Kamu Mau Ikut Arus Balik Lebaran Idulfitri Melewati Batang? 7 Prasasti Jadi Saksi Bisu Kabupaten Yang Kamu Lalui Ini Bukan Kaleng-kaleng!

AKURAT JAKARTA - Setelah jutaan kendaraan berbondong-bondong dari arah barat melintas ke wilayah Jawa Tengah pada arus mudik Lebaran Idulfitri 2024, sekarang bersiaplah dengan arus balik.
Jutaan kendaraan, giliran dari arah timur yang akan berbondong-bondong melintas ke Jawa Tengah, pada arus balik Lebaran Idulfitri menuju arah barat, terutama Jakarta.
Bagi kamu yang hari ini dan hari-hari esok akan menjadi salah satu orang yang ikut dalam arus balik Lebaran Idulfitri, jangan segan-segan mengambil istirahat sejenak apabila di tengah perhalanan sudah merasa lelah.
Baca Juga: JANGAN KELEWATAN! Pameran Kendaraan Listrik, PEVS 2024 Digelar Akhir Bulan Ini, Simak Informasinya
Ingat, mengutamakan keselamatan itu jauh lebih penting daripada memaksakan diri untuk lekas sampai tujuan.
Apabila kamu sudah melintas di Jawa Tengah, mungkin bisa sejenak singgah lebih dulu ke Kabupaten Batang dan menikmati suasana alam yang segar di sana.
Letak geografis Kabupaten Batang berada di Pantai Utara Pulau Jawa dan berada pada jalur utama yang menghubungkan Jakarta-Semarang.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Hari ini 14 April 2024 Aries, Taurus, dan Gemini
Kabupaten Batang terdiri atas 15 Kecamatan, 239 Desa, 9 Kelurahan.
Lima belas Kecamatan di Batang, yaitu, Batang, Warungasem, Wonotunggal, Bandar, Blado, Tulis, Subah, Gringsing, Tersono, Reban, Limpung, Bawang, Pecalungan, Kandeman,dan Banyuputih.
Sebagian besar wilayah Kabupaten Batang merupakan perbukitan dan pegunungan.
Baca Juga: Sinopsis The First Omen, Kisah Kelahiran Damien, Sang Anak Titisan Iblis
Dataran rendah di sepanjang pantai utara tidak begitu lebar.
Di bagian selatan adalah dataran tinggi Dieng, dengan puncaknya Gunung Prau (2.565 meter).
Pendek kata, Batang merupakan kombinasi antara daerah pantai, dataran rendah dan pegunungan yang punya potensi sangat besar dikembangkannya industri agroindustri, agrowisata,dan agrobisnis.
Baca Juga: Perubahan Positif: Misi Bang Zaki untuk Jakarta
Nurrochim dalam artikel Melacak Dan Melestarikan Tujuh Prasasti Di Kabupaten Batang Pembuka Peradaban Mataram Kuno mengungkap Kabupaten Batang memiliki sejarah yang berakar dari abad keenam hingga abad ke-16.
Artikel Nurrochim terbit di Jurnal Ristek Pemerintah Kabupaten Batang.
Menurut Nurrochim, di Batang bermula kerajaan-kerajaan yang kelak menjadi prolog bagi kelahiran peradaban adiluhung Borobudur dan Prambanan.
Baca Juga: Bang Zaki Muncul sebagai Calon Potensial untuk Pemilihan Gubernur DKI Jakarta
Ini bisa dilihat dari prasasti-prasasti yang menjadi saksi bisu peradaban Batang pada masa lalu.
Nah, mengenal prasasti-prasasti dari Kabupaten Batang mungkin bisa menjadi hiburan mengasyikkan saat menjalani arus balik Lebaran Idulfitri tahun ini.
Apa saja prasasti-prasasti yang ada di Kabupaten Batang?
