Jakarta

Kecanduan Curhat ke AI, Seberapa Berbahaya Bagi Kesehatan Psikologis Manusia?

Yusuf Doank | 9 Oktober 2026, 05:27 WIB
Kecanduan Curhat ke AI, Seberapa Berbahaya Bagi Kesehatan Psikologis Manusia?
Ilustrasi, Perbedaan Claude AI, ChatGPT, dan Gemini - Magnific

AKURAT JAKARTA – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini tak sekadar menjadi alat penunjang pekerjaan, melainkan mulai beralih fungsi menjadi teman curhat.

Terutama bagi sebagian orang yang merasa kesepian atau menghadapi masalah emosional.

Respons yang cepat, fleksibel, serta selalu siap sedia kapan saja membuat interaksi dengan chatbot terasa kian personal.

Baca Juga: Sempat Terkendala Lahan, Gubernur Pramono Prastikan Pembangunan PSEL Bantargebang Sudah Ada Jalan Keluar

Namun, fenomena kecanduan curhat ke AI ini mulai disoroti para peneliti psikologi dan ilmu perilaku.

Studi yang diterbitkan Nature Human Behaviour (2026) mengungkapkan bahwa pengguna dengan jaringan sosial terbatas cenderung menjadikan AI sebagai teman bicara utama.

Pola penggunaan yang terlalu intensif dan personal ini berikatan erat dengan penurunan tingkat kesejahteraan psikologis serta meningkatnya rasa kesepian.

Penelitian lanjutan dari MIT Media Lab dan OpenAI juga menunjukkan bahwa durasi penggunaan harian chatbot yang makin lama berisiko memicu ketergantungan emosional dan menurunkan frekuensi interaksi nyata dengan sesama manusia.

Meski teknologi AI mampu memformulasi kalimat yang terdengar sangat empatik, riset menegaskan bahwa respons bernuansa manusiawi tetap tidak dapat menggantikan kehangatan emosional dan dukungan nyata dari hubungan interpersonal antarmanusia.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y