Mengenal Topeng Betawi, Kesenian yang Kerap Disangka Lenong

AKURAT JAKARTA - Di tengah gemerlapnya Jakarta, ada satu kesenian tradisional yang semakin jarang dikenal masyarakat, yakni Topeng Betawi.
Padahal, kesenian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2016 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, masuk dalam kategori Seni Pertunjukan bersama Lenong.
Topeng Betawi bukan sekadar hiburan.
Baca Juga: Masjid Tjia Khang Hoo: Harmoni Budaya Betawi dan Tionghoa di Jakarta Timur
Dahulu, kesenian ini menjadi bagian penting dari berbagai ritual atau upacara, seperti sedekah bumi, pernikahan, hingga pembayaran nazar (kawulan).
Saat ini, Topeng masih eksis dan digemari di beberapa wilayah Betawi.
Pementasan Topeng biasanya dimulai dengan tarian pengantar, lalu dilanjutkan lakon pendek.
Baca Juga: Menggali Filosofi Spiritual dalam Silat Betawi
Inilah yang sering membuat orang keliru dan menyangka pertunjukan tersebut sebagai Lenong.
Padahal, perbedaan keduanya cukup jelas. Dalam Topeng Betawi, pelakon menggunakan busana sehari-hari dan membawakan cerita kehidupan masyarakat Betawi.
Sementara Lenong menampilkan tokoh perempuan berkebaya, laki-laki berbaju pangsi, dengan cerita seputar jagoan atau legenda.
Baca Juga: Waduk Ria Rio: Spot Wisata Menenangkan di Tengah Riuh Ibu Kota
Pertunjukan Topeng diawali alunan musik tradisional yang dimainkan enam pemusik, menggunakan gendang, kecrek, rebab, kenong tiga bilah, kenceng, dan gong.
Para penari kemudian masuk ke arena dengan mengenakan kedok—tiga jenis topeng berwarna putih (Panji, melambangkan kelembutan), merah muda (Samba, melambangkan kelincahan), dan merah (Jingga, melambangkan ketegasan atau keganasan).
Uniknya, topeng ini tidak diikat, melainkan digigit penari agar mudah dilepas sesuai pergantian karakter.
Baca Juga: Masjid Tjia Khang Hoo: Harmoni Budaya Betawi dan Tionghoa di Jakarta Timur
Tari Topeng Tunggal menjadi bentuk awal dari kesenian ini, lalu berkembang menjadi beragam kreasi baru, bahkan dipadukan dengan musik gambang kromong.
Meski begitu, para seniman menegaskan pentingnya menjaga pakem—mulai dari busana, cerita, hingga alat musik tradisional.
Lebih dari sekadar tontonan, Topeng Betawi menuntut pelakunya untuk multitalenta.
Baca Juga: Sehari Menyusuri Cikini: 6 Destinasi Warisan Sejarah dan Kuliner Legendaris Jakarta
Seorang seniman tidak hanya harus pandai menari, tetapi juga memahami musik dan penghayatan peran.
Menyaksikan pertunjukan ini bukan sekadar menikmati keindahan seni, tetapi juga sebagai bentuk rasa cinta terhadap warisan budaya negeri sendiri.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 3Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 4Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 5Prediksi Skor AC Monza vs Napoli di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Partenopei di Markas Brianzoli
- 6Prediksi Skor SC Paderborn vs Stuttgart di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Kesempatan Tuan Rumah Membalas Kekalahan
- 7Prediksi Skor Sunderland vs Brentford di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Misi Bangkit demi Tiket Perempat Final
- 8Prediksi Skor Bayer Leverkusen vs FC Nurnberg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Die Werkself Taklukan Tim Kasta Kedua dengan Mudah?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




