Jakarta

Hanya Disinari Matahari 7 Jam Sehari, Dusun di Gunungkidul Ini Disiapkan Jadi Wisata

Anggerhana Denni Rahmawati | 5 November 2026, 13:15 WIB
Hanya Disinari Matahari 7 Jam Sehari, Dusun di Gunungkidul Ini Disiapkan Jadi Wisata
Wotawati disiapkan jadi desa wisata berbasis alam dan budaya. - jogjaprov.go.id

AKURAT JAKARTA - Tidak semua permukiman mendapat paparan sinar matahari sepanjang hari.

Di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terdapat sebuah dusun yang hanya menikmati sinar matahari langsung sekitar tujuh jam sehari.

Keunikan geografis tersebut menjadi salah satu potensi yang kini dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

Dusun Wotawati, yang berada di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, terletak di lembah bekas aliran Bengawan Solo Purba.

Permukiman ini diapit perbukitan di sisi timur dan barat sehingga waktu datang dan perginya sinar matahari menjadi berbeda dibandingkan wilayah sekitarnya.

Pada pagi hari, sinar matahari baru mencapai permukiman sekitar pukul 08.30 hingga 09.00 WIB.

Sementara menjelang sore, cahaya mulai terhalang bukit sekitar pukul 16.00 WIB.

Kondisi ini membuat Wotawati lebih cepat gelap meskipun waktu masih menunjukkan sore hari.

Namun, fenomena alam bukan satu-satunya keunikan yang dimiliki dusun tersebut.

Wotawati juga dikenal karena tampilan permukimannya yang memiliki nuansa klasik seperti kawasan kerajaan pada masa lampau.

Baca Juga: Incar UI Lewat SNBP 2027? Cek Jurusan dengan Kuota Terbanyak

Sejumlah rumah warga menggunakan fasad bata merah ekspos dan pagar dengan desain seragam.

Gang-gang kecil yang saling terhubung di antara rumah juga menciptakan suasana seperti labirin.

Penataan tersebut memadukan unsur arsitektur Majapahit dan Mataram Yogyakarta.

Lurah Pucung Estu Dwiyono menjelaskan bahwa konsep itu sengaja dipilih untuk menghadirkan identitas visual yang berbeda.

"Kami membangun pagar menggunakan material bata merah yang identik dengan Majapahit. Namun untuk bentuknya, kami akulturasikan dengan arsitektur Mataram Yogyakarta karena secara administratif kami berada di wilayah Jogja, Gunungkidul. Akulturasi Majapahit dan Mataram inilah yang membuat cepat viral di akhir 2024," jelas Estu Dwiyono, Lurah Pucung.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.