Jakarta

Sejarah Partai Masyumi: Pemenang Pemilu 1955, Konflik dengan Soekarno, dan Dibubarkan Karena Terlibat PRRI

Muchammad Awan Wicaksono | 6 Februari 2024, 17:30 WIB
Sejarah Partai Masyumi: Pemenang Pemilu 1955, Konflik dengan Soekarno, dan Dibubarkan Karena Terlibat PRRI

AKURAT JAKARTA - Dalam sejarah politik Indonesia, Partai Masyumi sempat menjadi salah satu partai politik besar.

Partai Masyumi bahkan sempat menjadi pemenang Pemilu pertama tahun 1955 bersama PNI, PKI, dan Nahdlatul Ulama.

Adapun Partai Masyumi dibentuk pada Oktober 1943, ketika Jepang terseret Perang Pasifik melawan Amerika Serikat.

Dalam perjalanan politiknya, Masyumi dibubarkan oleh Soekarno karena diduga mendukung pemberontakan PRRI.

Baca Juga: Apa yang Terjadi pada 6 Februari dari Tahun ke Tahun, Ini Sejarah yang Tercatat di Dunia dan Indonesia

Sejarah Berdiri

Ketika pertama kali dibentuk, Masyumi bukanlah sebuah partai politik, melainkan organisasi Islam.

Organisasi Masyumi ini dibentuk oleh Jepang karena dianggap bisa membantu mengendalikan umat Islam di Indonesia kala itu.

Di masa pendudukan Jepang, Masyumi hanya sebuah organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan beberapa ormas Islam lainnya.

Akan tetapi dalam beberapa tahun, Masyumi kemudian berubah menjadi partai politik besar di Indonesia kala itu.

Baca Juga: Sejarah Berdirinya PNI, Partai Pemenang pada Pemilu Pertama Tahun 1955

Pendiri Masyumi kala itu adalah KH Wachid Hasyim, Moh Natsir, dan Kartosoewirjo.

Pada tahun 1955, ketika Pemilu pertama kali digelar, Masyumi berhasil menjadi partai pemenang bersama PNI, PKI, dan Nahdlatul Ulama.

Dibubarkan

Dalam dinamika politik Indonesia, Masyumi pada akhirnya dibubarkan oleh Soekarno.

Alasannya yaitu:

  • Realisasi Soekarno terkait politik, demokrasi, dan revolusi
  • Konflik antara Soekarno dan Masyumi.

Baca Juga: Sempat Menjadi Partai Besar, Bagaimana Sejarah PKI Mampu Menggaet Suara Besar di Pemilu

Soekarno sering dikritik oleh para anggota Masyumi, terutama oleh Moh. Natsir.

Hal ini kemudian menimbulkan rasa khawatir dari Soekarno jika Masyumi dibiarkan.

Soekarno kemudian membubarkan Masyumi secara perlahan. Salah satunya adalah menghilangkan perlahan perannya di pemerintahan dan legislatif.

Selain itu, Soekarno menuduh beberapa pimpinan Masyumi terlibat dalam pemberontakan PRRI.

Para pimpinan itu adalah Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan Burhanuddin Harahap.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.