Krisis di Tubuh FIFA: Ini 5 Kandidat Kuat Pengganti Gianni Infantino yang Terancam Dipecat Akibat Skema Investasi Piala Dunia 2026

AKURAT JAKARTA — Masa depan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA, induk organisasi sepak bola dunia, kini berada di ujung tanduk.
Gelombang kontroversi besar melanda badan sepak bola tertinggi di dunia tersebut setelah munculnya proposal terkait pembukaan peluang investasi swasta ke dalam berbagai kompetisi resmi FIFA, termasuk turnamen paling bergengsi, Piala Dunia.
Meski rencana investasi tersebut akhirnya resmi dibatalkan, polemik yang terlanjur bergulir justru memicu penolakan masif dari sejumlah konfederasi sepak bola dunia.
Kepemimpinan Infantino kini menghadapi ujian terberat sepanjang sejarah masa jabatannya. Ia terancam dilengserkan.
Tawaran Dana Rp600 Miliar dan Isu Independensi
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proposal tersebut awalnya menawarkan dana segar sekitar 40 juta dolar AS (sekitar Rp615 miliar) kepada masing-masing dari 211 asosiasi anggota FIFA.
Dana fantastis ini disiapkan sebagai bagian dari stimulus untuk menyetujui skema investasi swasta tersebut.
Namun, alih-alih mendapat dukungan, rencana ini justru menuai kritik tajam. Mayoritas pengamat dan petinggi sepak bola menilai bahwa keterlibatan dana swasta dalam skala besar akan merusak independensi pengelolaan turnamen internasional.
FIFA dikhawatirkan akan kehilangan kendali penuh atas kompetisi-kompetisi utama mereka demi memuaskan kepentingan investor komersial.
UEFA Ancam Boikot Piala Dunia dan Hilang Kepercayaan
Penolakan paling keras dan vokal datang dari UEFA. Konfederasi Sepak Bola Eropa tersebut bahkan dikabarkan sempat mengancam akan memboikot Piala Dunia jika FIFA tetap bersikeras menjalankan proposal investasi swasta tersebut.
Bagi UEFA, langkah ini dinilai sudah mencederai nilai-nilai dasar olahraga. Secara terbuka, UEFA juga menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino.
Retaknya hubungan antara FIFA dan konfederasi terkuat di dunia ini memicu ketidakstabilan politik di internal organisasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 3Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 4Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 5Prediksi Skor AC Monza vs Napoli di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Partenopei di Markas Brianzoli
- 6Prediksi Skor SC Paderborn vs Stuttgart di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Kesempatan Tuan Rumah Membalas Kekalahan
- 7Prediksi Skor Sunderland vs Brentford di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Misi Bangkit demi Tiket Perempat Final
- 8Prediksi Skor Bayer Leverkusen vs FC Nurnberg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Die Werkself Taklukan Tim Kasta Kedua dengan Mudah?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





