Sejarah Partai Masyumi: Pemenang Pemilu 1955, Konflik dengan Soekarno, dan Dibubarkan Karena Terlibat PRRI

AKURAT JAKARTA - Dalam sejarah politik Indonesia, Partai Masyumi sempat menjadi salah satu partai politik besar.
Partai Masyumi bahkan sempat menjadi pemenang Pemilu pertama tahun 1955 bersama PNI, PKI, dan Nahdlatul Ulama.
Adapun Partai Masyumi dibentuk pada Oktober 1943, ketika Jepang terseret Perang Pasifik melawan Amerika Serikat.
Dalam perjalanan politiknya, Masyumi dibubarkan oleh Soekarno karena diduga mendukung pemberontakan PRRI.
Sejarah Berdiri
Ketika pertama kali dibentuk, Masyumi bukanlah sebuah partai politik, melainkan organisasi Islam.
Organisasi Masyumi ini dibentuk oleh Jepang karena dianggap bisa membantu mengendalikan umat Islam di Indonesia kala itu.
Di masa pendudukan Jepang, Masyumi hanya sebuah organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan beberapa ormas Islam lainnya.
Akan tetapi dalam beberapa tahun, Masyumi kemudian berubah menjadi partai politik besar di Indonesia kala itu.
Baca Juga: Sejarah Berdirinya PNI, Partai Pemenang pada Pemilu Pertama Tahun 1955
Pendiri Masyumi kala itu adalah KH Wachid Hasyim, Moh Natsir, dan Kartosoewirjo.
Pada tahun 1955, ketika Pemilu pertama kali digelar, Masyumi berhasil menjadi partai pemenang bersama PNI, PKI, dan Nahdlatul Ulama.
Dibubarkan
Dalam dinamika politik Indonesia, Masyumi pada akhirnya dibubarkan oleh Soekarno.
Alasannya yaitu:
- Realisasi Soekarno terkait politik, demokrasi, dan revolusi
- Konflik antara Soekarno dan Masyumi.
Baca Juga: Sempat Menjadi Partai Besar, Bagaimana Sejarah PKI Mampu Menggaet Suara Besar di Pemilu
Soekarno sering dikritik oleh para anggota Masyumi, terutama oleh Moh. Natsir.
Hal ini kemudian menimbulkan rasa khawatir dari Soekarno jika Masyumi dibiarkan.
Soekarno kemudian membubarkan Masyumi secara perlahan. Salah satunya adalah menghilangkan perlahan perannya di pemerintahan dan legislatif.
Selain itu, Soekarno menuduh beberapa pimpinan Masyumi terlibat dalam pemberontakan PRRI.
Para pimpinan itu adalah Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan Burhanuddin Harahap.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 3Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 4Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 5Prediksi Skor AC Monza vs Napoli di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Partenopei di Markas Brianzoli
- 6Prediksi Skor SC Paderborn vs Stuttgart di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Kesempatan Tuan Rumah Membalas Kekalahan
- 7POTRET BERINGIN JAKARTA: Dari Pengurus Pokja ke Pimpinan DPRD, Basri Baco Targetkan 13 Kursi dan Tiket Cagub DKI
- 8Prediksi Skor Sunderland vs Brentford di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Misi Bangkit demi Tiket Perempat Final
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!








