BMKG Pantau Ketat 3 Segmen Megathrust Potensial di Indonesia

AKURAT JAKARTA – BMKG mengawasi secara ketat tiga segmen megathrust di Indonesia yang berpotensi memicu gempa bermagnitudo besar.
Ketiga wilayah tersebut dipantau intensif karena sudah lama tidak melepaskan energi seismik utama.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa seluruh segmen di zona megathrust pada dasarnya memiliki kapasitas menghasilkan gempa kuat.
Baca Juga: Wisata Flores Kembali Bergeliat Pascagempa, Namun Ada 22 Desa yang Belum Bisa Menerima Turis
Namun, pengawasan ekstra difokuskan pada segmen Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba.
"Contohnya segmen Mentawai-Siberut, itu sudah lama tidak terjadi gempa besar. Segmen di Selat Sunda, yang masuk wilayah Jawa bagian barat, juga sudah lama tidak melepaskan energi besarnya. Tiga segmen ini yang terus kami monitor," ujar Wijayanto.
Sementara itu, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengungkapkan bahwa perhatian khusus pada segmen Mentawai-Siberut dan Selat Sunda didasari oleh adanya indikasi seismic gap.
Berdasarkan jurnal BMKG (2021), seismic gap merupakan wilayah aktif seismik berpotensi tinggi yang belum melepaskan energi sebagai gempa besar dalam jangka waktu panjang.
Meski demikian, Daryono menekankan bahwa kondisi ini merupakan potensi jangka panjang dan bukan ramalan gempa dalam waktu dekat.
"Secara ilmiah harus dibedakan antara 'memiliki kapasitas menghasilkan gempa besar' dan 'akan segera mengalami gempa besar'," tegas Daryono.
Para ahli mengombinasikan berbagai parameter untuk mengukur potensi gempa megathrust, antara lain:
Geometri dan Luas Bidang Kontak: Semakin luas area yang bergeser (rupture), semakin besar magnitudo gempa yang dihasilkan.
Laju Konvergensi Lempeng: Kecepatan lempeng saling mendekat menggambarkan seberapa cepat regangan tektonik terakumulasi.
Tingkat Penguncian (Coupling): Mengukur akumulasi slip deficit atau potensi gerakan terhambat pada bidang kontak.
Paleosismologi dan Sejarah Gempa: Mempelajari jejak gempa serta tsunami purba.
Geodesi (GNSS/GPS): Mengukur deformasi kerak bumi dan akumulasi regangan.
Analisis Aktivitas Gempa: Memahami struktur zona subduksi melalui pola gempa lokal dan gempa susulan.
Daryono menambahkan, Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia terus diperbarui berbasis data geologi, seismologi, dan pemodelan terbaru.
"Bertambahnya jumlah segmen pada peta bukan berarti bumi tiba-tiba memiliki lebih banyak megathrust, melainkan hasil pemetaan sumber gempa yang kini lebih detail dan ilmiah," pungkasnya.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Bochum vs Mainz 05 di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Menghentikan Dominasi Tim Bundesliga?
- 3Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Hamburger SV vs Eintracht Frankfurt di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Duel Dua Tim dengan Pertahanan Rapuh
- 5Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 6Prediksi Skor Sonnenhof Grossaspach vs Augsburg di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Die Fuggerstadter
- 7Prediksi Skor Borussia Dortmund vs Werder Bremen di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah BVB Mempertahankan Dominasi?
- 8Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







