai dengan diri sendiri dan melihat kemampuanmu secara lebih jujur. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.