NOVEL BAG.81 : Proposal Pernikahan

ANGKA 25 juta itu terus menguntitiku. Terngiang di telingku. Menempel di otakku. Terus mengikutiku ke mana saja aku pergi. Makan. Mandi. Tidur.
Bagi karyawan yang baru setahun bekerja, uang sejumlah itu sangatlah besar. Saat itu, upah minimun provinsi (UMP) Jakarta adalah Rp 1,2 juta. Bisa dibayangkan, butuh berapa lama aku bisa mendapatkannya.
Minta orangtua, jelas nggak mungkin. Menjual barang berharga, aku tak punya. Sama sekali. Utang di bank, tak punya jaminan.
Tapi aku yakin, kata Habib Husein, Alloh akan memudahkan setiap jalan menuju kebaikan dan ibadah. Rp 25 juta adalah uang yang harus aku sediakan untuk menikahi Laila Yasmin.
Waktu terus berjalan. Tak ada yang mampu menghentikan. Bagi yang tidak bisa mengikuti, dia akan merugi. Bagi yang tidak bisa menggunakan, dia akan termakan. Pilihan terbaiknya adalah memanfaatkan dengan maksimal.
Baca Juga: Tuntutan Tanpa Meringankan, Mario Kecewa Dengan Jaksa Penuntut Umum
Sebagai wartawan, untungnya aku punya banyak kenalan. Para pembesar di negeri ini. Politisi dan pengusaha. Selain sebagai narasumber berita, mereka adalah teman diskusi. Terkadang teman makan dan teman bersenang-senang.
Aku memaksimalkan jaringan pertemanan yang aku miliki ini. Moment pra-nikah aku menfaatkan dengan membuat proposal. Sebuah proposal pernikahan.
Aku galang dana dari para kolega. Para politisi Senayan, pejabat pemerintahan, pimpinan perusahaan, narasumber saat liputan, semua aku kasih proposal. Aku minta donaturnya untuk pernikahan.
"Pak, saya mau nikah. Tapi dana belum cukup. Ini undangan sekaligus proposalnya. Mohon bapak berkenan meluangkan waktu untuk hadir. Bila tak sempat hadir, kado pernikahan bisa diberikan sekarang," begitu ucapanku saat menemui Ketua MPR-RI, Amien Rais, di sela-sela liputan.
Baca Juga: Redam Polusi Udara di Jakarta, Heru Budi Minta BNPB Lakukan Teknologi Modifikasi Cuaca
Aku sudah kenal dengan Amien Rais, jauh sebelum ia jadi Ketua MPR. Tepatnya saat reformasi 1998. Sebagai aktivis kampus, aku beberapa kali bertemu beliau di forum-forum diskusi, seminar dan dialog kebangsaan.
"Tanggal berapa acaranya?" tanya tokoh yang populer di era reformasi itu.
"Tanggal 23 Februari, Pak."
"Sebentar, saya lihat jadwal dulu," katanya sambil berjalan ke ruangan sebelah. Ruang sekretariat.
Ia bertanya pada sekretaris pribadinya. Lalu, kembali menemuiku. "Maaf, tanggal segitu saya ada agenda keluar. Jadi, ditransfer aja ya?"
"Baik, pak. Nomor rekeningnya sudah ada di proposal, Pak."
Tak hanya Amien Rais. Ada banyak tokoh yang aku temui. Dari kalangan politisi maupun tokoh masyarakat. Jumlahnya seratusan, yang tak bisa aku sebutkan satu per satu di sini. Aku menemuinya untuk menyodorkan proposal pernikahan.
Baca Juga: Bacakan Pleidoi, Mario Minta Hakim Jangan Tergiring Opini Negatif
Begitulah yang aku lakukan. Kepada seratusan calon tamu undangan. Sedikit demi sedikit, uang terkumpulkan. Sebulan sekali, aku datang ke rumah calon mertua. Menyerahkan uang.
Uang untuk sewa tempat, katering, seragam pernikahan dan kebutuhan lainnya. Dicicil. Setiap bulan. Hingga semua terselesaikan.
Sebulan sebelum hari pernikahan, semuanya sudah ready. Bahkan, dana yang terkumpul melebihi target yang aku rencanakan.
Alhamdulillah, aku bersyukur. Tuhan telah mempermudah langkah hamba-Nya yang hendak menjalankan sunnah Rasul. Karena menikah adalah ibadah. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









