Asal-usul Bandung, Surga Pembuangan bagi Pejabat-pejabat Korup dari Batavia

AKURAT JAKARTA - Dalam catatan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, meletus momen heroik di Jawa Barat pada 24 Maret 1946 yang dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api.
Peristiwa bumi hangus itu dianggap sebagai tindakan tepat terhadap tuntutan Sekutu dan Belanda kepada Tentara Republik Indonesia untuk mengosongkan Bandung Selatan paling lambat pada tengah malam, 24 Maret 1946.
Selain itu, Tentara Republik Indonesia juga diminta mundur sejauh 11 kilometer ke arah selatan.
Baca Juga: IMCD Indonesia Luncurkan Program CSR Green Smart Leaders, Gandeng YCAB Foundation
Pada siang hari, 24 Maret 1946, Tentara Republik Indonesia dan penduduk mulai mengosongkan Bandung Selatan dan mengungsi ke selatan.
Namun, proses pengosongan itu disertai dengan aksi bumi hangus dari para pejuang dari Ujung Berung hingga Cimahi.
Sementara di waktu yang sama, Tentara Rakyat Indonesia juga melakukan serangan ke wilayah utara Bandung yang sudah lebih dulu dikuasai Sekutu.
Baca Juga: Penduduk Asli Jakarta yang Kini Terpinggirkan, Bagaimana Sejarah Munculnya Orang Betawi?
Pada hari itu, kobaran api sepanjang 12 kilometer dari timur ke barat Bandung membara bak lautan api membakar gedung-gedung penting milik Indonesia.
Aksi pembakaran Kota Bandung dilakukan agar tidak dapat dipakai pasukan Sekutu sebagai markas strategis militer mereka.
Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik padam mewarnai serangan Tentara Inggris kepada para pejuang.
Baca Juga: WASPADA! Diduga Mengandung Zat Berbahaya, Es Krim Magnum Produk Unilever Ditarik dari Pasaran, Simak Penjelasannya di Sini
Bandung sebagai nama suatu wilayah memiliki akar sejarang panjang.
Edi S. Ekadjati dan kawan-kawan dalam Sejarah Kota Bandung 1945-1979 menulis, meski membutuhkan validasi lebih lanjut, daerah Bandung berdasarkan beberapa catatan sudah menjadi bagian dari Kerajaan Pajajaran pada 1448.
Sementara, Piagam Sultan Agung Mataram bertitimangsa dina Saptu tanggal ping sanga wulan Muharam tahun Alip menjadi bukti sejarah tentang pengangkatan Tumenggung Wiraangoenangoen sebagai Bupati Bandung pertama.
Baca Juga: Dibuka Pendaftaran Anggota PPS untuk Pilkada DKI Jakarta, Butuh 220 Orang untuk 44 Kecamatan
Dr. F . de Haan menyatakan bahwa tanggal itu bertepatan dengan 20 April 1641 yang kemudian berdasarkan SK DPRD Kabupaten Bandung Nomor 10/ KPTS/ DPED/1973 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Bandung.
Pengangkatan Tumenggung Wiraangoenangoen sebagai Bupati Bandung menunjukkan bahwa di daerah Bandung waktu itu sudah ada pemukiman sekitar 1641 jiwa.
Tumenggung Wiraangoenangoen menjadikan Krapyak atau Bojongasih sebagai Ibu Kota Kabupaten Bandung yang waktu itu memiliki penduduk 400 keluarga.
Baca Juga: Resep Sayur Sop, Caranya Mudah Tinggal Masukin Sayuran Enak Seger
Krapyak terletak di tepi Sungai Cikapundung yang bermuara di Citarum.
Krapyak sempat berubah nama menjadi Citeureup, sebelum sekarang akhirnya berganti nama menjadi Dayeuhkolot.
Selama beribukota-kan Krapyak, Kabupaten Bandung mengalami lima kali pergantian bupati.
Baca Juga: UU DKJ Bakal Mendorong Jakarta Jadi Pusat Perdagangan Internasional
Bupati kedua, Tumenggung Ardikusumah (1681 - 1704); bupati ketiga, Tumenggung Nyili bergelar Tumenggung Anggadireja I (1704- 1747); bupati keempat , Demang Natapraja bergelar Tumenggung Anggadireja ll (1 747 - 1763): Bupati kelima R. Anggadireja III bergelar R.A. Wiranatakusumah I (1763-1794); dan Bupati keenam, R.A. Wiranatakusumah II, dikenal dengan sebutan "Dalem Kaum", (1974- 1829.)
