Harapan Baru Penderita Miom dan Kista Rahim Tak Lagi Harus Dikorbankan

AKURAT JAKARTA – Bagi banyak perempuan, kabar harus menjalani operasi ginekologi sering kali terdengar menakutkan.
Bayangan sayatan besar di perut, pemulihan berbulan-bulan, hingga ancaman kehilangan rahim kerap menghantui. Namun kini, paradigma itu mulai bergeser.
Di tangan dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG (K), harapan baru muncul melalui pendekatan Minimal Invasive Gynecologic Surgery (MIGS) dan teknik bedah robotik.
Baca Juga: Deteksi Dini Kanker Payudara, Kenali Gejala dan Langkah SADARI Hingga Mammogram
Metode ini memungkinkan pengangkatan miom, kista, hingga jaringan endometriosis tanpa harus mengorbankan rahim pasien.
“Banyak pasien datang dengan ketakutan bahwa operasi berarti kehilangan rahim. Padahal, lewat teknik minimal invasif, rahim bisa tetap dipertahankan. Harapan untuk menjadi ibu pun masih ada,” kata dr. Sita.
Operasi konvensional ginekologi selama ini identik dengan sayatan besar sepanjang 10–15 cm. Risiko nyeri, pendarahan, hingga pemulihan lama membuat pasien enggan.
Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Kanker Tulang, Gejala, Diagnosis dan Langkah Penanganan
Tak jarang, rahim pun diangkat dengan alasan “lebih aman”.Padahal, menurut dr. Sita, rahim memiliki nilai emosional sekaligus biologis bagi perempuan.
“Sebagai perempuan, rahim adalah simbol harapan. Jika masih bisa dipertahankan, itulah yang kami perjuangkan,” ujarnya.
Dengan MIGS, sayatan hanya 0,5–1 cm. Pasien bisa pulih dalam hitungan hari. Bahkan ada pasien yang tiga hari pascaoperasi sudah kembali bekerja ke luar negeri.
“Dulu operasi berarti absen lama. Sekarang paradigma itu berubah: operasi bisa cerdas, cepat, dan minim trauma,” tambahnya.
Miom Berhasil Diangkat
Salah satu pasien dr. Sita pernah divonis harus angkat rahim karena miom multipel. “Dia datang dengan wajah sedih, karena belum punya anak,” kenang Sita.
Lewat operasi robotik, miom berhasil diangkat tanpa harus mengorbankan rahim.
“Beberapa bulan setelah operasi, pasien itu datang lagi, kali ini dengan kabar gembira: ia hamil,” ujar Sita. Kisah itu menjadi bukti bahwa teknologi bukan sekadar alat canggih, melainkan sarana mengembalikan harapan.
Robot yang Memanusiakan
Diceritakan dr. Sita, bedah robotik yang mulai dikembangkan di Indonesia pada 2012 memberikan presisi tinggi dengan sistem 3D visualization dan pivot point system. Alat ini meminimalkan gesekan pada dinding perut, sehingga nyeri jauh berkurang.
“Robot ini membuat kami bisa mengontrol gerakan sehalus tangan manusia. Bedanya, lebih presisi, lebih stabil, dan lebih ergonomis. Bahkan dalam kasus kompleks seperti endometriosis berat, kami bisa tetap mempertahankan rahim,” jelasnya.
Tak heran, pasien tak lagi memandang operasi sebagai vonis menakutkan, melainkan pilihan rasional untuk kembali sehat tanpa kehilangan identitas kewanitaannya.
Perempuan Pertama di Tim Robotik Indonesia
Nama dr. Sita sendiri tercatat dalam sejarah sebagai dokter perempuan pertama di tim robotik Indonesia pada 2013, saat teknologi ini baru diperkenalkan di RSIA Bunda Jakarta.
Bersama dokter-dokter senior, ia menangani berbagai kasus sulit: miom multipel, kista perlengketan, hingga tumor endometriosis stadium lanjut.
“Bagi saya, ini bukan sekadar pencapaian pribadi. Saya ingin perempuan Indonesia tahu bahwa operasi ginekologi tidak selalu berarti kehilangan rahim,” katanya.
Tantangan: Teknologi yang Masih Mahal
Meski menjanjikan, teknologi robotik masih menghadapi kendala biaya. Mesin yang seluruhnya diimpor membuat tarif layanan melonjak. “Bukan karena dokter atau rumah sakit ingin mematok harga tinggi. Alatnya memang sangat mahal,” ujar Sita.
Ia berharap pemerintah bisa menyediakan fasilitas robotik di rumah sakit pemerintah.
“Minimal satu-dua unit di setiap provinsi. Supaya tidak hanya kalangan mampu yang bisa merasakan manfaatnya,” katanya.
Inovasi MIGS dan robotik bukan sekadar soal teknologi, tapi juga soal memberdayakan perempuan. Di banyak budaya Timur, perempuan sering diposisikan sebagai pihak yang salah ketika belum memiliki anak.
“Padahal, masalah kesuburan juga bisa dari laki-laki. Perempuan jangan lagi menanggung beban stigma sendirian,” ujar Sita.
Dengan operasi minimal invasif, perempuan tak hanya sembuh lebih cepat, tapi juga bisa tetap mempertahankan peluang menjadi ibu. Inilah revolusi sunyi di ruang bedah: operasi yang dulu menakutkan, kini berubah menjadi tindakan yang penuh harapan.
“Bagi saya, kesehatan perempuan adalah jantung keluarga. Dan jantung itu harus dijaga, bukan diabaikan,” kata Sita menutup perbincangan.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di La Liga, 20 September 2026: Duel Tim Kejutan di Riazor
- 2Prediksi Skor Leeds United vs Crystal Palace di Premier League, 20 September 2026: Mampukah The Whites Pertahankan Tren Positif?
- 3Prediksi Skor Villarreal vs Levante di La Liga, 20 September 2026: Mampukah El Submarino Amarillo Lanjutkan Momentum?
- 4Prediksi Skor Juventus vs Atalanta di Serie A, 20 September 2026: Bianconeri Ingin Lanjutkan Momentum Eropa
- 5Pengumuman Resmi! Berikut Daftar Peraih Medali Emas OSN SMA Sederajat 2026, Dari Matematika hingga Inovator AI
- 6Prediksi Skor Bayer Leverkusen vs RB Leipzig di Bundesliga, 20 September 2026: Adu Momentum di BayArena
- 7Prediksi Skor Fulham vs Manchester United di Premier League, 20 September 2026: Misi The Red Devils Bangkit di Craven Cottage
- 8Lowongan Kerja di MRT Jakarta Tahun 2026: Buka 19 Formasi Lulusan SMA/SMK hingga S1, Simak Syarat dan Cara Daftarnya
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




