Jakarta

Di Tengah Dunia yang Serba Cepat, Indonesian Dance Festival Mengajak Kita Berhenti Sejenak

Anggerhana Denni Rahmawati | 28 Oktober 2026, 21:15 WIB
Di Tengah Dunia yang Serba Cepat, Indonesian Dance Festival Mengajak Kita Berhenti Sejenak
Indonesian Dance Festival 2026 membawa isu identitas hingga perubahan sosial. - indonesiandancefestival.id

AKURAT JAKARTA - Di tengah kehidupan yang menuntut manusia bergerak cepat dan terus produktif, berhenti sejenak sering dianggap sebagai kemunduran.

Padahal, jeda dapat menjadi kesempatan untuk memahami perubahan dan menentukan arah berikutnya.

Gagasan inilah yang menjadi salah satu pesan penting dalam Indonesian Dance Festival (IDF) 2026 melalui tema Underlying Drift – Yang Bergeser di Kedalaman.

Festival tari kontemporer dua tahunan ini berlangsung di Jakarta pada 29 Oktober hingga 1 November 2026.

IDF menghadirkan pertunjukan, lokakarya, diskusi, serta program pengembangan karya yang mempertemukan seniman Indonesia dengan praktisi dari sejumlah negara.

Direktur IDF, Ratri Anindyajati, menjelaskan bahwa tema tahun ini merespons perubahan dan ketidakpastian dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari geopolitik, ekonomi, lingkungan, hingga teknologi.

“Bagi kami, tema ini tidak hanya tercermin dalam karya-karya yang dihadirkan, tetapi juga dalam cara kami menjalankan festival, yakni terus beradaptasi, merawat hubungan, dan mencari kemungkinan di tengah perubahan,” katanya.

Tari menjadi cara untuk membaca perubahan sosial

Gagasan tersebut terlihat melalui program Bentang yang mempertemukan koreografer Indonesia dan internasional.

Program ini dibuka dengan Waktu Paruh, karya terbaru koreografer Hartati, serta menghadirkan seniman Taiwan Fangas Nayaw melalui La XXX Punk II: Betel Nut Green.

Baca Juga: Film Alternatif Tak Lagi Terpusat di Jakarta, CGV Arthouse Ekspansi ke Bandung dan Yogyakarta

Dari Jepang, kelompok team chiipro membawa Menstruation Sumo Dance yang mengeksplorasi pengalaman tubuh, menstruasi, serta norma dan konstruksi sosial yang menyertainya.

Karya ini memperlihatkan bahwa tari dapat menjadi medium untuk membicarakan pengalaman tubuh yang kerap dipengaruhi oleh pandangan masyarakat.

Sementara itu, koreografer Densiel Lebang menghadirkan Konjo: Becoming Otherwise, karya yang berangkat dari riset artistik mengenai masyarakat Konjo di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

“Melalui Konjo, saya mengeksplorasi bagaimana pengetahuan dan pengalaman budaya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa artistik. Karya ini juga menjadi perjalanan penemuan diri, mulai dari identitas saya, ciri khas kapal pinisi, budaya Bulukumba, hingga pengalaman saya sebagai calon ibu,” ujar Densiel.

Karya tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dapat bertemu dengan identitas budaya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.