Bandung berasal dari kata 'bendung' yang berkaitan dengan peristiwa terbendungnya Sungai Citarum akibat aliran lahar dari letusan Gunung Tangkubanperahu pada zaman prasejarah.
Aliran sungai Citarum itu mengakibatkan daerah di sisi barat sungai (daratan Batujajar sampai Padalarang) dan sebelah timur sungai (dataran Bandung sampai Cicalengka) tergenang air hingga menjadi sebuah danau besar.
Baca Juga: Inilah Doa Kaya Raya dari Nabi Sulaiman, Dapat Diamalkan Secara Rutin
Pendapat lain mengatakan Bandung berarti besar yang dihubungkan dengan Danau Bandung yang memiliki genangan air yang tenang, luas dan menyeramkan.
Bahasa Sunda mengenal istilah "ngabandeng" atau "ngajumbleng" yang diduga berasal dari kata "bandeng".
Kata bandeng itu kemudian berubah menjadi "bandung".
Baca Juga: Napak Tilas Bandung Lautan Api Lewat Monumen di Lapangan Tegallega, Berdiri Menjulang di Area Seluas 16 Hektare
Dalam Bahasa Sunda kata bandung identik dengan "banding" dalam bahasa Indonesia yang berarti berdampingan.
Dinamakan Danau Bandung karena airnya telah menggenangi dua daratan yang berdampingan, yaitu daratan di sebelah barat dan sebelah timur dari Sungai Citarum.
Karena kondisi alamnya yang masih berbentuk hutan rimba menyeramkan, Pemerintah Kompeni di Batavia sempat menjadikan Bandung sebagai tempat pembuangan bagi pejabat atau tentara Kompeni yang melakukan korupsi atau penipuan.
Baca Juga: Pemerintah Daerah Khusus Jakarta Diberi Kewenangan Batasi Jumlah Kendaraan Warganya
Pada 1741, empat orang asing dibawa ke Bandung untuk bermukim di sana.
Pertama, Kopral Arie Top, komandan tentara Kompeni yang diberi tugas sebagai pengawas.
Orang kedua dan ketiga, kakak-beradik, Ronde dan Jan Geysbergen, serta orang yang keempat, kopral tua yang dibuang dari Batavia karena kasus korupsi.
Baca Juga: Fans BabyMonster Bersiaplah! Penjualan Tiket Fanmeet Dilakukan Secara Eksklusif Pada Kamis 2 Mei 2024, Simak Infonya di Sini
Kondisi alam Bandung yang ganas waktu itu, membuat pembesar-pembesar Kompeni di Batavia meyakini si kopral tua akan mati di tempat pembuangan.
Kenyataannya berbanding terbalik, dengan dibantu Ronde dan Jav Geysbergen, si kopral tua membuka hutan, berkebun, dan mendirikan perusahaan pengergajian kayu di Bandung.
Dalam waktu singkat, kopral tua itu menjadi kaya-raya dan menjadi tuan tanah yang makmur.
Sejak itu, banyak orang luar berdatangan ke Bandung dan mereka menjuluki Bandung sebagai "Paradise ill exile", surga dalam pembuangan.
Baca Juga: Motif Pembunuhan Ibu Hamil di Kelapa Gading, Korban Ditinggal saat Pendarahan Hebat di Ruko hingga Meninggal
Ibu Kota Kabupaten Bandung Dipindah
Pada masa pemerintahan Bupati R.A . Wiranatakusumah II terjadi peristiwa penting.
Ibu Kota Kabupaten Bandung dipindah dari Krapyak ke kota Bandung sekarang atas perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808- I811).
Baca Juga: Karomah Habib Cikini, Dari Makam Beliau Kaluar Air yang Mengalir Deras saat Akan Dipindah Pihak Apartemen
Deandels saat itu sedang mengerjakan proyek besar berupa pembuatan jalan raya/jalan pos dari Anyer di ujung barat sampai ke Panarukan di ujung timur Pulau Jawa.
Deandels ingin mewujudkan ambisinya memelihara keamanan dan mempertahankan Pulau Jawa dari ancaman pasukan Inggris yang berada di kawasan Asia.
