JUMAT Kliwon. Tengah malam. Aku baru saja merebahkan tubuhku yang lelah di atas ranjang. Disamping kiri putriku. Sejenak tatapan mataku tertuju ke tubuh istriku, Nur Laila Yasmin, yang terbaring ringkih di sebelah kanan putriku.
Seharian ini, aku lelah sekali. Berkelana menemui sumber berita, dari ujung timur Jakarta hingga ujung barat.
Setelah seharian mengumpulkan berita, aku kembali ke kantor untuk merajut kata demi kata sehingga menjadi berita.
Rangkaian kata yang tersusun menjadi berita itu, selanjutnya aku serahkan kepada editor atau redaktur.
Setelah berita diedit, redaktur kemudian mengirim ke layouter atau pracetak. Selanjutnya, kumpulan berita itu diatur tata letaknya, didesain halamannya sesuai kanal atau rubrikasi.
Baca Juga: Vonis 12 Tahun Penjara dan Denda Rp 25 Miliar, Mario Dandy Ajukan Banding
Selanjutnya, lembaran koran yang masih dalam bentuk PDF itu dikirim ke percetakan. Esok dini hari, kumpulan berita itu telah menjadi lembaran koran, untuk didistribusikan ke pembaca. Begitulah rutinitas pekerja pers.
Hari ini aku sangat lelah. Tak hanya lelah fisik, tapi juga pikiran. Tubuhku telentang di atas ranjang. Tatapan mataku menerawang ke atas awan. Hingga mataku terpejam.
Tiba-tiba, bagai petir di siang bolong. Aku tersentak. Mataku mendadak terbelalak. Kedua tanganku dengan sigap bertindak. Saat melihat istriku mengikat lehernya dengan kain jarik.
Kain yang biasa dipakai untuk menggendong bayiku. Ujung satunya diikatkan di tiang ranjang. Ujung lainnya untuk mengikat leher. Aku berteriak histeris. Langsung aku angkat tubuh ringkih itu kembali ke atas ranjang.
“Inna lillahi….istighfar istriku…! Istighfar sayang…! Kenapa kau lakukan ini…?!”
Istriku hanya diam membisu. Tatapan matanya kosong. Tak ada raut wajah penyesalan. Apalagi tangis kesedihan.
“Biarkan aku menjemput kematianku.”
Suaranya lirih. Tanpa ekspresi.
Baca Juga: Soal Isu Ridwan Kamil, Basri Baco Pastikan Golkar DKI Usung Bang Zaki di Pilgub DKI
“Tidak. Itu konyol…! Apakah kamu piker setelah kematian tidak ada lagi kehidupan?” Aku marah.
“Alloh akan sangat murka pada hamba yang putus asa dan bunuh diri,” kataku melanjutkan.
“Hidup pun, aku sudah tidak ada gunanya.”
Katanya tetap dengan suara lirih dan tanpa ekspresi.
“Tidak, sayang. Kamu sangat berguna untuk hidupku. Juga anakmu.”
Suasana kembali hening. Perlahan aku membuka ikatan kain jarik di tiang ranjang. Aku kuwel-kuwel, lalu aku lemparkan ke keranjang pakaian kotor.
Aku belai kembali rambut istriku yang berserakan. Aku kecup keningnya dengan mesra.
"Bang, menikahlah lagi...! Carilah wanita lain untuk kau jadikan istrimu. Supaya ada yang merawat dan melayanimu," bisiknya dengan pelan.
Baca Juga: Warga Rusun Marunda Ngeluh Air Bersih, Pemprov Bangun Reservoir
Dug....! Aku hampir tak bisa berkata-kata. Permintaan istriku agar aku menikah lagi, seolah membuka pintu untuk syetan menggodaku. Membisikiku; kembalilah ke Fathia. Dia kan sekarang janda.
"Tidak, istriku. Aku akan setia menemanimu sampai ajal memisahkan kita."
"Tapi, mungkin benar apa yang dikatakan dokter Dudi. Usiaku tak lama lagi. Aku akan mati. Sebelum aku mati, aku ingin melihat kamu bahagia. Meski dengan wanita lain."
"Tidak, sayang. Aku sekarang bahagia kok. Punya istri cantik. Punya anak cantik. Apa yang aku cita-citakan selama ini, telah dikabulkan Alloh..."
Aku kembali mengecup keningnya.
"Sudahlah, sayang...! Tidak usah berpikir yang macam-macam. Kita fokus pada pengobatan dirimu. Insya'alloh, kamu segera sembuh dan sehat seperti dulu lagi."
Aku membaringkan tubuhku di sampingnya. Aku peluk istriku dengan hangat.
Baca Juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Pinangsia Ternyata dari Bahasa Belanda
"Malam udah hampir pagi. Ayo kita tidur. Besok kita cari tempat berobat lagi," kataku.
Malam telah berlalu. Meskipun hanya sekejap aku terlelap, tapi cukuplah untuk melepas lelahku.
Adzan subuh berkumandang bertalu-talu. Aku bangun, lalu ambil wudhu. Pergi ke masjid, sholat berjamaah, lalu menyambut hari baru dengan kerja keras. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1POTRET BERINGIN JAKARTA: Dari Pengurus Pokja ke Pimpinan DPRD, Basri Baco Targetkan 13 Kursi dan Tiket Cagub DKI
- 2Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 3Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 5Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 6Prediksi Skor AC Monza vs Napoli di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Partenopei di Markas Brianzoli
- 7Prediksi Skor SC Paderborn vs Stuttgart di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Kesempatan Tuan Rumah Membalas Kekalahan
- 8Prediksi Skor Sunderland vs Brentford di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Misi Bangkit demi Tiket Perempat Final
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







