Anak Alami Trauma Setelah Bencana? Ini Langkah Pemulihan yang Tepat

AKURAT JAKARTA - Trauma healing membantu anak korban bencana pulih secara emosional melalui rasa aman, ekspresi bebas, rutinitas, kreativitas, dukungan keluarga, dan bantuan profesional.
Bagaimana trauma healing bekerja pada anak korban bencana sering menjadi pertanyaan besar bagi banyak orang tua yang ingin membantu buah hati pulih secara emosional.
Trauma healing bukan sekadar aktivitas hiburan, melainkan rangkaian langkah terarah yang dirancang untuk memulihkan kondisi psikologis setelah anak melalui pengalaman mengerikan.
Ketika kamu memahami bagaimana trauma healing dapat memengaruhi proses pemulihan, kamu bisa memberikan dukungan yang lebih tepat sasaran.
Anak korban bencana membutuhkan perhatian khusus karena dampak emosionalnya bisa bertahan jauh lebih lama daripada kondisi fisik.
Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, atau kebakaran dapat meninggalkan bekas mendalam pada jiwa anak.
Baca Juga: Sebelum Ajak Anak Bermain ke Playground, Pastikan Kamu Tahu 3 Poin Penting Ini
Rasa takut, hilangnya rasa aman, hingga kecemasan berkepanjangan sering kali muncul setelah mereka mengalami situasi penuh tekanan tersebut.
Untuk mencegah trauma berkembang menjadi gangguan jangka panjang, pendampingan dari kamu sebagai orang tua, serta keluarga lain, sangat dibutuhkan sepanjang proses pemulihan.
Trauma psikologis sendiri merupakan luka batin yang berpotensi memengaruhi bagaimana anak mengekspresikan emosi dan perilakunya di masa depan.
Baca Juga: NICE PIK 2 Jadi Tuan Rumah Weddingku Exhibition 2025, 200+ Vendor Siap Manjakan Calon Pengantin
Trauma healing hadir sebagai upaya membantu anak berdamai dengan pengalaman buruknya tanpa harus terus merasa tertekan.
Salah satu langkah penting adalah menciptakan rasa aman dan stabilitas.
Anak perlu merasa bahwa situasi sudah kembali terkendali dan bahwa mereka berada di lingkungan yang benar-benar aman.
Baca Juga: Jangan Abaikan! Penyakit Pascabencana yang Mengintai Kamu di Musim Hujan
Dengan demikian, fondasi emosional mereka perlahan mulai membaik.
Selain itu, memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaan juga sangat krusial.
Kamu bisa membiarkan anak menceritakan apa yang mereka rasakan tanpa menghakimi.
Baca Juga: 8 Langkah Pemulihan Trauma Pascabencana yang Perlu Dilakukan Penyintas
Ketika anak merasa didengar, beban emosinya akan berkurang secara perlahan.
Rutinitas harian pun perlu dikembalikan agar anak merasakan kembali struktur dan ketertiban dalam hidupnya.
Aktivitas kreatif seperti menggambar, bermain peran, atau melakukan kerajinan tangan dapat menjadi sarana ekspresi yang efektif.
Baca Juga: Waspada Penyakit Pascabencana! Ini 5 Tips Kebersihan yang Wajib Kamu Ikuti
Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam dan meditasi sederhana juga bermanfaat untuk meredakan kecemasan.
Tak kalah penting, dukungan emosional dari keluarga menjadi pilar utama yang membuat anak merasa tidak sendirian dalam menghadapi masa sulit.
Jika gejala trauma berkepanjangan terus muncul, seperti mimpi buruk atau perubahan perilaku signifikan, bantuan profesional sebaiknya dipertimbangkan.
Baca Juga: Catat Waktunya, Westlife Gelar Konser Orkestra Megah di PIK 2 Jakarta
Pendekatan seperti terapi individual, terapi kelompok, hingga art therapy bisa disesuaikan dengan kondisi anak.
Proses trauma healing memang tidak instan, tetapi dengan dukungan penuh dari kamu dan keluarga, anak memiliki peluang besar untuk pulih dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









