Jakarta

Di Balik Tatapan Kosong Gen Z: Bukan Ketidakpedulian, Melainkan Otak yang 'Loading'

Anggerhana Denni Rahmawati | 30 Oktober 2026, 13:45 WIB
Di Balik Tatapan Kosong Gen Z: Bukan Ketidakpedulian, Melainkan Otak yang 'Loading'
Ilustrasi Gen Z stare. - www.geo.tv

AKURAT JAKARTA - Video singkat di TikTok belakangan ini kerap memperlihatkan momen canggung di dunia nyata: seorang pelanggan melontarkan pertanyaan, dan kasir Gen Z meresponsnya dengan jeda panjang, tatapan kosong, atau sekadar angkat bahu.

Generasi yang lebih tua bergegas melabeli gestur ini sebagai bentuk ketidaksopanan, keangkuhan, atau sikap cuek.

Namun, ilmu psikologi mengungkapkan fakta yang jauh berbeda: otak mereka sesungguhnya sedang mengalami freeze response atau respons membeku.

Fenomena yang dikenal sebagai Gen Z stare ini sejatinya adalah dampak dari krisis latihan berkomunikasi secara spontan.

Untuk membalas satu kalimat dalam obrolan langsung, otak manusia harus memproses informasi, membaca mimik lawan bicara, dan menyusun kata-kata hanya dalam hitungan detik.

Bagi generasi yang tumbuh besar dengan pertukaran pesan teks serta sempat terisolasi akibat pandemi di masa-masa krusial pembentukan sosial mereka, refleks biologis ini tidak terlatih dengan baik.

Data mendukung realita kognitif ini.

Studi dalam Perspective on Psychological Science mencatat penurunan jumlah kata yang diucapkan secara langsung hingga 28 persen pada rentang 2005 hingga 2019, dengan penurunan terbesar dialami oleh mereka yang berusia di bawah 25 tahun.

Gen Z memproduksi setidaknya 300 kata lebih sedikit setiap harinya dibandingkan generasi sebelumnya.

Fenomena tatapan kosong ini seharusnya tidak lagi dibaca sebagai cermin buruknya etika, melainkan sinyal adanya pergeseran budaya komunikasi yang mendalam.

Baca Juga: Kerja Keras Guru Selama Ini Bisa Diakui, Kemenag Buka Pendaftaran Anugerah GTK 2026

Di tempat kerja maupun ruang publik, memahami beban kognitif Gen Z menjadi kunci untuk menjembatani jurang antargenerasi, alih-alih terus menerus melanggengkan siklus kritik antar-era. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.