Jakarta

Bukan Sekadar Jatuh Saat Bermain, Patah Tulang Berulang pada Anak Perlu Diwaspadai

Anggerhana Denni Rahmawati | 21 Oktober 2026, 17:15 WIB
Bukan Sekadar Jatuh Saat Bermain, Patah Tulang Berulang pada Anak Perlu Diwaspadai
Ilustrasi anak yang mengalami patah tulang. - Magnific

AKURAT JAKARTA - Anak-anak yang aktif berlari, melompat, dan bermain memang lebih berisiko mengalami cedera.

Namun, ketika patah tulang terjadi berulang kali, orang tua sebaiknya tidak langsung menganggapnya sebagai bagian biasa dari masa tumbuh kembang.

Osteoporosis ternyata tidak hanya dialami orang lanjut usia.

Anak-anak juga dapat mengalami kondisi tulang rapuh, terutama jika memiliki kelainan genetik, penyakit kronis, gangguan nutrisi, atau menjalani pengobatan tertentu dalam jangka panjang.

Masalahnya, anak belum tentu mampu menjelaskan rasa sakit yang dialami dengan jelas.

Akibatnya, cedera bisa terlambat dikenali atau dianggap tidak serius.

Padahal, pemeriksaan yang tepat diperlukan untuk mengetahui apakah patah tulang berkaitan dengan kecelakaan, kondisi tulang, atau faktor kesehatan lainnya.

Ketika Cedera Anak Dianggap Hal Biasa

Dalam keseharian, orang tua mungkin terbiasa melihat anak terjatuh ketika bermain.

Selama anak masih bisa bergerak atau kembali beraktivitas, cedera terkadang dianggap tidak terlalu mengkhawatirkan.

Baca Juga: Jetour T2 i-DM Hadirkan Busa Jok Tebal dan Kisi-Kisi AC Mandiri untuk Kenyamanan Maksimal Baris Kedua

Cara pandang tersebut dapat dipahami karena tidak semua benturan berakhir dengan cedera serius.

Namun, kemampuan anak menggerakkan lengan atau tungkai tidak otomatis menyingkirkan kemungkinan patah tulang.

Di sinilah pentingnya kewaspadaan orang tua.

Perhatian perlu diberikan bukan hanya pada kejadian jatuh, melainkan juga pada pola cedera yang dialami anak.

Dokter Anak Konsultan Endokrinologi, Karina Sugih Arto, menjelaskan melalui laman Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi) bahwa osteoporosis pada anak dinilai berdasarkan riwayat patah tulang yang signifikan secara klinis dan hasil pemeriksaan densitas mineral tulang.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.