Amnesty Internasional Kecam Pengiriman 29 Pelajar Jakarta ke Barak TNI Karena Ikut Demo, Usman Hamid: Bukan Pembinaan, Tapi Intimidasi!

AKURAT JAKARTA – Amnesty International Indonesia mengecam program diklat militer bagi puluhan pelajar termasuk 29 pelajar Jakarta yang ditangkap pasca demonstrasi di DPR RI pada 27 Agustus 2026 lalu.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai pengiriman warga sipil ke barak militer hanya karena mengikuti aksi demonstrasi merupakan kebijakan yang melanggar hak asasi manusia (HAM).
"Kami mengecam dengan keras kebijakan yang melanggar hak asasi manusia ini. Mengirim warga dan pelajar ke barak hanya karena berpartisipasi dalam aksi demonstrasi mengirimkan pesan yang keliru ke publik luas bahwa hak untuk menyampaikan pendapat lewat demonstrasi adalah tindakan bermasalah," kata Usman dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).
Menurut Usman, kebijakan tersebut menjadi bagian dari remiliterisasi ruang sipil yang semakin menguat di Indonesia. Ia meminta program tersebut segera dihentikan.
"Alih-alih mendengarkan aspirasi warganya, negara justru merespons dengan pendekatan militeristik yang tidak memiliki dasar hukum yang jelas bagi warga sipil, terlebih anak-anak usia sekolah," ujarnya.
Amnesty juga menyebut menerima laporan kredibel terkait proses perekrutan peserta diklat yang disebut sarat intimidasi dan pemaksaan.
"Kewajiban untuk mengikuti pelatihan di barak TNI selama 10 hari jelas merupakan kesewenang-wenangan," kata Usman.
Ia juga menyebut adanya dugaan ancaman terhadap calon peserta diklat. Polisi, menurut laporan yang diterima Amnesty, disebut mengancam peserta bahwa wajah dan nama mereka telah didata sehingga akan berisiko jika kembali mengikuti demonstrasi.
"Kami menegaskan bahwa ini bukanlah program edukasi atau pembinaan, melainkan bentuk intimidasi dan represi dari negara," tegasnya.
Amnesty turut mengecam dukungan pejabat publik, termasuk Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, terhadap program tersebut.
Program itu sebelumnya didukung dengan alasan untuk memupuk nasionalisme dan rasa cinta tanah air sejak dini.
Usman menilai nasionalisme dan cinta tanah air tidak seharusnya diwujudkan melalui kepatuhan terhadap perintah.
"Nasionalisme dan cinta tanah air bukan soal patuh pada perintah, namun bagaimana membangkitkan kesadaran kritis terhadap kesewenang-wenangan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh negara, termasuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang bermasalah," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Getafe di La Liga, 25 Oktober 2026: Mampukah Los Leones Akhiri Tren Negatif?
- 2Prediksi Skor Cagliari vs Bologna di Serie A, 24 Oktober 2026: Siapakah yang Akan Kembali ke Jalur Kemenangan?
- 3Prediksi Skor Atalanta vs Frosinone di Serie A, 25 Oktober 2026: Misi La Dea Menghentikan Kejutan Tim Promosi
- 4Prediksi Skor Genoa vs Venezia di Serie A, 25 Oktober 2026: Mampukah Lagunari Lanjutkan Kejutan?
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Newcastle United di Premier League, 25 Oktober 2026: Mampukah The Eagles Manfaatkan Kerapuhan Pertahanan The Magpies?
- 6Prediksi Skor Real Sociedad vs Levante di La Liga, 26 Oktober 2026: Mampukah La Real Lanjutkan Tren Kemenangan?
- 7Prediksi Skor Hoffenheim vs Bayer Leverkusen di Bundesliga, 25 Oktober 2026: Duel Sengit di PreZero Arena
- 8Prediksi Skor Hull City vs Brentford di Premier League, 25 Oktober 2026: Mampukah The Tigers Hentikan Ketajaman The Bees?
- 9Kekurangan 464 Ribu Guru, CPNS 2027 Buka Peluang bagi Fresh Graduate
- 10Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih



