Jakarta

NOVEL BAG. 84 : Bersanding di Pelaminan Bak Pasangan Selebriti

Sastra Yudha | 25 Agustus 2023, 22:17 WIB
NOVEL BAG. 84 : Bersanding di Pelaminan Bak Pasangan Selebriti

SEJAK malam kejadian itu, aku persering datang ke rumah Laila Yasmin. Dua hari sekali. Mulai dari sekadar ngobrol di teras rumah, sampai aku ajak jalan. Makan di restoran.

Aku juga ajak dia bersilaturahmi ke rumah kerabat dan sahabat, sekaligus menyampaikan undangan pernikahan. Membeli souvenir dan cincin perkawinan. Juga mencari kontrakan untuk ditempati setelah pernikahan.

Meskipun jalan berdua, namun terasa hambar. Seperti orang yang tak saling mengenal. Tak ada pegangan tangan. Apalagi mesra-mesraan. Tak ada kata-kata romantis, apalagi rayuan gombal. Tak ada yang mengira kami pacaran. Apalagi percaya kami bertunangan.

Tak hanya itu. Laila Yasmin kini juga jadi pendiam. Banyak murung. Aku mencoba melawak. Menghiburnya. Namun tak bergeming. Tak ada senyum yang mengembang. Apalagi tawa ceria.

Baca Juga: Berbekal Rekaman CCTV, Polisi Cari Pelaku Pemukulan Youtuber Diduga Lebih dari Satu

Bahkan, ketika sehari sebelum akad nikah, aku perkenalkan dia dengan orang tuaku yang baru datang ke Jakarta.

Baru pertama kali keluargaku bertemu dengan Laila Yasmin. Namun, sambutannya dingin. Banyak menunduk. Hanya sesekali menjawab pertanyaan dari orangtuaku.

Jawaban yang singkat. Seperlunya saja. Hanya ada dua kata yang berulang keluar dari mulutnya; "ya" atau "tidak".

"Cantik. Tapi kok pendiam banget ya," komentar ayahku, setelah perkenalan itu.

"Iya, kaya' orang bisu," timpal kakakku. "Apa ada masalah dengan bicaranya?"

"Kok sepertinya dia terpaksa ya..." sambung kakakku yang lain.

"Nggak kok kak. Biasa aja. Mungkin dia malu. Kan baru pertama ketemu," kataku.

Sikapnya memang datar. Tak ada ekspresi kegembiraan. Atau setidaknya berpura-pura germbira.

Namun tetap aku yakinkan bahwa kami baik-baik saja. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya sampai tiba di pelaminan.

Baca Juga: Kasus Eksploitasi Pekerja Migran, Polisi Cari Kaki Tangan Para Pelaku

Aku menyadari, sebelum janur kuning melengkung, siapa saja masih bisa merebut Laila dari tanganku.

Pernikahan itu sudah di depan mata. Aku tak mau ada pengkhianat cinta yang merebut dia dariku.

Akhirnya, kami sampai juga ke pelaminan. Duduk bersanding bagaikan raja dan permaisuri. Senyum bahagia tak henti-hentinya kutebar kepada setiap tamu yang datang.

Doa agar keluarga kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, terus mengalir dari setiap tamu yang datang. Kedua orangtuaku pun tampak senang. Aku bahagia tiada terkira.

Aku tak peduli dengan omongan dan gunjingan sebagian tamu yang datang. Mereka bukan bicara gosip, tapi fakta. Aku dan Laila Yasmin memang jauh berbeda.

Tapi ada juga yang menggunjingkan kami sebagai pasangan selebriti. Teman-temanku bilang, istriku mirip artis Maudy Koesnaedi. Teman-teman Laila bilang, aku mirip komedian Narji Cagur.

Ini bukan orang pertama yang bilang, aku mirip Narji. Mungkin sudah orang yang keseribu.

Baca Juga: 8 Manfaat Arang untuk Kecantikan, Simak Penjelasannya!

Aku berpikir, pernikahan adalah akhir dari perjuanganku merebut hatinya. Setelah menikah, cinta akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya.

Nyatanya, inilah awal perjuangan. Bagaimana benih yang sudah ditanam ini, bisa tumbuh dan berkembang.

Cinta memang aneh, karenanya orang bisa merasakan berbagai perasaan. Cinta memberikan rasa aman.

Cinta membuat segalanya menjadi indah. Cinta memberi warna dalam hidup. Cinta adalah anugerah dari yang Maha Kuasa. Tapi cinta juga bisa membuat seseorang putus asa.

Banyak yang bilang, menikah tanpa cinta itu banyak konsekwensinya. Di antaranya adalah, rumah tangga yang dijalani tanpa cinta akan terasa hambar, ibarat sayur tanpa garam.

Peran masing-masing individu dalam rumah tangga mungkin akan menjadi beban dan akhirnya itu akan menyiksa. Pertengkaran antara suami dan istri akan mudah terjadi, jika tak saling mencintai.

Baca Juga: Kasus Pengeroyokan Youtuber di Tebet, Polisi Periksa Enam Saksi

Karena menikah adalah menyatukan dua individu yang berbeda. Banyak hal yang akan terjadi dan dihadapi dari sudut pandang yang berbeda. Hal kecil bisa memicu timbulnya percekcokan, akhirnya saling menyalahkan dan bertengkar.

Bagiku, banyak pasangan yang menikah tanpa pacaran, tapi langgeng dan bahagia. Begitu juga sebaliknya; banyak pasangan yang bertahun-tahun pacaran, namun pernikahannya hanya bertahan seumur jagung. Semua tergantung kita. (Bersambung)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.