Jakarta

NOVEL BAG.88 : Alhamdulillah, Anakku Mirip Ibunya

Sastra Yudha | 30 Agustus 2023, 16:35 WIB
NOVEL BAG.88 : Alhamdulillah, Anakku Mirip Ibunya

PAGI itu, aku bermaksud mengantar Nur Laila Yasmin ke rumah orang tuanya. Tak seperti biasanya, istriku itu minta diantar sampai rumah.

Biasanya, aku hanya mengantarnya sampai ujung gang. Bahkan, sampai di rumah mertua, istriku minta agar aku menunggu sebentar. Dia mau ke toilet.

"Perutku kok mules banget ya. Apa nggak sebaiknya kita kontrol ke dokter. Aku takut kenapa-kenapa," kata istriku, saat keluar dari toilet.

Aku tak berpikiran istriku akan melahirkan. Sebab, perkiraan dokter, istriku baru akan melahirkan tiga sampai empat pekan ke depan.

Karena itu, aku pun membawa istriku ke dokter, tanpa membawa perlengkapan apapun. Niat hanya untuk kontrol kehamilan.

Sampai di Rumah Bersalin, aku langsung menuju dokter kandungan. Dokter langganan kami.

"Mulesnya makin nggak karuan nih..." keluh istriku.

Aku menghampiri suster. "Sus, saya bisa bicara dengan dokter nggak? Sepertinya istriku sudah mau melahirkan."

"Oh, iya Pak." Suster masuk ke ruang dokter.

Baca Juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Cipayung dari Warga Suka Pakai Payung

Tak lama, bu dokter keluar ruangan. "Oh, Bu Yasmin. Sini, Bu," katanya sambil menuntun istriku masuk ruang pemeriksaan.

Aku menunggu di luar dengan perasaan was-was.

"Bapak bawa perlengkapan persalinan?" tanya suster kepadaku.

"Nggak, Sus."

"Istri bapak sudah pembukaan sempurna. Sudah siap untuk lahiran."

Aku senang, sekaligus panik. Aku telpon ibu mertua. Aku kabari bahwa Laila sudah mau melahirkan.

Ibu mertuaku segera menyusul ke rumah bersalin. Sedangkan aku, pulang ke kontrakan. Aku mengambil perlengkapan persalinan dan pakaian ganti istriku.

Jarak antara Rumah Bersalin dengan kontrakanku sekitar lima kilometer. Dengan mengendarai motor, aku tempuh dalam waktu lima menit. Bolak-balik dan mempersiapkan barang-barang untuk persalinan, ya sekitar seperempat jam.

Begitu aku sampai kembali di Rumah Bersalin, aku lihat ayah dan ibu mertuaku sudah sampai duluan. Aku mendengar suara tangisan bayi. Aku bergegas.

Sampai di pintu ruang bersalin, langkahku terhenti. Aku lihat ibu mertuaku keluar ruang bersalin menggendong bayi.

Baca Juga: Sidang Vonis Mario Dandy Digelar Minggu Depan, Kamis 7 September

Aku mendengar ibu mertuaku bilang; "Alhamdulillah, cucumu mirip Yasmin. Nggak mirip ayahnya." Sambil memperlihatkan jabang bayi yang baru lahir kepada ayah mertuaku. Bayi itu adalah putriku.

"Alhamdulillah, cantiknya..." kata ayah mertuaku. Ia hendak mengadzani putriku.

Saat melihat aku berdiri di pintu, dia mengurungkan niatnya. Dia serahkan kembali bayi mungil nan cantik itu kepada ibu mertua.

Aku melangkah mendekati bayiku. Lalu aku kumandangkan adzan di telinga kanannya, dan iqomah di telinga kirinya.

"Alhamdulillah, do'aku terkabulkan." kataku lirih.

Aku bersyukur karena dua nikmat. Pertama, karena Alloh memberikan kemudahan dan kelancaran istriku dalam melahirkan. Tak butuh waktu berjam-jam. Hanya dalam waktu lima belas menit, bayiku sudah lahir.

Kedua, karena Alloh memberiku putri yang cantik, mirip ibunya. Berkulit putih kemerah-merahan. Rambut keriting. Muka oval. Alis hitam dan tebal. Mata bulat besar dan cekung. Hidung mancung. Dan bulu mata yang lentik.

Selesai mengadzani, aku serahkan perlengkapan persalinan dan pakaian ganti Yasmin kepada ibu mertuaku.

Baca Juga: Ini 4 Ruas Tol Dalam Kota yang Tidak Bisa Dilalui Kendaraan Berat Selama KTT ASEAN

Aku lihat, bayi mungilku sedang dimandikan oleh suster. Aku pergi ke musholla di belakang ruang bersalin. Aku ambil wudhu. Lalu sujud syukur.

Selanjutnya, aku pilihkan kamar perawatan VIP. Agar istri dan bayiku nyaman. Ruangan ber-AC, singlebad, ada kamar mandi di dalam. Dilengkapi juga dengan lemari dan kulkas. Serasa tinggal di hotel berbintang.

"Mau perawatan untuk berapa hari?" tanyaku.

"Tiga hari saja," jawab istriku.

Aku bersegera mengurus administrasinya. Agar istriku segera bisa istirahat.

Selagi aku mengurus administrasi, pegawai rumah bersalin memersiapkan ruangan. Lalu memindahkan istriku dari ruang persalinan menuju ruang perawatan.

Selesai urusan administrasi, aku menghampiri istriku. Aku kecup keningnya.

"Terima kasih ya sayang, kamu telah memberiku putri yang cantik. Secantik mamanya."

Istriku hanya membalas dengan tersenyum. Tapi itu bagiku sudah lebih dari cukup. Senyum yang jarang aku temukan. (Bersambung)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.