Jakarta

Makan Bergizi Gratis Adopsi Sistem Makan Sekolah Berusia 100 Tahun milik Jepang

Yusuf Doank | 25 September 2026, 23:02 WIB
Makan Bergizi Gratis Adopsi Sistem Makan Sekolah Berusia 100 Tahun milik Jepang
Ilustrasi Makan Bergizi Gratis

AKURAT JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Melalui kemitraan ini, Indonesia mengadopsi sistem makan siang sekolah (school lunch system) milik Jepang yang telah teruji dan berkembang selama lebih dari satu abad.

Langkah ini menandai pergeseran paradigma baru dalam penyelenggaraan MBG.

Baca Juga: Lagi Keracunan Massal MBG, 361 Siswa di Cilacap Mengalami Mual dan Demam

Jika sebelumnya program ini identik dengan sekadar pembagian makanan bagi siswa, kini arahnya diintegrasikan dengan pendidikan karakter dan budaya gizi sejak dini.

Jepang dikenal dengan konsep Shokuiku, yakni pendidikan pangan dan gizi berbasis pengalaman langsung.

Di Negeri Sakura, waktu makan siang sekolah dimanfaatkan sebagai sarana belajar. Para siswa diajarkan mengenali asal-usul bahan makanan, menghargai profesi petani, hingga dilatih mandiri melalui piket menyajikan makanan (kyoshoku).

Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, menegaskan esensi inilah yang ingin diserap oleh Pemerintah Indonesia.

"Kami tidak hanya ingin mempelajari aspek penyediaan makanannya, tetapi juga memahami bagaimana kegiatan makan dapat terhubung dengan pendidikan pangan dan gizi bagi siswa," kata Prima saat audiensi bersama perwakilan JICA di Jakarta.

Sistem makan sekolah di Jepang umumnya ditopang oleh dua skema utama, yakni dapur mandiri di setiap sekolah atau fasilitas dapur terpusat (central kitchen).

BGN tengah mengkaji kedua skema tersebut agar relevan dengan kondisi geografis Indonesia yang beragam.

Menurut Prima, keberagaman wilayah di Tanah Air membawa tantangan tersendiri, mulai dari kesiapan infrastruktur dapur daerah, kesenjangan komoditas lokal, hingga efisiensi distribusi.

Oleh karena itu, praktik dari Jepang tidak akan ditelan bulat-bulat, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan.

"Tentunya tidak seluruh praktik dapat diterapkan secara langsung. Esensi dan pembelajarannya dapat kita kaji untuk melihat apa yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik penyelenggaraan MBG di Indonesia," jelasnya.

Adopsi pembelajaran dari Jepang ini diproyeksikan bakal memperkuat tiga pilar krusial pada program MBG di Tanah Air:

Pendidikan Karakter: Aktivitas makan bersama melatih disiplin, kebiasaan hidup bersih, serta empati antar sesama siswa.

Literasi Gizi Praktis: Siswa memahami prinsip gizi seimbang secara langsung di meja makan, tidak hanya sebatas teori akademis.

Ekosistem Ekonomi Berkelanjutan: Operasional dapur MBG dihubungkan langsung dengan petani dan peternak lokal guna memastikan ketersediaan bahan pangan segar sekaligus menyokong ekonomi daerah.

Kolaborasi BGN dan JICA ini mempertegas komitmen pemerintah untuk menjadikan Program MBG sebagai investasi jangka panjang demi mencetak generasi muda Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y