HAPPI Soroti Sistem Pangan Akuatik, Laut Sehat Jadi Kunci Ketahanan Pangan Nasional

AKURAT JAKARTA – Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir Indonesia (HAPPI) menegaskan pentingnya transformasi sistem pangan nasional dengan menempatkan pangan akuatik dan kesehatan laut sebagai fondasi utama ketahanan pangan Indonesia.
Dalam dokumen kajian yang dipaparkan Ketua Umum HAPPI, Muh. Rasman Manafi, sistem pangan tidak hanya dimaknai sebagai produksi makanan, tetapi mencakup seluruh rantai pasok dari produksi, distribusi, pengolahan, hingga konsumsi, serta dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan. Konsep ini sejalan dengan Dashboard Sistem Pangan Indonesia yang dikembangkan Bappenas.
Menurut HAPPI, sistem pangan modern harus memenuhi tiga prinsip utama yakni berkelanjutan, tangguh (resilien), dan inklusif. Berkelanjutan berarti mampu menyediakan pangan bergizi tanpa merusak lingkungan dan mengorbankan generasi mendatang.
Baca Juga: Kemenhub Buka Mudik Gratis Kapal Laut 2026, Kuota 66.082 Penumpang
Tangguh berarti mampu menyerap guncangan seperti krisis iklim, pandemi, maupun konflik global. Sementara inklusif memastikan nelayan kecil, perempuan, masyarakat adat, dan pelaku usaha skala mikro tidak tertinggal dalam rantai ekonomi pangan.
Pangan Akuatik Jadi Pilar Strategis
Indonesia memiliki potensi besar di sektor pangan akuatik. Produksi ikan nasional tercatat mencapai 13,67 juta ton untuk mendukung angka konsumsi ikan sebesar 25,31 kilogram per kapita per tahun pada 2024.
Bahkan, kontribusi sektor perikanan terhadap PDB nasional mencapai 2,51 persen dengan nilai ekspor produk perikanan sebesar USD 5,95 miliar serta menyerap sekitar 7,5 juta tenaga kerja.
Data Susenas 2018 juga menunjukkan protein ikan menyumbang 52,7 persen asupan protein hewani masyarakat Indonesia, lebih tinggi dibandingkan daging, telur, dan susu. Selain itu, jejak karbon pangan akuatik relatif lebih rendah dibandingkan komoditas protein lainnya, sehingga dinilai lebih ramah terhadap isu perubahan iklim.
Baca Juga: Legislator Golkar Farah Savira Ungkap Alasan Anggaran APBD untuk BPJS Kesehatan Hanya Rp1 Triliun
Namun di balik potensi tersebut, HAPPI menyoroti sejumlah paradoks. Indonesia masih mengekspor ikan dalam bentuk mentah, mengimpor garam dan sejumlah produk perikanan, serta menghadapi persoalan kesejahteraan nelayan yang rentan miskin. Kesenjangan ini dinilai sebagai dampak lemahnya hilirisasi, penguasaan armada dan teknologi oleh pihak asing, serta tata kelola yang belum optimal.
Laut Sehat, Ketahanan Pangan Kuat
HAPPI menegaskan tidak ada keberlanjutan pangan akuatik tanpa laut yang sehat. Kesehatan laut berperan dalam menjamin ketersediaan stok ikan, melindungi pesisir, menyerap karbon, serta menopang mata pencaharian masyarakat.
Beberapa indikator kesehatan laut yang disorot antara lain status stok ikan berkelanjutan, luas mangrove dan terumbu karang, kualitas air laut, hingga praktik penangkapan ramah lingkungan. Skor Ocean Health Index (OHI) untuk Food Provision Indonesia yang berada di angka 24 menunjukkan pengelolaan perikanan dinilai belum berkelanjutan.
Sementara skor Fishing Opportunities turun dari 93 menjadi 72 akibat praktik illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing serta konflik pemanfaatan ruang laut.
Selain aspek ketersediaan, dimensi akses dan pemanfaatan juga menjadi perhatian. Pendapatan nelayan, infrastruktur logistik, keamanan pangan hasil laut, hingga prevalensi stunting di wilayah pesisir menjadi indikator penting keberhasilan sistem pangan akuatik.
Rekomendasi Kebijakan Strategis
Dokumen tersebut juga memaparkan sejumlah kebijakan strategis yang tengah dijalankan pemerintah, mulai dari perluasan kawasan konservasi laut hingga 30 persen wilayah perairan, pengembangan akuakultur berkelanjutan, program Kampung Nelayan Merah Putih, hingga Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN).
Ke depan, HAPPI mendorong tiga langkah prioritas, yakni penghentian impor ikan dan garam yang tidak perlu guna mencapai swasembada dalam 2–3 tahun, pembangunan industri pengolahan ikan skala besar berbasis BUMN dan koperasi untuk meningkatkan nilai tambah, serta penguatan penguasaan armada dan teknologi nasional agar 70 persen produksi dikuasai dalam 10 tahun ke depan.
Dengan pendekatan sistem pangan yang terintegrasi dan tata kelola laut yang berkelanjutan, HAPPI optimistis Indonesia dapat keluar dari paradoks sebagai negara maritim kaya sumber daya namun belum sepenuhnya berdaulat dalam pangan laut.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Valencia di La Liga, 16 September 2026: Ujian Berat Tim Juru Kunci di Mendizorroza
- 2Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di La Liga, 15 September 2026: Mampukah El Submaniro Amarillo Bangkit dan Raih Kemenangan Perdana?
- 3Prediksi Skor West Ham vs Fulham di Carabao Cup, 16 September 2026: Mampukah The Hammers Lanjutkan Tren Positif?
- 4Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia, 15 September 2026: Mampukah Grifone Hentikan Tren Buruk?
- 5Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di La Liga, 16 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Krisis Pertahanan?
- 6Prediksi Skor Como vs Parma di Serie A, 14 September 2026: Mampukah Tim Asuhan Cesc Fabregas Lanjutkan Tren Positif?
- 7Prediksi Skor Leeds United vs Newcastle United di Premier League, 15 September 2026: Mampukah The Whites Hentikan Rekor The Magpies?
- 8Prediksi Skor Torino vs AS Roma di Serie A, 14 September 2026: Mampukah Toro Menghentikan Laju Giallorossi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





