Fraksi Golkar Nilai Raperda Sistem Pangan Daerah Belum Kuat, Soroti Celah Pengaturan CPPD

AKURAT JAKARTA - Fraksi Golkar menilai Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penyelenggaraan Sistem Pangan Daerah masih memiliki sejumlah kelemahan fundamental.
Terutama dalam pengaturan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) yang menjadi instrumen penting ketahanan pangan Jakarta.
Hal ini disampaikan Anggota Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Dimaz Raditya, dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta tentang Raperda Penyelenggaraan Sistem Pangan Daerah, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Garuda Muda Masuk Grup Neraka, Indonesia, Jepang, China, dan Qatar di Piala Asia U-17 2026
"Fraksi Partai Golkar memandang Cadangan Pangan Pemerintah Daerah sebagai jantung sistem ketahanan pangan Jakarta, terutama dalam kondisi darurat, gejolak harga, bencana, atau gangguan pasokan dari luar daerah," ujar Dimaz.
Namun, ia menilai pengaturan dalam Raperda belum cukup mengunci aspek-aspek penting yang justru menjadi fondasi pengelolaan CPPD.
"Ranperda ini belum cukup kuat karena belum secara eksplisit mengunci kewajiban adanya stok minimum berbasis analisis risiko, mekanisme penentuan penerima manfaat yang objektif dan berbasis data, sistem pengawasan untuk mencegah kebocoran penyaluran," tukas Dimaz.
"Serta pengaturan pembiayaan pemeliharaan CPPD oleh BUMD yang transparan dan realistis," imbuhnya.
Ia juga menyoroti klausul yang menyebut pemeliharaan CPPD dilakukan "tanpa biaya". Menurutnya, hal itu tidak realistis dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.
"Biaya gudang, transportasi, penyusutan, dan logistik pasti ada. Jika tidak dicatat secara transparan, maka akan muncul beban tersembunyi pada BUMD yang pada akhirnya juga berdampak pada keuangan daerah," tegasnya.
Ketua Komisi C itu menekankan pentingnya akuntabilitas setiap belanja pemerintah yang terkait program pangan.
“Setiap rupiah yang digunakan untuk program pangan harus bisa dilacak, diaudit, dan dievaluasi manfaatnya,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan perlunya penguatan dalam regulasi tersebut. "Perda harus menegaskan kewajiban audit program CPPD, pelaporan volume stok dan penyaluran, serta indikator keberhasilan intervensi," tandas Dimaz. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UNL, 28 September 2026: Duel Penentu Kemenangan Kedua di Yerevan
- 2Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe di UNL, 29 September 2026: Duel Ketat Minim Gol di Chisinau
- 3Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UNL, 27 September 2026: Duel Seru di Kaunas!
- 4Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UNL, 28 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit di Tbilisi?
- 5Prediksi Skor Belgia vs Prancis di UNL, 29 September 2026: Tanpa Mbappe, Les Bleus Diuji di Brussels
- 6Prediksi Skor Turki vs Italia di UNL, 29 September 2026: Duel Dua Tim yang Sama-Sama Tertekan
- 7Prediksi Skor Irlandia Utara vs Hungaria di UNL, 29 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Lanjutkan Momentum Kemenangan?
- 8Prediksi Skor Latvia vs Siprus di UNL, 28 September 2026: Duel Tim yang Sama-Sama Ingin Bangkit
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







