Masih Sering Keliru, Ini Perbedaan Alergi dan Keracunan Makanan yang Perlu Kamu Tahu

AKURAT JAKARTA - Banyak orang masih sulit membedakan alergi makanan dan keracunan makanan.
Padahal, keduanya memiliki penyebab dan penanganan yang sangat berbeda.
Kesalahan dalam mengenali gejala bisa berakibat fatal bila tidak segera ditangani dengan benar.
Baca Juga: Netflix Rilis Deretan Film Horor Seram Sambut Halloween 2025
Meskipun sama-sama berkaitan dengan makanan, alergi makanan melibatkan sistem imun tubuh, sedangkan keracunan makanan disebabkan oleh kontaminasi kuman atau zat berbahaya.
Hal ini dijelaskan oleh Guru Besar Mikrobiologi Klinik FK-KMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, yang menegaskan pentingnya masyarakat memahami perbedaan mendasar keduanya.
“Alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh yang terjadi segera setelah mengonsumsi makanan tertentu,” ujarnya dikutip dari laman UGM, Rabu (22/10/2025).
Baca Juga: Swiss Sampai Bahama, Inilah 10 Negara dengan Biaya Hidup Tertinggi 2025
Alergi dapat dipicu oleh makanan dalam jumlah kecil dan menyebabkan gejala seperti biduran, pembengkakan saluran napas, hingga gangguan pencernaan.
Dalam kondisi berat, reaksi ini bisa memicu anafilaksis, yaitu kondisi darurat yang mengancam nyawa.
Berbeda dengan alergi, keracunan makanan terjadi karena masuknya mikroba atau racun ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi.
Gejala seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare biasanya muncul beberapa jam setelah makan.
Penyebab utamanya bisa berasal dari bakteri seperti Salmonella sp. dan Escherichia coli (E. coli) yang menginfeksi saluran pencernaan.
“Meskipun gejalanya mirip, mekanisme penyebabnya berbeda-beda tergantung jenis bakterinya,” kata Tri Wibawa.
Baca Juga: Melawan Hukum Alam, Islandia Akhirnya Kedatangan Nyamuk untuk Pertama Kalinya
Sebagian besar kasus keracunan bersifat ringan dan bisa sembuh tanpa pengobatan, tetapi jika tidak ditangani, dapat menyebabkan dehidrasi berat.
Ia menekankan pentingnya pertolongan pertama, terutama pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
“Langkah paling penting dalam pertolongan pertama adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang untuk mencegah dehidrasi,” jelasnya.
Baca Juga: Sarapan Pagi Berprotein Tinggi, Kunci Tubuh Bertenaga dan Gula Darah Stabil
Ia juga mengingatkan agar pengawasan ketat dilakukan dalam setiap tahap pengolahan makanan, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, hingga distribusi, agar kasus keracunan dapat dicegah sejak awal. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Bochum vs Mainz 05 di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Menghentikan Dominasi Tim Bundesliga?
- 3Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Hamburger SV vs Eintracht Frankfurt di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Duel Dua Tim dengan Pertahanan Rapuh
- 5Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 6Prediksi Skor Sonnenhof Grossaspach vs Augsburg di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Die Fuggerstadter
- 7Prediksi Skor Borussia Dortmund vs Werder Bremen di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah BVB Mempertahankan Dominasi?
- 8Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







