Jakarta

NOVEL BAG.103 : Kembalinya Michaella Alias Michel

Sastra Yudha | 18 September 2023, 20:37 WIB
NOVEL BAG.103 : Kembalinya Michaella Alias Michel

WAKTU terus berjalan. Hari, bulan, dan tahun telah berganti. Tujuh tahun telah berlalu. Kesehatan istriku sudah 75 persen pulih. Sudah tak ada masalah dengan nafsu makan. Aku pun memanjakannya dengan menuruti makan di restoran mana yang dia minta.

Ia juga sudah mengucapkan selamat tinggal dengan insomnia. Berat badannya pun berangsur naik, seiring dengan bertambahnya cintanya kepadaku. Dari berat 32 kg saat sakit parah, menjadi 48 kg. Berat badan yang mendekati ideal. Dengan tinggi 164 cm, berat badan idealnya 53 kg. Kurang lima kg lagi.

Istriku pun sudah dapat melayaniku dengan baik. Kebutuhan jasmani dan rohani. Pelayanan yang tak hanya karena kewajiban. Tapi, pelayanan yang disertai dengan cinta. Bahkan, Alloh sudah mempercayakan satu lagi hamba-Nya di rahim istriku.

Tak hanya urusan rumahtangga, urusan pekerjaanku pun kini lebih moncer. Setelah aku dapatkan cinta dari istriku, energiku dalam bekerja meningkat drastis.

Baca Juga: Wabah Virus Nipah Menyerang India, Kenali Gejalanya dan Tetap Waspada

Karirku di perusahaan media tempatku bekerja, pun menanjak tajam. Mulai dari reporter, lalu naik jadi redaktur (editor), dua tahun kemudian jadi Redaktur Pelaksana (Redpel), lalu naik jadi pemimpin redaksi (pemred).

Tiga tahun kemudian, aku diangkat jadi General Manager (GM), lalu jadi Wakil Direktur, kemudian jadi Direktur. Aku sudah jadi direktur perusahaan, saat usiaku 32 tahun.

Hingga suatu hari, di kantorku.

"Pak, ada telpon untuk Bapak." Rahma, sekretaris direksi memberitahuku.

"Dari siapa?" tanyaku.

"Dari wartawan media Telegraf, Pak..."

Wartawan? Dalam hatiku. Siapa ya? Aku menduga-duga. Aku angkat telepon. Wartawan di ujung sana mulai bicara:

"Good morning...! Are you mister Rahman."

"Ya...! And you...?"

"Nice to meet you," katanya.

Tapi, dia tidak menyebutkan namanya.

Baca Juga: Sudin Nakertransgi Jaktim Gelar Jobfair, Tersedia 3.000 Lowongan Kerja

"Apa Anda sudah lupa dengan suara saya?"

"Hmmm....!" Saya terdiam sejenak. Mencoba mengenali suara di ujung telepon sana. Rasanya, aku memang sudah tak asing dengan suara wanita ini.

"Michaella....?"

"Yes. Apa kabar suamiku...?"

Makjlepp....! Tiba-tiba tanganku gemetaran. Dag-dig-dug, jantungku berdetak kencang. Mulutku mendadak terkunci. Aku tak bisa berkata-kata. Bingung mau berbuat apa. Galau. Di antara marah dan rindu. Senang dan risau. Semua berkecamuk di dalam dadaku.

"Halloo...! Mister Rahman. Selamat ya...! You sekarang sudah jadi orang hebat. Sudah jadi bosnya wartawan."

Aku belum mampu menjawab. Pikiranku masih menerka-nerka, apa yang dimau dari mantanku ini?

Aku khawatir, kehadirannya akan merusak kebahagiaanku. Mengganggu ketentraman keluargaku. Mengusik keutuhan rumahtanggaku.

"Kamu pasti marah padaku. Maaf, saya tak sengaja meninggalkanmu. Waktu itu, saya sungguh-sungguh hanya mau pulang ke Belanda untuk urus perpanjangan visa. Tapi, ternyata bosku minta agar kembali berkantor di Belanda."

"Ya, nggak apa-apa. Aku nggak marah kok...!" kataku datar.

Baca Juga: Hendak Mencari Kerja di Kota Tangerang, Gadis 24 Tahun Diperkosa Teman

Aku ingin segera menyudahi perbincangan dengan Michaella. Toh tak ada gunanya aku banyak bicara dengannya. Sudah cukup. Sudah kubuang jauh-jauh rasa cinta dan benci kepada Michel.

Saat ini aku sudah bahagia dengan Nur Laila Yasmin dan anak-anakku. Tak perlu, aku memungut kembali cinta yang pernah membuatku luka.

"Oke. Sekali lagi, Iam sorry. Saya telah mengecewakan kamu," kata Michel.

"Oke. Aku kira cukup ya. Tak ada lagi yang perlu kita bahas kan...? Aku sudah memaafkan kamu."

"Oke. Thanks ya, kamu sudah hubungi aku." Telephon aku tutup.

Aku tak tahu, dari mana Michaella memperoleh nomor telephon kantorku. Juga informasi soal diriku. Mungkin dari media sosial facebook. Padahal, aku tak berteman dengannya di jejaring sosial buatan Mark Elliot Zuckerberg itu.

Atau, dia memperolehnya dari teman-teman wartawan di Indonesia. Atau, dari intelijen...?

Tak tahulah. Karena sampai saat inipun aku tak yakin, dia hanya seorang wartawan. Bisa jadi, wartawan plus. Wanita misterius. (bersambung)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.