Jakarta

Transformasi Industri 4.0 Dipercepat, Pemerintah Gandeng Startup Kembangkan Teknologi Kebencanaan

Yusuf Doank | 22 September 2026, 02:17 WIB
Transformasi Industri 4.0 Dipercepat, Pemerintah Gandeng Startup Kembangkan Teknologi Kebencanaan
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita

AKURAT JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mengakselerasi transformasi industri 4.0 dengan mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk penanggulangan bencana.

Langkah ini diwujudkan melalui kolaborasi bersama perusahaan rintisan (startup) lokal guna memperkuat upaya mitigasi, pemetaan, hingga pemulihan pascabencana.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa transformasi digital harus berorientasi pada kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.

Baca Juga: Tak Perlu Jadi Pekerja Jepang, Visa Digital Nomad Bisa Jadi Jalan Tinggal Sementara

Menurutnya, pemanfaatan teknologi perlu diiringi dengan perubahan pola pikir (mindset) agar dampaknya terasa optimal.

"Komponen terpenting dalam proses transformasi digital adalah kesadaran akan manfaat penggunaan peralatan digital. Tidak sekadar kemampuan mengadopsi teknologi, tetapi harus sejalan dengan perubahan mindset digital," ujar Agus di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Guna mendukung percepatan ini, Kemenperin menjadikan Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0) sebagai hub teknologi bagi sektor manufaktur nasional.

Hingga saat ini, PIDI 4.0 telah menjalin kemitraan dengan sedikitnya 65 entitas yang terdiri atas industri, penyedia teknologi, asosiasi, dan perguruan tinggi.

Plt Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Adie Rochmanto Pandiangan menjelaskan, PIDI 4.0 telah menggandeng dua startup lokal yang berfokus pada teknologi kebencanaan, yakni TechnoGIS asal Sleman, Yogyakarta, dan BATARI Energy dari Cimahi, Jawa Barat.

"PIDI 4.0 Kemenperin memiliki kemitraan dengan TechnoGIS dan BATARI Energy. Kedua perusahaan rintisan ini berhasil melahirkan inovasi teknologi yang bermanfaat bagi pencegahan dan penanggulangan bencana di Indonesia," kata Adie.

TechnoGIS mengembangkan teknologi geospasial seperti NiVO VTOL—pesawat nirawak untuk pemetaan wilayah terdampak bencana secara cepat—serta Blue Marine Echosounder yang berfungsi memetakan patahan bawah laut dan potensi banjir luapan sungai.

Sementara itu, BATARI Energy berfokus pada solusi energi bersih dengan menyediakan panel surya portabel untuk pasokan listrik darurat di area bencana, serta Baterai drone berkapasitas tinggi untuk mendukung pemetaan udara.

Sebagai bentuk dukungan penguatan pasar, Kemenperin memfasilitasi kedua startup tersebut dalam ajang Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026 yang digelar BNPB di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Keikutsertaan ini diharapkan mampu membuka peluang kerja sama bisnis (business-to-business) di tingkat global.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y