Palang Merah Indonesia atau PMI Terbelah, Dua Politisi Senior Golkar Saling Klaim Sebagai Ketum Terpilih, Begini Kronologinya!

AKURAT JAKARTA - Organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) terbelah. Dua kubu saling mengklaim sebagai pengurus yang sah.
Dua politisi senior Partai Golkar saling mengklaim sebagai Ketua Umum (Ketum) PMI hasil Musyawarah Nasional (Munas) 2024.
Kedua politisi Golkar yang berseteru adalah Jusuf Kalla dengan Agung Laksono. Masing-masing kubu menggelar Munas.
Hasilnya, baik Jusuf Kalla maupun Agung Laksono sama-sama dipilih secara aklamasi oleh peserta Munas kubu masing-masing.
Baca Juga: Pesta Pesona di Solo Akhir Tahun Ini, Menampilkan The Changcuters, Fourtwnty, Wawes hingga Prinsa Mandagie, Harga Tiket Mulai Rp 75 Ribu
Padahal, awalnya Munas PMI berlangsung damai. Ada dua calon yang siap bertarung memperebutkan kursi Ketum PMI. Keduanya adalah Jusuf Kalla dan Agung Laksono.
Namun di tengah perhelatan Munas PMI, terjadi perselisihan antar kedua kubu bakal calon ini. Kubu Agung Laksono yang merasa dihalang-halangi, akhirnya menggelar Munas tandingan.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PMI versi kubu Agung Laksono, Ulla Nurchrawaty, menceritakan kronologi awal mula perpecahan terjadi.
Dikatakan Ulla, awalnya hanya ada satu Munas ke-22 PMI. Pihak Agung Laksono pun tidak pernah merencanakan adanya Munas tandingan.
Namun di tengah perjalanan, mereka melihat kejanggalan dalam proses Munas. "Mulai dari awal sampai pleno yang terakhir yaitu ketiga, itu sudah terjadi peristiwa atau kondisi yang sangat tidak kondusif," jelasnya.
Beberapa kejanggalan yang terjadi antara lain: ketika kubu Agung Laksono ingin membahas AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) PMI, tetapi dilarang.
"Kalau itu nanti dibuka, maka kubu Agung Laksono pasti akan memperjuangkan Ketum cukup dua periode atau paling banyak tiga periode," ungkapnya.
Baca Juga: 4 Daftar Drama Korea Vibes Butterfly Era Mirip When the Phone Rings, Siap Bikin Kamu Cengar Cengir
Jika aturan dua periode ini disetujui forum, maka Jusuf Kalla sudah tidak bisa mencalonkan lagi. Karena mantan Wapres dua periode ini sudah tiga kali menjabat Ketum PMI.
Jusuf Kalla atau JK sudah menjabat Ketum PMI sejak Munas 2009. Periode pertama 2009 - 2014, periode kedua 2014-2019, dan periode ketiga 2019-2014.
Dari sinilah awal mula perpecahan itu terjadi. Kubu JK merasa ada upaya dari kubu lawan untuk menjegal jagoannya. "Akhirnya kemudian terjadi kegaduhan," kata Ulla.
Dalam proses interupsi terkait AD/ART ini, lanjut Ulla, sempat terjadi sabotase ke kubu Agung Laksono, seperti microphone yang dimatikan, koneksi internet yang diputus, serta pembatasan terhadap interupsi dari kubu Agung Laksono.
Kejanggalan lainnya, lanjut Ulla, Munas tersebut tidak mengumumkan bakal calon Ketum PMI yang akan maju. "Jadi, Munas ke-22 PMI ini terkesan sudah diskenariokan seolah-olah tidak ada calon lain, hanya ada Jusuf Kalla," katanya.
Kecewa terhadap Munas, akhirnta kubu pendukung Agung Laksono mendorong diadakannya Munas tandingan.
"Akhirnya kemudian didesak oleh voters, terutama yang sudah menandatangani rekomendasi mendukung Agung Laksono, 200 orang lebih itu ya, minta digelar Munas sendiri," ucapnya.
Munas kemudian menetapkan Agung Laksono sebagai Ketum PMI periode 2024-2029, yang dipilih secara aklamasi.
Di Waktu yang hamper bersamaan, sidang Pleno Kedua Munas ke-22 PMI juga telah memilih Jusuf Kalla untuk kembali menjabat Ketum PMI untuk periode 2024-2029.
Ketua Sidang Pleno Kedua, Adang Rocjana, yang juga Ketua PMI Jawa Barat, mengungkapkan bahwa ada 490 peserta Munas yang hadir dan secara aklamasi Kembali memberikan amanah kepada Jusuf Kalla untuk memimpin PMI.
Dengan terpilihnya dua Ketua Umum melalui forum yang berbeda, PMI kini menghadapi ujian besar terkait legitimasi kepemimpinan.
Bagaimana konflik ini diselesaikan akan sangat menentukan masa depan PMI sebagai organisasi kemanusiaan.
Di tengah kisruh ini, harapan terbesar adalah agar PMI tetap fokus pada misi utamanya: membantu masyarakat yang membutuhkan. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Getafe di La Liga, 25 Oktober 2026: Mampukah Los Leones Akhiri Tren Negatif?
- 2Prediksi Skor Cagliari vs Bologna di Serie A, 24 Oktober 2026: Siapakah yang Akan Kembali ke Jalur Kemenangan?
- 3Prediksi Skor Atalanta vs Frosinone di Serie A, 25 Oktober 2026: Misi La Dea Menghentikan Kejutan Tim Promosi
- 4Prediksi Skor Genoa vs Venezia di Serie A, 25 Oktober 2026: Mampukah Lagunari Lanjutkan Kejutan?
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Newcastle United di Premier League, 25 Oktober 2026: Mampukah The Eagles Manfaatkan Kerapuhan Pertahanan The Magpies?
- 6Prediksi Skor Alaves vs Malaga di La Liga, 24 Oktober 2026: Misi Bangkit Tuan Rumah di Tengah Ancaman Zona Bawah
- 7Prediksi Skor Torino vs AC Monza di Serie A, 24 Oktober 2026: Mampukah Il Toro Lanjutkan Tren Positif?
- 8Prediksi Skor Real Sociedad vs Levante di La Liga, 26 Oktober 2026: Mampukah La Real Lanjutkan Tren Kemenangan?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




