Jakarta

Benarkah Kapal Nabi Nuh Karam di Timor? Menguak Misteri Bukit Fatukopa yang Dikeramatkan

Zainal Abidin | 28 Mei 2025, 07:00 WIB
Benarkah Kapal Nabi Nuh Karam di Timor? Menguak Misteri Bukit Fatukopa yang Dikeramatkan

AKURAT JAKARTA - Bukit Fatukopa yang terletak di Kecamatan Fatukopa, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, menyimpan sebuah kisah unik dan penuh misteri.

Bentuk puncaknya yang menyerupai perahu membuat sebagian masyarakat meyakini bahwa bukit ini adalah tempat karamnya kapal Nabi Nuh.

Legenda Bukit Fatukopa ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas budaya lokal.

Baca Juga: Menjelajahi Wisata Angker Jakarta: Sensasi Seram Tanpa Rasa Takut

Tidak heran jika legenda Bukit Fatukopa menarik minat banyak wisatawan yang ingin melihat langsung lokasi yang dianggap sakral ini.

Keunikan dari legenda Bukit Fatukopa bukan hanya terletak pada bentuknya yang menyerupai bahtera, tetapi juga pada cerita yang berkembang di kalangan masyarakat Suku Dawan.

Mereka mempercayai bahwa bukit ini merupakan situs leluhur yang sakral dan hanya bisa didaki oleh orang-orang tertentu.

Baca Juga: Mau Tinggal 10 Tahun di UEA Tanpa Ribet? WNI Bisa Dapat Golden Visa Lewat Cara Ini!

Legenda Bukit Fatukopa bahkan menyebutkan bahwa bukit ini dijaga oleh makhluk gaib berupa kuda, ular, hingga kera berwajah manusia—semua dipercaya menjaga kemurnian bukit dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Dalam tulisan ilmiah karya Christin Takain dari UKSW yang berjudul Produksi Film Dokumenter Fatukopa Karamnya Kapal Nuh di Tanah Timor, dijelaskan bahwa bentuk puncak bukit yang mirip perahu menjadi dasar dari kisah ini.

Penafsiran tersebut membuat masyarakat semakin yakin akan nilai spiritual yang terkandung di Bukit Fatukopa.

Baca Juga: Pulau Seribu: Maldives-nya Jakarta yang Tersembunyi

Tidak sembarang orang bisa mendakinya.

Diperlukan izin dari ketua adat dan ritual khusus yang harus dijalani untuk mendapatkan restu dari leluhur.

Ritual dilakukan dengan prosesi seperti pembakaran ayam kampung, menyalakan lilin, serta menuang sopi, minuman tradisional beralkohol.

Baca Juga: Menyusuri Glodok, Jantung Pecinan Tertua di Jakarta yang Penuh Warisan dan Cita Rasa

Lokasi utamanya disebut Pohon Batu Fatukopa.

Ritual ini dipimpin oleh usif, atau pemimpin adat, yang dipercaya menjadi penghubung dengan dunia leluhur.

Bila ritual tidak dilakukan, pendaki bisa mengalami celaka atau bahkan tersesat dan tak pernah mencapai puncak.

Baca Juga: Cuma di Schooliday KAI, Dapatkan Promo Tiket Kereta Api Hingga 20% dan Hadiah Menarik Selama Musim Liburan

Terlepas dari kisah spiritual dan kepercayaan yang menyelimuti legenda Bukit Fatukopa, hal ini justru menjadi mekanisme pelestarian lingkungan yang alami.

Bukit masih hijau dan asri karena aturan adat yang melarang eksploitasi berlebihan.

Ekosistem terjaga, flora dan fauna hidup berdampingan tanpa gangguan dari manusia.

Baca Juga: Tradisi Sakral Suku Tengger Kembali Digelar, Bromo Akan Ditutup Sementara Selama 4 Hari, Cek Tanggalnya Berikut Ini

Bagi wisatawan yang penasaran, Bukit Fatukopa bisa dilihat dari Bukit Besteke yang menjadi lokasi kemah favorit.

Rute perjalanannya cukup panjang: dari Jakarta terbang ke Kupang, dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Soe, dan diteruskan ke Bukit Besteke.

Meski berkemah di Besteke tidak dikenai biaya, pengunjung harus membawa perlengkapan sendiri dan siap menghadapi medan yang cukup menantang.

Baca Juga: Yuk! Liburan Sekolah di Jakarta Sambil Nonton Pertunjukan Musikal Keluarga Cemara, Cek Lokasi, Tanggal dan Harga Tiketnya di Sini

Jika kamu mencari tempat wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna budaya dan spiritual, Bukit Fatukopa adalah jawabannya.

Namun ingat, di balik keindahannya tersimpan pesan: hormatilah adat, dan alam akan menjagamu. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.