Jakarta

PBB Peringatkan Risiko Perang, Ancaman Serangan Militer ke Iran Bisa Picu Ledakan Konflik

Titania Isnaenin | 16 Januari 2026, 23:18 WIB
PBB Peringatkan Risiko Perang,  Ancaman Serangan Militer ke Iran Bisa Picu Ledakan Konflik

 

 

AKURAT JAKARTA - Ditengah memanasnya konflik di Iran, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beri peringatan agar tak melakukan ancaman serangan militer. 

Pasalnya, PBB menganggap ancaman tersebut justru akan memperkeruh situasi ditengah gelombang protes besar-besaran. 

"Kami mencatat dengan keprihatinan berbagai pernyataan publik yang mengisyaratkan kemungkinan serangan militer terhadap Iran," ujar Pobee di hadapan anggota Dewan Keamanan.

Ia kembali menegaskan bahwa campur tangan asing justru berisiko memicu ledakan konflik yang lebih luas di tengah situasi domestik Iran yang belum stabil.

Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Tersembunyi di Balik Keinginan Trump Mencaplok Greenland

Krisis Kemanusiaan

Adapun aksi protes ini meledak sudah hampir tiga pekan yang diawali anjloknya nilai rial terhadap dolar.

Ditambah, nilai rial diujung jurang dan menjadi titik terendah sepanjang masa hingga alami inflasi 40 persen.

Hal ini jelas mengakibatkan melejitnya harga barang kebutuhan sehari-hari seperti minyak goreng dan daging.

Baca Juga: Iran Sebut Sanksi Ekonomi AS Ilegal dan Tak Manusiawi, Perdagangan Global Terancam

Namun konflik terus berjalan dan kini menjadi seruan politik yang menuntut mengakhiri Republik Islam dan pemerintahan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Pobee memaparkan bahwa demonstrasi yang awalnya bersifat lokal kini telah bertransformasi menjadi gejolak berskala nasional yang menelan banyak korban jiwa.

Baca Juga: Situasi Memanas, Negara-Negara Eropa Desak Warganya Segera Tinggalkan Iran

Pemerintah Iran justru merespons demonstrasi itu dengan keras dan menyebabkan setidaknya 10.600 orang ditangkap dan 496 demonstran tewas, menurut HRANA. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.