Jakarta

NOVEL BAG.106 : Derita Lelaki Jelek Beristri Cantik

Sastra Yudha | 21 September 2023, 16:14 WIB
NOVEL BAG.106 : Derita Lelaki Jelek Beristri Cantik

AKU lelah menunggu. Biasa. Wanita kalau dilepas di pusat perbelanjaan, suka lupa pulang. Begitulah kebiasaan istriku. Janjinya tiga jam saja cukup, ini sudah lima jam tak kunjung kelihatan batang hidungnya.

Aku sengaja menunggu di foodcourt. Bersama dua anakku. Putri dan Ahmad. Karena kalau aku temani istri dan anakku belanja, sering jadi pusat perhatian.

Dulu, waktu kami masih berdua, istriku dibilang cewek materai karena jalan sama om-om.

Ceritanya, aku diminta mengantar istri membeli kosmetik. Di sebuah mal di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Selesai memilih kosmetik yang pas untuknya, istriku memberikan belanjaan kepadaku. Akulah yang membayar.

Baca Juga: Mulai Tayang Hari Ini, Berikut Sinopsis Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul

Selesai belanja, aku meraih tangannya untuk kudandeng. Tapi istriku menepis. Saat itu, memang belum ada cinta di antara kami. Meski kami pasangan suami-istri.

Lalu, seorang pramuniaga berbisik ke temannya: "Lagian om-om jelek gitu, gebetannya cewek Arab. Do'i tengsin lah..! Digandeng di muka umum."

Pramuniaga satunya menimpali; "ceweknya aja yang kecentilan. Mau aja digebet sama om-om jelek gitu."

Aku mendengar. Tapi, aku sih cuek aja. Biarkan orang bicara apa. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Waktu lain, aku juga pernah dikejar-kejar security mall, karena dicurigai penculik anak.

Waktu itu, istriku baru melahirkan anak keduaku; Ahmad. Aku pun belanja kebutuhan bayi di swalayan, berdua dengan Putri.

Entah karena ngantuk atau apa, putriku lima tahun ini menangis kejer. Aku pun segera menggendongnya dan lari ke mobilku. Eh, security mall mengejarku.

Baca Juga: Kisah Presiden Soekarno Jalin Hubungan Bersejarah dengan Persija Jakarta

"Pak....pak...pak... Berhenti, Pak...! Anak siapa itu?" tanya security.

"Ya anakku lah..! Kenapa?"

"Tapi, kok....?" sambil terbengong melihat putriku.

"Tapi kok nggak mirip..? Iya..? Dia mirip ibunya." jawabku ketus.

Security itu masih menatapku dengan curiga.

"Kamu mau apa, Nak...?" tanyaku pada putriku.

"Ayah....! Pulang. Ayo pulang, ayah...!"

"Tuh...! Anakku kan..?!"

Ada cerita lain lagi. Waktu kami jalan berempat, bersama istri dan dua anak, aku dikira sopir yang tak tahu diri. Karena suka menggandeng tangan istri majikannya dan makan juga bersama majikan. Duh, ribet ya...?

Itulah sebabnya, aku jadi malas menemani istriku belanja di mall. Sambil nunggu dia belanja, lebih baik aku makan di cafe atau restoran. Asal jangan, nanti aku dikira cleaning service yang nyambi jadi pengasuh anak.

Baca Juga: Apa Itu Sajete: Salam Khas Persija dan Jak Mania

Nasib....ya nasib...! Begitulah nasib laki-laki jelek beristrikan cewek cantik. Jadi serba salah.

Tapi aku bersyukur. Untungnya, semua anak-anakku mirip ibunya. Tak ada yang mirip ayahnya. Cantik dan ganteng-ganteng. Itu berarti do'aku dikabulkan Alloh.

Hari ini, aku belanja banyak. Belanja kebutuhan rumah tangga untuk dua bulan ke depan. Maklum, bulan depan aku dapat tugas dari kantor. Tugas ke luar negeri.

Itulah kehidupan manusia. Apa yang dinyatakan, sesungguhnya hanyalah sebuah gambaran. Ia merupakan konstruksi seseorang tentang apa yang dikatakannya sebagai realitas.

Gambaran itu bukanlah keseluruhan. Ia adalah kira-kira, hanyalah perkiraan. Ia bisa benar, tetapi ia juga bisa keliru atau salah.

Perkiraan itu, umumnya, ditentukan oleh perspektif seseorang. Orang mengira-ngira berdasarkan sudut pandangnya. Orang menyatakan sesuatu berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Berburu Bakso Enak di Jakarta Selatan, Ada yang Pinggir Jalan

Orang hanya berpikir di dalam detik itu. Sementara detik selanjutnya, tak bisa dikendalikan. Ia terikat dengan detik itu. Detik kemudian dibiarkan berlalu.

Akibatnya, apa yang dipikirkan dan apa yang dinyatakan telah berlalu. Ia telah usai. Ia telah mengalami kadaluarsa.

Kehidupan seperti roda. Terus berputar. Kadang kita ada di bawah. Terkadang di atas. Saat berada di atas, jangan lupakan yang di bawah. Karena kita tak mungkin ada di atas, bila tak ada yang di bawah.

Ketika kita ada di bawah, jangan putus asa. Karena sebuah bangunan yang megah dan kokoh, ditentukan oleh pondasi di bawah.

Terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Aku bersyukur, akhirnya Tuhan mengabulkan do’a-do’aku. Hidup bahagia. Dikaruniai harta yang cukup. Pangkat atau jabatan yang tinggi. Istri yang cantik. Anak-anak yang soleh dan solehah. (Bersambung)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.