Jakarta

Bagaimana Proses Seseorang Bisa Merasakan Mimpi? Simak Penjelasannya

Hawa E. Azhari | 14 Agustus 2024, 02:00 WIB
Bagaimana Proses Seseorang Bisa Merasakan Mimpi? Simak Penjelasannya

AKURAT JAKARTA - Mimpi terjadi sebagai hasil dari aktivitas otak selama tidur, terutama selama tahap tidur yang disebut Rapid Eye Movement (REM).

Proses ini melibatkan berbagai bagian otak yang bekerja bersama-sama untuk menghasilkan pengalaman mimpi.

Berikut adalah penjelasan lebih detail tentang bagaimana seseorang bisa merasakan mimpi:

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Kebiasaan Begadang, Agar Tubuh Lebih Sehat dan Produktivitas di Esok Hari

1. Tahapan Tidur

- Tidur Non-REM (NREM): Tidur dimulai dengan tahap NREM yang terdiri dari tiga tahap, yaitu tidur ringan, tidur yang lebih dalam, dan tidur yang paling dalam.

Selama tahap ini, tubuh memperbaiki diri dan memulihkan energi, tetapi mimpi jarang terjadi.

- Tidur REM: Setelah melewati tahap NREM, tidur berlanjut ke tahap REM.

Baca Juga: 3 Dampak Buruk dari Begadang yang Sering Dilupakan Banyak Orang

Pada tahap ini, aktivitas otak meningkat hampir mendekati level saat bangun, namun otot-otot tubuh mengalami atonia (kehilangan tonus otot) yang membuat tubuh hampir sepenuhnya tidak bergerak.

Mimpi paling intens dan jelas biasanya terjadi selama tahap REM ini.

2. Aktivitas Otak Selama REM

Baca Juga: Jangan Ketinggalan, Ada Pop Up Store ISAGO di Senayan City: Catat Tanggalnya, Banyak Promo Menarik

Selama tidur REM, bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan informasi dan emosi, seperti korteks prefrontal dan amigdala, menjadi sangat aktif.

Korteks prefrontal yang bertanggung jawab atas logika dan penalaran lebih sedikit aktif selama REM, yang bisa menjelaskan mengapa mimpi sering kali tampak aneh atau tidak logis.

Hipokampus, yang terkait dengan memori, juga berperan, yang memungkinkan unsur-unsur dari pengalaman atau ingatan sehari-hari muncul dalam mimpi.

Baca Juga: Program Sekolah Swasta Gratis akan Diterapkan di Jakarta Tahun 2025, Ketua DPRD DKI: Jangan Sekolah Kualitas Kaleng-kaleng

3. Pembentukan dan Pengalaman Mimpi

Asosiasi Longgar: Karena korteks prefrontal kurang aktif, mimpi sering kali terbentuk dari asosiasi bebas antara berbagai pikiran, emosi, dan ingatan.

Ini menyebabkan mimpi sering kali tidak memiliki alur cerita yang koheren.

Visualisasi: Bagian otak yang memproses visual, terutama lobus oksipital, sangat aktif selama REM, yang membuat mimpi tampak sangat visual dan kadang-kadang terasa nyata.

Baca Juga: Waduh! Jumlah Anak Jakarta yang Terpapar Judi Online Naik 300 Persen Dibanding Tahun 2017, Data Dinas PPAPP DKI, Terbanyak di Jakarta Barat

4. Peran Neurotransmitter

Acetylcholine dan dopamine adalah neurotransmitter yang berperan penting selama tidur REM.

Acetylcholine membantu mengaktifkan daerah otak yang memungkinkan pemrosesan mimpi, sementara dopamine mungkin berkontribusi pada sensasi dan perasaan intens yang sering dirasakan dalam mimpi​.

5. Ingat atau Lupa Mimpi

Baca Juga: Musprov XIV KADIN DKI Jakarta Berjalan Tertib dan Lancar, Diana Dewi Terpilih Kembali Jadi Ketum dan Andi Anzhar Jadi Ketua Dewan Pertimbangan

Seseorang lebih mungkin mengingat mimpi jika terbangun selama atau tepat setelah tidur REM.

Jika tidak, mimpi tersebut mungkin cepat terlupakan karena otak lebih fokus pada transisi dari tidur ke bangun daripada menyimpan detail mimpi.

Kesimpulan

Baca Juga: GERCEP! Sudinsos Jaksel Beri Bantuan Kebutuhan Sehari-hari dan 3.500 Makanan Siap Saji Kepada Pengungsi Korban Kebakaran Manggarai

Mimpi adalah hasil dari kombinasi kompleks aktivitas otak selama tidur REM, termasuk pemrosesan ingatan, emosi, dan persepsi visual.

Meskipun mimpi bisa terasa sangat nyata, mereka sering kali tidak masuk akal karena bagian otak yang biasanya mengontrol logika dan realitas kurang aktif selama tahap ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.