Jakarta

Perang Pattimura, Sejarah, Kronologi, dan Warisan dalam Pelajaran Sejarah Kelas 11

Hawa E. Azhari | 28 Agustus 2024, 13:30 WIB
Perang Pattimura, Sejarah, Kronologi, dan Warisan dalam Pelajaran Sejarah Kelas 11

AKURAT JAKARTA - Perang Pattimura adalah perlawanan rakyat Maluku terhadap kolonialisme Belanda di Maluku, khususnya di Pulau Saparua dan sekitarnya, yang terjadi pada tahun 1817.

Perang ini dipimpin oleh Kapitan Pattimura (nama asli: Thomas Matulessy), seorang pemimpin militer yang menjadi simbol perlawanan rakyat Maluku terhadap penjajahan Belanda.

Latar Belakang Perang Pattimura

Baca Juga: Tak Hanya Olimpiade, Hari Ini Para Atlet Siap Berlaga di Paralimpiade Paris 2024

1. Kembalinya Kekuasaan Belanda

Pada awal abad ke-19, Maluku berada di bawah kendali Inggris setelah Inggris berhasil mengalahkan Belanda dalam Perang Napoleon.

Namun, setelah Perjanjian London tahun 1814, Maluku dikembalikan ke kekuasaan Belanda.

Kembalinya Belanda ini disambut dengan ketidakpuasan oleh rakyat Maluku karena Belanda membawa kembali sistem monopoli perdagangan yang merugikan rakyat setempat.

2. Sistem Monopoli yang Menindas

Belanda menerapkan kembali sistem monopoli perdagangan rempah-rempah seperti cengkeh dan pala di Maluku.

Baca Juga: Yang Mau Jadi Intelijen Negara Merapat, Ini Formasi dan Syarat CPNS BIN 2024

Petani lokal dipaksa untuk menjual hasil bumi mereka hanya kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sangat rendah.

Selain itu, Belanda juga mewajibkan penduduk lokal untuk melakukan kerja paksa atau kerja rodi, yang semakin menambah penderitaan rakyat.

3. Pembangunan Benteng Duurstede

Pembangunan dan penguatan Benteng Duurstede di Pulau Saparua oleh Belanda dilihat sebagai simbol kekuasaan dan penindasan Belanda.

Benteng ini menjadi pusat pertahanan Belanda dan lambang dari dominasi kolonial.

Baca Juga: Simak Formasi CPNS 2024 Khusus Disabilitas, Lengkap dengan Cara Daftar dan Syaratnya

Kronologi Perang Pattimura

- Rapat Rahasia di Haria (Mei 1817):

Para pemimpin Maluku, termasuk Pattimura, berkumpul secara rahasia di Haria, sebuah desa di Pulau Saparua, untuk merencanakan pemberontakan melawan Belanda. Dalam rapat tersebut, mereka memutuskan untuk menyerang pos-pos militer Belanda di sekitar Pulau Saparua.

- Penyerangan Benteng Duurstede (16 Mei 1817):

Perang dimulai dengan serangan mendadak oleh pasukan Pattimura terhadap Benteng Duurstede di Saparua. Pattimura dan pasukannya berhasil menguasai benteng ini setelah pertempuran sengit. Dalam penyerangan ini, Residen Van den Berg dan pasukan Belanda lainnya tewas, sementara banyak tentara Belanda yang ditangkap atau melarikan diri.

- Penyebaran Perlawanan ke Pulau-Pulau Lain:

Baca Juga: Ide Sarapan Sederhana tapi Nikmat, Resep Bubur Ayam Cirebon, Buatnya Gampang dan Murah

Setelah kemenangan di Benteng Duurstede, semangat perlawanan meluas ke pulau-pulau lain di Maluku seperti Pulau Haruku, Pulau Seram, dan Pulau Ambon. Banyak rakyat yang bergabung dengan perlawanan ini, meningkatkan jumlah pejuang dan meluasnya front perlawanan.

- Balasan Belanda dan Pengiriman Pasukan (Juni - Agustus 1817):

Belanda merespons kekalahan mereka dengan mengirim pasukan tambahan dari Batavia (sekarang Jakarta) untuk merebut kembali benteng dan menguasai wilayah-wilayah yang memberontak. Mereka juga melakukan serangan balasan ke desa-desa yang dicurigai mendukung pemberontakan, dengan melakukan tindakan represif, termasuk pembakaran desa dan penangkapan massal.

- Pengepungan dan Pertempuran di Beberapa Lokasi (September - Oktober 1817):

Pasukan Belanda mengepung beberapa lokasi yang menjadi basis perlawanan di pulau-pulau sekitar Saparua. Pattimura dan para pejuangnya melanjutkan perlawanan dengan taktik gerilya, menghindari pertempuran terbuka dengan pasukan Belanda yang lebih besar dan lebih terlatih.

- Penangkapan Pattimura (11 November 1817):

Pattimura dan beberapa pemimpin perlawanan lainnya, termasuk Christina Martha Tiahahu, akhirnya ditangkap oleh Belanda setelah pengepungan dan pengkhianatan dari seorang informan. Pattimura dan para pemimpin perlawanan dibawa ke Ambon untuk diadili.

Baca Juga: Ide Sarapan Sederhana tapi Nikmat, Resep Bubur Ayam Cirebon, Buatnya Gampang dan Murah

- Eksekusi Pattimura dan Para Pemimpin (16 Desember 1817):

Pattimura dan beberapa rekannya dieksekusi di Benteng Victoria, Ambon, sebagai bentuk hukuman dan peringatan bagi rakyat Maluku lainnya yang mungkin ingin memberontak. Pattimura digantung oleh pihak Belanda, tetapi sebelum dieksekusi, ia menyerukan semangat perlawanan kepada rakyat Maluku.

Dampak dan Warisan Perang Pattimura

- Semangat Perlawanan: Meskipun pemberontakan ini berhasil dipadamkan oleh Belanda, semangat perjuangan dan nasionalisme yang dipimpin oleh Pattimura menjadi inspirasi bagi gerakan kemerdekaan Indonesia di kemudian hari.

- Simbol Nasionalisme: Kapitan Pattimura diabadikan sebagai pahlawan nasional Indonesia, yang dikenang karena keberanian dan kepemimpinannya dalam melawan penjajahan. Namanya diabadikan sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan ketidakadilan.

- Kebangkitan Kesadaran Kolektif: Perang Pattimura mengajarkan pentingnya persatuan dan kesadaran kolektif di antara rakyat Indonesia untuk melawan penindasan dan kolonialisme, yang kemudian menjadi dasar bagi pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Hasil Leg Kedua Playoff Liga Champions, 3 Tim Berhak Lolos ke Putaran Final

Perang Pattimura adalah salah satu dari sekian banyak contoh perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan yang menunjukkan keberanian dan keteguhan untuk mencapai kebebasan dan keadilan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.