Ribuan Siswa Keracunan dari Program MBG, IDAI Beberkan Langkah Pertolongan Cepat

AKURAT JAKARTA - Kasus keracunan akibat program makan bergizi gratis (MBG) kini tengah menjadi sorotan publik.
Data terbaru dari Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan bahwa kasus keracunan makanan ini sudah menelan korban sebanyak 4.711 orang per 22 September.
Angka tersebut membuat kasus keracunan program makan bergizi ini menjadi salah satu yang cukup serius dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Food Prep, Tren Dapur Modern yang Bikin Kamu Hemat Waktu dan Uang
Menurut BGN, ribuan korban tersebut tersebar di tiga wilayah besar.
Wilayah I Sumatra mencatat 1.281 kasus, wilayah II Jawa dengan angka tertinggi mencapai 2.606 kasus, sementara wilayah III yang meliputi Kalimantan, Bali, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Papua mencatat 824 kasus.
Tingginya jumlah ini membuat masyarakat semakin waspada akan keamanan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Baca Juga: Band Asal Jepang ONE OK ROCK Bakal Konser di Jakarta Mei 2026, Simak Lokasi dan Tanggalnya di Sini!
Dalam kondisi darurat seperti ini, sangat penting bagi kamu, terutama orang tua dan guru, untuk mengetahui langkah pertolongan pertama saat anak mengalami gejala keracunan.
Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak (ETIA) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Yogi Prawira, menegaskan bahwa tindakan cepat bisa menyelamatkan kondisi anak.
“Tentu yang pertama kita pastikan makanan atau minuman yang dicurigai ini harus dibuang, jangan dikonsumsi lagi, jangan disayang-sayang. Anak-anak yang tadi mengalami keracunan, tentu itu harus istirahat, jadi aktivitasnya itu dihentikan dulu,” jelas Yogi dalam diskusi kesehatan daring bersama IDAI, Kamis (25/9).
Baca Juga: Hari Jantung Sedunia, Mengenal Aritmia Jantung dan Upaya Pencegahan Komplikasi
Beberapa langkah pertolongan yang disarankan meliputi membuang makanan atau minuman yang diduga menjadi penyebab, menghentikan aktivitas anak agar bisa istirahat, serta mencatat setiap gejala yang muncul.
Selain itu, anak harus tetap mendapatkan asupan cairan agar tidak mengalami dehidrasi.
Jika kasus keracunan dialami lebih dari satu orang, penting untuk segera melapor agar pihak berwenang dapat melakukan pemeriksaan laboratorium.
Baca Juga: Xiaomi 17 Resmi Menggila! Bawa Baterai Jumbo dan Layar Belakang Keren, Siap Saingi iPhone 17
Yogi juga menekankan pentingnya membawa anak ke rumah sakit jika muncul tanda bahaya, seperti muntah hebat, buang air besar berdarah, demam tinggi, lemas, hingga diare lebih dari 72 jam.
Dengan langkah pertolongan yang cepat dan tepat, kondisi anak bisa tertangani lebih baik sebelum situasi berkembang menjadi fatal. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 3Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 4Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 5Prediksi Skor AC Monza vs Napoli di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Partenopei di Markas Brianzoli
- 6Prediksi Skor SC Paderborn vs Stuttgart di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Kesempatan Tuan Rumah Membalas Kekalahan
- 7Prediksi Skor Sunderland vs Brentford di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Misi Bangkit demi Tiket Perempat Final
- 8Prediksi Skor Bayer Leverkusen vs FC Nurnberg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Die Werkself Taklukan Tim Kasta Kedua dengan Mudah?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!








