Legislator Golkar Ramly HI Soroti Skema Gaji Nakes, BLUD RS Diminta Jangan Jadi Penopang Kekurangan APBD

AKURAT JAKARTA - Wakil Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Ramly HI Muhamad, menyoroti skema pembayaran gaji tenaga kesehatan (nakes) di rumah sakit daerah yang dinilai masih bergantung pada Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) akibat keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Ramly mengungkapkan temuan di lapangan bahwa alokasi APBD untuk pembayaran gaji pegawai tidak tetap (PTT) belum mencukupi dalam satu tahun anggaran.
Ia mencontohkan kondisi di RSUD Cengkareng, di mana APBD hanya mampu menutup pembayaran gaji selama dua bulan, sementara sisanya harus ditanggung oleh skema BLUD.
"APBD hanya bayar dua bulan. Sisanya, sekitar 10 bulan, ditutup oleh BLUD. Ini kan bukan hal kecil," ujar Ramly dalam rapat Komisi E DPRD DKI Jakarta bersama Dinas Kesehatan, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, ketergantungan terhadap BLUD berpotensi menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan rumah sakit, terutama jika pendapatan layanan tidak mencapai target.
Ramly mengingatkan agar perencanaan anggaran tidak terlalu mengandalkan proyeksi pendapatan BLUD tanpa kepastian realisasi di lapangan.
"Jangan dihitung dulu dari BLUD. Kalau tidak tercapai, bagaimana nanti? Ini harus jadi catatan penting," tegasnya.
Anggota Komisi E itu menilai, skema seperti ini dapat berdampak pada keberlangsungan pelayanan kesehatan, mengingat rumah sakit harus tetap menjaga kualitas layanan di tengah beban pembiayaan yang besar.
Selain itu, Ramly juga menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam menyusun proyeksi pendapatan BLUD, terutama jika dijadikan dasar untuk menutup kebutuhan belanja rutin seperti gaji pegawai.
"Kalau target pendapatan tidak tercapai, bisa berdampak langsung ke operasional rumah sakit," katanya.
Untuk itu, ia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Bappeda dan Dinas Kesehatan untuk memastikan perencanaan anggaran gaji tenaga kesehatan lebih realistis dan tidak membebani BLUD secara berlebihan.
Ramly menegaskan, pembiayaan tenaga kesehatan seharusnya menjadi tanggung jawab utama APBD, mengingat peran vital mereka dalam memberikan layanan kepada masyarakat. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di La Liga, 20 September 2026: Duel Tim Kejutan di Riazor
- 2Prediksi Skor Leeds United vs Crystal Palace di Premier League, 20 September 2026: Mampukah The Whites Pertahankan Tren Positif?
- 3Prediksi Skor Villarreal vs Levante di La Liga, 20 September 2026: Mampukah El Submarino Amarillo Lanjutkan Momentum?
- 4Prediksi Skor Juventus vs Atalanta di Serie A, 20 September 2026: Bianconeri Ingin Lanjutkan Momentum Eropa
- 5Pengumuman Resmi! Berikut Daftar Peraih Medali Emas OSN SMA Sederajat 2026, Dari Matematika hingga Inovator AI
- 6Prediksi Skor Bayer Leverkusen vs RB Leipzig di Bundesliga, 20 September 2026: Adu Momentum di BayArena
- 7Prediksi Skor Fulham vs Manchester United di Premier League, 20 September 2026: Misi The Red Devils Bangkit di Craven Cottage
- 8Prediksi Skor Bournemouth vs Liverpool di Premier League, 20 September 2026: Mampukah The Cherries Tahan The Reds?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!