Namun, di Kabupaten Bandung, ternyata jalan raya pos Deandels itu itu tidak melalui Kraypyak.
Baca Juga: Resep Sayur Bening Bayam, Praktis Mudah Banget Menyehatkan
Melainkan melintasi Sungai Cikapundung yang kira-kira berjarak 11 kilometer arah utara dari Krapyak.
Karena letak jalan dinilai terlalu jauh dari Ibu Kota Kabupaten, Deandels memerintahkan Wiranatakusumah II untuk memindahkan ibu kota ke daerah Cikapundung.
Apalagi, Daendels mengetahui lahan di daerah Cikapundung yang dilintasi jalan raya pos sangat subur.
Baca Juga: Jakarta Tidak Bisa Kendalikan Laju Urbanisasi, Kemendagri: Bagaimana Membatasi Orang Masuk?
Wiranatakusumah II mematuhi perintah Deandels dengan penduduk membuka hutan.
Mula-mula, Wiranatakusumah II mendirikan pesanggrahan di Cikalintu (berada di daerah Cipaganti).
Sejak itu, Krapyak yang tidak lagi menjadi ibu kota disebut orang-orang sebagai Dayeuh Kolot yang berarti kota lama.
Baca Juga: Penonaktifan 92.432 NIK Warga Tidak Lagi Berdomisili di Jakarta, Perlu Sosialisasi
Namun, berhubung pesanggrahan di Cikalintu masih cukup jauh dari jalan raya Deandels, Wiranatakusumah II mendirikan lagi pesangrahan kedua di Kampung Balubur Hilir (daerah tempat Balai Kota sekarang).
Pembangunan pesangrahan ini bertepatan dengan selesainya pembangunan jembatan Cikapundung dekat Gedung Merdeka sekarang.
Dengan didampingi Wiranatakusumah II, Daendels menyeberangi jembatan berjalan kaki ke arah timur hingga sampai di suatu tempat mereka berhenti.
Baca Juga: Golkar Putuskan Ridwan Kamil Calon Tunggal untuk Pilgub Jawa Barat, Bang Zaki Bakal Melenggang ke Jakarta
Sambil menancapkan tongkap kayu Daendels berkata, "zorg. dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd."
Artinya, "coba usahakan. bila aku datang kembali ke sini telah dibangun sebuah kota!"
Di tempat Daendels menancapkan tongkatnya itu kemudian dipasang patok tanda kilometer "0" (nol).
Baca Juga: Kecelakaan Maut di Lampung, Remaja Putri Tewas Saat Mengejar Jambret HP Miliknya
Menurut istri Wiranatakusumah V atau lebih dikenal Dalem Haji, Bupati Bandung ke-11 (1920-1931), nama "Bandung" untuk ibu kota baru itu berasal dari ide Wiranatakusumah II yang diambil dari sebutan " perahu bandungan".
Ketika pertama kali akan meninjau pembangunan kota, Wiranatakusumah II lebih dulu menyusuri sungai dengan menggunakan "perahu bandungan".
Selanjutnya, Wiranatakusumah II menggunakan jalan darat menuju ke pusat Kota Bandung sekarang.*
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Nottingham Forest vs Coventry City di Premier League, 19 September 2026: Mampukah The Sky Blues Hentikan Tren Buruk?
- 2Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Premier League, 19 September 2026: Duel Ketat Dua Tim Papan Tengah di Hill Dickinson
- 3Prediksi Skor Newcastle United vs Hull City di Premier League, 19 September 2026: Misi The Magpies Bangkit dari Kekalahan Telak
- 4Prediksi Skor Stuttgart vs Borussia Dortmund di Bundesliga, 19 September 2026: Bisakah Die Roten Hentikan Laju BVB?
- 5Prediksi Skor Celta Vigo vs Racing Santander di La Liga, 19 September 2026: Mampukah Los Celestes Raih Kemenangan Perdana?
- 6Prediksi Skor Venezia vs Lazio di Serie A, 20 September 2026: Mampukah Biancocelesti Lanjutkan Tren Positif?
- 7Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Deportivo Alaves di La Liga, 19 September 2026: Mampukah Los Leones Balas Kekalahan Musim Lalu?
- 8Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Ligue 1, 20 September 2026: Duel Ketat Dua Tim Belum Terkalahkan
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!



