Jakarta

Tak Cuma Soal Kesuburan, Ini Alasan Pria Wajib Menjaga Kadar Testosteron

Yusuf Doank | 28 Juli 2026, 23:12 WIB
Tak Cuma Soal Kesuburan, Ini Alasan Pria Wajib Menjaga Kadar Testosteron
Dokter Spesialis Andrologi dari Eka Hospital BSD dan Eka Hospital Grand Family, dr. Christian Christoper Sunnu, Sp.And

AKURAT JAKARTA – Hormon testosteron selama ini kerap diidentikkan dengan sistem reproduksi dan tingkat kesuburan pria. Padahal, peran hormon ini jauh lebih luas.

Testosteron memegang kendali penting dalam menjaga stamina, konsentrasi, hingga stabilitas emosi yang berdampak langsung pada kinerja profesional serta kualitas hubungan personal.

Dokter Spesialis Andrologi dari Eka Hospital BSD dan Eka Hospital Grand Family, dr. Christian Christoper Sunnu, Sp.And, menjelaskan bahwa penurunan kadar testosteron sering kali menunjukkan gejala psikologis yang berdampak pada kehidupan sehari-hari, seperti rasa lelah berkepanjangan dan emosi yang tidak stabil.

Baca Juga: Benarkah Kista Endometriosis Bisa Menyebabkan Sulit Hamil? Ini Penjelasan Dokter

"Banyak laki-laki baru memeriksakan kadar testosteron saat menghadapi masalah kesuburan. Padahal, kadar testosteron yang optimal sangat dibutuhkan untuk mendukung energi, fokus, hingga suasana hati saat beraktivitas," ujar dr. Sunnu.

Dampak Testosteron Rendah pada Produktivitas dan Kesehatan

Selain menjaga kesehatan fungsi reproduksi dan kualitas sperma, testosteron berperan penting dalam menjaga daya pikir serta kapasitas kerja seorang pria. Kadar hormon yang seimbang membantu meningkatkan fokus, daya ingat verbal, dan vitalitas untuk beraktivitas secara aktif.

Sebaliknya, penurunan kadar testosteron dapat memicu gangguan metabolisme hingga masalah psikis. Pria yang mengalami penurunan hormon ini cenderung rentan mengalami gejolak emosi, penurunan gairah, penurunan massa otot, hingga kelelahan kronis.

Secara medis, kadar testosteron rendah yang dibiarkan tanpa penanganan juga terasosiasi dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, obesitas, hingga diabetes yang memperbesar risiko serangan jantung dan stroke.

Langkah Penanganan dan Terapi Medis

dr. Christian menegaskan bahwa ketidakseimbangan hormon ini dapat diatasi melalui penanganan medis yang tepat. Jika pemeriksaan darah menunjukkan adanya penurunan kadar testosteron, dokter spesialis andrologi dapat memberikan beberapa pilihan terapi penanganan.

Metode pengobatan yang umum dilakukan meliputi Terapi Penggantian Testosteron (TRT) dalam bentuk suntikan, gel, tempelan kulit (patch), hingga obat oral maupun pelet tanam. Selain itu, pemberian obat hormonal pendukung serta suplemen seperti Vitamin D, Zinc, dan Magnesium juga kerap direkomendasikan untuk mengoptimalkan kadar hormon.

Di samping intervensi medis, penerapan gaya hidup sehat menjadi kunci utama untuk menjaga kestabilan testosteron secara alami.

Pria disarankan rutin berolahraga minimal 150 menit seminggu—khususnya latihan beban—serta mengonsumsi makanan bergizi, mengelola stres, membatasi alkohol, dan mencukupi waktu tidur malam selama 6 hingga 8 jam.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y