Jakarta

Mengenal Topeng Betawi, Kesenian yang Kerap Disangka Lenong

Zainal Abidin | 9 Agustus 2025, 20:13 WIB
Mengenal Topeng Betawi, Kesenian yang Kerap Disangka Lenong

AKURAT JAKARTA - Di tengah gemerlapnya Jakarta, ada satu kesenian tradisional yang semakin jarang dikenal masyarakat, yakni Topeng Betawi.

Padahal, kesenian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2016 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, masuk dalam kategori Seni Pertunjukan bersama Lenong.

Topeng Betawi bukan sekadar hiburan.

Baca Juga: Masjid Tjia Khang Hoo: Harmoni Budaya Betawi dan Tionghoa di Jakarta Timur

Dahulu, kesenian ini menjadi bagian penting dari berbagai ritual atau upacara, seperti sedekah bumi, pernikahan, hingga pembayaran nazar (kawulan).

Saat ini, Topeng masih eksis dan digemari di beberapa wilayah Betawi.

Pementasan Topeng biasanya dimulai dengan tarian pengantar, lalu dilanjutkan lakon pendek.

Baca Juga: Menggali Filosofi Spiritual dalam Silat Betawi

Inilah yang sering membuat orang keliru dan menyangka pertunjukan tersebut sebagai Lenong.

Padahal, perbedaan keduanya cukup jelas. Dalam Topeng Betawi, pelakon menggunakan busana sehari-hari dan membawakan cerita kehidupan masyarakat Betawi.

Sementara Lenong menampilkan tokoh perempuan berkebaya, laki-laki berbaju pangsi, dengan cerita seputar jagoan atau legenda.

Baca Juga: Waduk Ria Rio: Spot Wisata Menenangkan di Tengah Riuh Ibu Kota

Pertunjukan Topeng diawali alunan musik tradisional yang dimainkan enam pemusik, menggunakan gendang, kecrek, rebab, kenong tiga bilah, kenceng, dan gong.

Para penari kemudian masuk ke arena dengan mengenakan kedok—tiga jenis topeng berwarna putih (Panji, melambangkan kelembutan), merah muda (Samba, melambangkan kelincahan), dan merah (Jingga, melambangkan ketegasan atau keganasan).

Uniknya, topeng ini tidak diikat, melainkan digigit penari agar mudah dilepas sesuai pergantian karakter.

Baca Juga: Masjid Tjia Khang Hoo: Harmoni Budaya Betawi dan Tionghoa di Jakarta Timur

Tari Topeng Tunggal menjadi bentuk awal dari kesenian ini, lalu berkembang menjadi beragam kreasi baru, bahkan dipadukan dengan musik gambang kromong.

Meski begitu, para seniman menegaskan pentingnya menjaga pakem—mulai dari busana, cerita, hingga alat musik tradisional.

Lebih dari sekadar tontonan, Topeng Betawi menuntut pelakunya untuk multitalenta.

Baca Juga: Sehari Menyusuri Cikini: 6 Destinasi Warisan Sejarah dan Kuliner Legendaris Jakarta

Seorang seniman tidak hanya harus pandai menari, tetapi juga memahami musik dan penghayatan peran.

Menyaksikan pertunjukan ini bukan sekadar menikmati keindahan seni, tetapi juga sebagai bentuk rasa cinta terhadap warisan budaya negeri sendiri.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.