Usai Meninggalnya Paus Fransiskus, Gereja Vatikan Bersiap Lakukan Pemilihan Paus Baru Lewat Konklaf, Begini Prosesnya

AKURAT JAKARTA - Seluruh dunia kini sedang menyorot Vatikan, usai berita duka dikumandangkan oleh otoritan Vatikan atas wafatnya pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Paus Fransiskus.
Paus Fransiskus menghembuskan nafas terakhirnya di usia 88 tahun setelah sempat dirawat di Rumah Sakit karena mengidap pneunomia ganda.
Paus wafat pada pukul 07.35 pagi waktu Vatikan dan akan dimakamkan pada hari ini di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma Italia pukul 8 malam waktu setempat.
Meninggalnya Paus Fransiskus menghadirkan kekosongan di Takhta Suci.
Oleh karenanya, Gereja Katolik Vatikan sedang bersiap untuk menjalankan pemilihan Paus baru sesuai tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Sistem Pemilihan Paus
Pada dasarnya pemilihan Paus penerus dilakukan secara tertutup dan khidmat.
Pemilihan itu berlangsung di Kapel Sistina, yang disebut sebagai Konklaf Kepausan.
Melansir dari berbagai sumber, proses ini akan dijalankan oleh Kolegium Kardinal atau petinggi di Gereja.
Dimana secara teknis, setiap pria Katolik yang telah dibaptis pada dasarnya dapat menjadi Paus.
Namun dalam sejarah mencatat, posisi ini hampir selalu diberikan kepada seorang kardinal dan tradisi itu diprediksi akan terus berlanjut.
Baca Juga: Paus Fransiskus Wafat di Usia 88 Tahun, Ini Pesan Terakhirnya
Proses Konklaf dilakukan setelah pemakaman Paus dan mereka akan berkumpul dalam suasana yang terisolasi dan tertutup tanpa akses ke luar.
Hal itu diperuntukan untuk memilih pemimpin baru bagi umat Katolik di seluruh dunia.
Biasanya Konklaf akan dimilai setelah dua atau tiga minggu selama wafatnya Paus dan memberikan waktu selama 9 hari untuk berkabung dan menerima kunjungan dari Kardinal di seluruh dunia.
Proses Pemungutan Suara dalam Konklaf Kepausan
Dalam proses pemilihan paus baru, pemungutan suara dilakukan secara rahasia oleh para kardinal di Kapel Sistina.
Setiap kardinal harus memperoleh dua pertiga suara untuk terpilih sebagai paus.
Proses ini berlangsung penuh simbol dan kerahasiaan, dengan para kardinal mendekati lukisan Penghakiman Terakhir karya Michelangelo untuk mengucap doa sebelum menjatuhkan suara.
Baca Juga: Pemerintah Indonesia Resmi Hapus Kelas BPJS, Diganti Sistem KRIS
Setelah pemungutan suara, surat suara dibakar di tungku khusus, dan dunia menanti isyarat asap.
Asap hitam berarti belum ada keputusan, sementara asap putih menandakan seorang paus baru telah terpilih.
Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi simbol yang ditunggu-tunggu oleh umat Katolik. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Anderlecht vs RB Salzburg di UEL, 6 November 2026: Adu Kuat Rekor Kandang dan Tandang
- 2Prediksi Skor NEC Nijmegen vs Omonia di UEL, 6 November 2026: Misi Menghentikan Tren Negatif di De Goffert
- 3Prediksi Skor Lillestrom vs Viktoria Plzen di UEL, 6 November 2026: Memburu Kemenangan Perdana di Norwegia
- 4Prediksi Skor Levski Sofia vs Jagiellonia di UEL, 6 November 2026: Momentum Positif Jadi Modal Kedua Tim
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Hoffenheim di UEL, 6 November 2026: Duel Tim Terpuruk di Selhurst Park
- 6Prediksi Skor Sparta Praha vs Bournemouth di UEL, 6 November 2026: Akankah Runtunan Kemenangan The Cherries Terus Berlanjut?
- 7Prediksi Skor Real Sociedad vs Lyon di UEL, 6 November 2026: Duel Sengit di Reale Arena
- 8Prediksi Skor AC Milan vs Ferencvaros di UEL, 6 November 2026: Momentum Derby Jadi Modal Rossoneri
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