Baca Juga: Gunung Semeru Meletus pada Pukul 05.40 WIB Hari Ini, Potensi Aliran Lahar 17 Kilometer
1. Prasasti Bendosari
Prasasti ini ditemukan di desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, persisnya di tepi pantai tidak jauh dari muara sungai Kuto di Gringsing.
Prasasti diperkirakan berasal dari awal abad ke-8 dan berisi pujian terhadap mata air yang berbunyi, "kehidupan (di bumi) kekal atas pria dengan kekuatan dewa yang tak tertandingi, yang telah mempersembahkan air yang jernih, ..... dengan namanya".
Saat ini Prasasti Bendosari disimpan di Museum Jawa Tengah Ronggo Warsito, Semarang.
Baca Juga: 4 Rekomendasi Gunung di Magelang Yang Patut Didaki, Jangan Ngaku Pendaki Sejati Kalau Belum Pernah ke Gunung Nomor Dua dan Tiga
2. Prasasti Banjaran
Belum diketahui arti dari tulisan yang termaktub dalam Prasasti Banjaran.
Ini bisa menjadi tantangan bagi kamu untuk memecahkan pesan apa sebenarnya yang tersembunyi dari Prasasti Banjaran.
Prasasti Banjaran berlokasi di Dukuh Banjaran, desa Semampir, Kecamatan Reban.
Baca Juga: Keluar dari Pekerjaan, Begini Cara Mencairkan JHT BPJS Ketenagakerjaan
Diduga prasasti ini sejaman dengan prasasti Sojomerto.
3. Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto memuat informasi tentang seorang tokoh yang bernama Daputa Syailendra.
Para ahli meyakini Daputa merupakan cikal bakal Dinasti Syailendra.
Baca Juga: Simak Syarat Mencairkan JHT BPJS Ketenagakerjaan Berikut Ini
Huruf aksara Pasca Pallawa dengan Bahasa Melayu kuno memperkuat dugaan prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ketujuh masehi.
Prasasti ini ditemukan masyarakat di kebun kopi milik mendiang Bapak Salman sekitar 1940-an.
Prasasti Sojomerto berbahan batu andesit, memiliki ukuran panjang 48 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm yang erisikan sebelas baris tulisan berhuruf Pasca Pallawa.
Baca Juga: Makna Ketupat yang Menjadi Tradisi Setiap Hari Raya Idul Fitri
Prasasti Sojomerto memperkuat memperkuat dugaan Prof. Dr. R. M. Ng. Poerbatjaraka bahwa di Jawa Tengah hanya ada satu dinasti, yaitu dinasti Syailendra, yang pada mulanya dinasti ini beragama Siwa, kemudian meninggalkan kepercayaan nenek
moyangnya dan memeluk agama Budha (Rakai Pikatan).
4. Prasasti Kepokoh
Isi prasasti Kepokoh ini masih menjadi misteri, namun ada dugaan tulisan dalam prasasti itu berisi mengenai hadiah pembebasan tanah pada masa itu.
Baca Juga: Bermula dari Solo, Begini Sejarah Halal Bi Halal Versi Martabak Malabar
Ada pula yang menduga bahwa isi dari prasasti itu berhubungan dengan dana atau pemberian hadiah.
Suhadi dan M.M. Sukanto pada 1986 menulis Laporan Epigrafi Jawa Tengah, bahwa dari segi historis, Prasasti Kepokoh sangat penting karena terkait dengan nama Dinasti Syailendra.
Prasasti Kepokoh berlokasi di dukuh Kepokoh, Kecamatan Blado.
Baca Juga: 4 Rekomendasi Wisata Religi di Magelang, Nomor 3 untuk Umat Katolik dan Nomor 4 untuk Umat Buddha
Prasasti ditulis dengan huruf Pasca Pallawa dan Bahasa Sansekerta. Sementara di sisi belakang, bergambar Bulan Sabit.
