Jakarta

Jangan Sepelekan Sakit Kepala Berkepanjangan, Dokter Ungkap Bisa Jadi Gejala Tumor Otak

Winda Wahdania | 29 Juni 2026, 21:00 WIB
Jangan Sepelekan Sakit Kepala Berkepanjangan, Dokter Ungkap Bisa Jadi Gejala Tumor Otak
Ilustrasi sakit kepala.

AKURAT JAKARTA - Sakit kepala berkepanjangan sering kali dianggap sebagai keluhan biasa akibat kelelahan atau stres.

Namun, dokter spesialis bedah saraf mengingatkan bahwa kondisi tersebut juga bisa menjadi salah satu gejala tumor otak, terutama jika nyeri terus muncul dengan intensitas yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Melansir dari Antara, Dokter spesialis bedah saraf di Columbia Asia Hospital Pulomas, Jakarta Timur, Dr. Dhira Atman menjelaskan bahwa sakit kepala merupakan gejala paling umum yang dialami penderita tumor otak.

Meski demikian, pola nyeri yang ditimbulkan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan migrain maupun sakit kepala akibat ketegangan otot.

"Kalau ditanya gejala yang paling standar, ya sakit kepala. Tapi yang khas itu nyerinya akan semakin lama semakin berat, karena benjolan di dalam otak juga semakin membesar," kata Dhira di Columbia Asia Hospital Pulomas, Jakarta Timur, Senin (29/06).

Baca Juga: Resmi! Enzo Maresca Kembali ke Manchester City, Chelsea Buka Suara soal Kepergian yang Kontroversial

Dhira menerangkan bahwa migrain biasanya muncul sesekali, kemudian mereda sebelum kambuh kembali.

Sementara sakit kepala akibat ketegangan otot umumnya dipicu oleh kelelahan atau stres dan dapat membaik setelah penderita beristirahat.

Berbeda dengan kedua kondisi tersebut, sakit kepala akibat tumor otak berlangsung terus-menerus karena tekanan di dalam rongga kepala semakin meningkat seiring pertumbuhan tumor.

"Sebaliknya, kalau sakit kepala akibat tumor otak dia berlangsung terus menerus. Logikanya, barangnya di dalam kepala makin lama makin besar, jadi tekanan terhadap otak juga semakin meningkat. Jadi nyerinya semakin berat dan tidak hilang-hilang, bisa bertambah," jelas Dhira.

Selain sakit kepala, gejala yang muncul juga bergantung pada lokasi pertumbuhan tumor.

Jika tumor berkembang di bagian depan otak atau lobus frontal, penderita dapat mengalami gangguan fungsi intelektual, seperti sulit berkonsentrasi, berpikir lebih lambat, sering salah menghitung, hingga mengalami perubahan kepribadian.

"Jadi orang yang sebelumnya tenang bisa tiba-tiba menjadi emosional, mudah marah, atau sering mengajak bertengkar. Itu juga bisa menjadi salah satu gejala," ucap Dhira.

Apabila tumor menekan area otak yang mengendalikan gerakan tubuh, penderita dapat merasakan kesemutan, kelemahan otot, bahkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

Lokasi tumor menentukan bagian tubuh yang terdampak karena jalur saraf di dalam otak saling bersilangan.

Baca Juga: Barcelona Mulai Dekati Harry Kane, Transfer Sensasional Pengganti Lewandowski Berpeluang Terjadi

Sementara itu, tumor yang tumbuh di bagian belakang otak berpotensi mengganggu fungsi penglihatan.

Penderita bisa mengalami pandangan sebagian gelap, melihat bayangan hitam, kehilangan sebagian lapang pandang, hingga mengalami gangguan berbicara.

"Penderita bisa melihat bayangan hitam, sebagian gelap, ada bagian penglihatan yang hilang, gangguan mata, sulit diajak bicara juga bisa, tidak nyambung, ngelantur bahasanya," kata Dhira.

Dhira juga mengingatkan bahwa lokasi tumor yang paling berbahaya adalah batang otak. Bagian ini berfungsi mengatur berbagai fungsi vital tubuh, termasuk pernapasan dan denyut jantung.

Karena itu, tumor di batang otak terkadang tidak menimbulkan gejala yang jelas sebelum akhirnya memicu kondisi yang mengancam nyawa.

"Batang otak mengatur jantung dan paru-paru, kalau tumornya di situ, bisa saja tidak ada gejala yang jelas, tetapi tiba-tiba terjadi henti napas," ucap Dhira.

Menurutnya, tumor otak berukuran kecil juga dapat berkembang tanpa keluhan berarti sehingga banyak pasien baru memeriksakan diri ketika ukuran tumor sudah membesar dan mulai menekan jaringan otak.

Kondisi tersebut membuat penanganan, termasuk tindakan operasi, menjadi lebih rumit.

"Semakin besar ukuran tumor saat ditemukan, semakin kompleks juga tindakan operasinya," ujar Dhira.

Baca Juga: 5 Hal Penting Sebelum Memberikan Obat Sirup kepada Anak, Orang Tua Wajib Tahu

Karena itu, masyarakat diimbau tidak mengabaikan sakit kepala yang berlangsung lama, terutama bila frekuensinya semakin sering dan rasa nyerinya terus meningkat.

Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mendeteksi tumor otak lebih cepat sehingga peluang penanganan yang optimal menjadi lebih besar. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.