Prasasti yang berasal dari abad ke-7 masehi ini ditemukan di tanah milik Bapak Sayid, tepatnya berada di dekat pohon besar di tengah-tengah sawah yang tidak jauh dari prasasti Kepokoh sekarang berada.
Bentuk prasasti ini balok agak pipih, warna coklat alami dan menggunakan batu andesit dengan ukuran panjang 35 cm, lebar 19 cm, tinggi 63 cm, dan tebal 21 cm.
Baca Juga: Ketahuan Gunakan Gas Bersubsidi saat Masak Besar, Prilly Latuconsina Minta Maaf, Begini Dalihnya
Pahatan bulat sabit mengindikasikan prasasti itu dibuat pada awal bulan, tanggal 1 sampai 15.
Namun, prasasti ini tidak menyebutkan angka tahun pembuatan.
5. Prasasti Wutit
Sebagian isi Prasasti Wutit hanya bisa dibaca 10 persen.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata Demak Cocok untuk Libur Lebaran Idulfitri, Nomor Terakhir Bikin Bertanya-tanya Ke Mana Saja Sih Pemerintah
Sehingga sedikit informasi yang didapat mengenai isi Prasasti, yaitu mengenai penetapan Sima (tanah perdikan) terhadap Desa Wutit.
Kemungkinan besar desa Wutit berubah menjadi desa Buntit.
Dlam prasasti tersebut juga disebut-sebut mengenai bangunan suci agama Budha (wihara).
Namun, sisa-sisa bangunan suci yang ditemukan itu adalah bangunan candi yang bersifat Hindu.
Baca Juga: Bagi Orang Tua Yang Ingin Masukkan Anak ke Sekolah di Singapura, Sebaiknya Baca info Beasiswa Ini di Sini
Menurut M.M. Sukarto Karto Atmodjo, Prasasti Wutit yang ditemukan Dusun Tumbrep ditulis dengan huruf dan bahasa Jawa Kuno.
Berdasarkan bentuk/gaya hurufnya (paleografi), terutama huruf ma diperkirakan bahwa prasasti tersebur ditulis pada abad sembilan sampai sepuluh masehi.
Prasati memiliki ukuran 48 cm, lebar 24 cm, dan tebal 20 cm.
Baca Juga: 6 Rekomendasi Kuliner saat Kamu Mudik ke Semarang, Nomor 4 Punya Nama di Luar Nurul, Ciamik Punya!
6. Prasasti Indrakila
7. Prasasti pada bantalan Arca Nandi
Adanya Arca Nandi berinskripsi di bagian alas yang dibaca oleh Arlo Griffiths sebagai berikut:
Baca Juga: 11 Korban Kecelakaan Maut GranMax Vs Bus di KM 58 Tol Cikampek Dipindah ke RS Polri
1. Namas sivaya
2. Janmaccheda
Terjemahan yang memungkinkan adalah “penghormatan kepada Siva, penyebab terhentinya kelahiran kembali”.*
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UNL, 28 September 2026: Duel Penentu Kemenangan Kedua di Yerevan
- 2Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UNL, 27 September 2026: Duel Seru di Kaunas!
- 3Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UNL, 28 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit di Tbilisi?
- 4Prediksi Skor Belgia vs Prancis di UNL, 29 September 2026: Tanpa Mbappe, Les Bleus Diuji di Brussels
- 5Prediksi Skor Turki vs Italia di UNL, 29 September 2026: Duel Dua Tim yang Sama-Sama Tertekan
- 6Prediksi Skor Latvia vs Siprus di UNL, 28 September 2026: Duel Tim yang Sama-Sama Ingin Bangkit
- 7Prediksi Skor Irlandia Utara vs Hungaria di UNL, 29 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Lanjutkan Momentum Kemenangan?
- 8Prediksi Skor Israel vs Irlandia di UNL, 28 September 2026: Duel Dua Tim yang Sama-Sama Ingin Bangkit
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!


